Petugas Temukan Pemalsuan Tasrih Masuk Raudhah, Begini Kronologinya

Merdeka.com - Merdeka.com - Tingginya antusias jemaah masuk Raudhah dimanfaatkan oknum tertentu untuk melakukan perbuatan kriminal. Seorang mukimin atau warga Indonesia yang sudah lama menetap di Arab Saudi ketahuan memalsukan tasrih (surat izin) masuk ke Raudhah.

Seperti diketahui, sejak pandemi melanda, Arab Saudi memberlakukan pendaftaran secara digital untuk jemaah yang ingin masuk ke Raudhah, di Masjid Nabawi. Salah satunya lewat aplikasi yang bisa digunakan yakni eatmarna. Jemaah tinggal mengisi nomor paspor dan visa, lalu tanggal dan jam masuk Raudhah didapat.

Selain lewat aplikasi eatmarna, masuk Raudhah juga bisa dilakukan dengan menggunakan tasrih. Tasrih berisi nama jemaah yang sebelumnya sudah diinput secara kolektif lewat e-hajj.

Kepala Daerah Kerja Madinah, Amin Handoyo mengatakan, pelaku memalsukan tasrih milik jemaah Indonesia yang sudah dicetak manual.

"Bentuk pemalsuannya dari sisi tanggal dan jam untuk kepentingan beberapa orang untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan yang melakukan juga orang Indonesia," kata Amin kepada Media Center Haji (MCH) di Madinah, Selasa (21/6).

Amin menceritakan modus yang pakai pelaku untuk meloloskan jemaahnya masuk Raudhah. Kecurigan muncul ketika sekumpulan jemaah haji Indonesia yang mengantre masuk Raudhah tetapi bukan didampingi petugas resmi dari PPIH.

Kecurigaan itu kemudian didalami. Belakangan diketahui, jemaah tersebut masuk Raudhah menggunakan tasrih yang dipalsukan. Pelaku diduga sering melayani jemaah umrah. Itu sebabnya, dia memanfaatkan kedekatan dengan penjaga dari Saudi untuk melancarkan kecurangannya.

"Sudah memiliki kedekatan dan punya trik untuk melunakkan orang-orang dan petugas orang-orang di situ. Khusunya petugas perempuan (Abla)," katanya.

Amin belum tahu apakah ada tarif tertentu dimintakan ke jemaah setelah masuk Raudhah dengan tasrih palsu. Tetapi dipastikan, tasrih palsu itu telah meloloskan lebih kurang 100 orang jemaah.

"Tapi kalaupun tidak menarik tarif, akan mengganggu yang lain. Kalaupun jemaahnya mau, penarikan tarif itu kan suatu penyimpangan yang menyebabkan masalah bagi jamaah lain," tegas Amin.

Sanksi Teguran

Kasus ini masih terus didalami kantor misi haji di Madinah. Meski sudah mengetahui pelakunya, sambung Amin, sejauh ini pihak PPIH belum akan menindaklanjuti ke kepolisian Saudi. Pertimbangannya pelaku adalah mukimin, meskipun yang dilakukannya sangat menyalahi aturan.

"Kalau pemerintah Arab Saudi tahu pasti kena sanksi karena kriminal. Tapi apakah kita akan melaporkannya, kita akan lihat-lihat dulu karena ini warga negara kita. Kita masih teguran. Kita belum melaporkan ke otrotias Saudi," katanya.

Sanksi dilayangkan seksi bimbingan ibadah dengan menegur kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) yang menaungi jemaah pengguna tasrih palsu. Amin menekan, jangan sampai demi kepuasan sejumlah pihak, kemudian membuat kesulitan dan berdampak luas pada pihak lainnya.

Amin sangat berharap jemaah patuh dan tertib mengikuti aturan ditetapkan panitia dalam setiap aktivitas ibadah haji. Termasuk mengikuti proses antre menggunakan tasrih untuk masuk Raudhah.

"Karena kan manusia tamak, sudah bisa satu pengen berikutnya. Sebenarnya itu hak mereka tapi ketika itu menutup hak orang lain kan menjadi masalah," kata Amin mengakhir. [eko]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel