Pfizer/BioNTech mengajukan izin penggunaan darurat vaksin corona pada Jumat

·Bacaan 1 menit

Washington (AFP) - Pfizer dan mitranya BioNTech mengonfirmasi bahwa mereka akan mengajukan izin penggunaan darurat untuk vaksin virus corona pada Jumat.

Itu membuat perusahaan tersebut menjadi yang pertama di AS yang melakukan hal itu di saat pandemi meluas di seluruh dunia.

Pengumuman tersebut telah diperkirakan selama beberapa hari setelah perusahaan mengatakan bahwa studi lengkap uji coba produk menunjukkan 95 persen efektif dalam melindungi orang dari infeksi.

Pengumuman itu juga mengkonfirmasi apa yang dikatakan CEO BioNTech kepada AFP Kamis.

"Pengajuan di AS merupakan tonggak penting dalam perjalanan kami untuk mengirimkan vaksin COVID-19 ke dunia dan kami sekarang memiliki gambaran yang lebih lengkap tentang profil kemanjuran dan keamanan vaksin kami, memberi kami keyakinan akan potensinya," kata CEO Pfizer Albert Bourla.

Vaksin tersebut telah dievaluasi selama berminggu-minggu di Uni Eropa, Australia, Kanada, Jepang dan Inggris, kata perusahaan tersebut.

"Perusahaan akan siap mendistribusikan kandidat vaksin dalam beberapa jam setelah otorisasi," kata pernyataan mereka.

Badan Pengawas Obat dan Makanan belum mengatakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari data vaksin, tetapi pemerintah mengharapkan untuk memberikan lampu hijau pada vaksin tersebut dalam dua minggu pertama bulan Desember.

Uni Eropa juga dapat segera menggunakan vaksin Pfizer-BioNTech, mungkin paling cepat pada paruh kedua bulan Desember, menurut Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Mengikuti kemajuan perusahaan ini adalah vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi lain, Moderna, yang mengatakan bahwa produknya juga efektif sekitar 95 persen.

Kecepatan pengembangan vaksin saat pandemi mendatangkan malapetaka di seluruh dunia belum pernah terjadi sebelumnya. Selama dekade terakhir, vaksin yang diotorisasi di AS membutuhkan waktu rata-rata delapan tahun untuk dikembangkan.

Pemerintah AS mengatakan berencana untuk memvaksinasi lebih dari 20 juta orang pada bulan Desember, dan kemudian 25-30 juta lagi per bulan.