Pfizer-BioNTech Mulai Uji Coba Vaksin COVID-19 untuk Wanita Hamil

Dusep Malik, Dinia Adrianjara
·Bacaan 1 menit

VIVAPfizer dan BioNTech memulai studi internasional melibatkan 4.000 sukarelawan, untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas vaksin COVID-19 pada wanita hamil yang sehat.

Wanita hamil berisiko lebih tinggi mengalami gejala COVID-19 yang lebih parah. Banyak pejabat kesehatan masyarakat merekomendasikan beberapa wanita dalam profesi berisiko tinggi, untuk menggunakan vaksin virus corona, bahkan tanpa bukti apakah vaksin itu aman untuk mereka.

Dikutip dari Channel News Asia, pada Jumat 19 Febaruari 2021, dijelaskan bahwa pekan lalu, Institut Kesehatan nasional Amerika Serikat menyerukan agar wanita hamil dan menyusui, lebih banyak dimasukkan dalam penelitian vaksin COVID-19.

Ahli bioetika, vaksin dan ahli kesehatan ibu telah berdebat selama bertahun-tahun bahwa wanita hamil harus diikutsertakan di awal uji coba vaksin pandemik, sehingga mereka tidak perlu menunggu lama setelah ada vaksin yang berhasil dibuat.

Namun demikian, kategori wanita hamil dikeluarkan dari uji coba besar AS yang digunakan untuk mendapatkan otorisasi penggunaan darurat vaksin COVID-19.

Para pembuat obat mengatakan mereka perlu untuk memastikan terlebih dahulu, apakah vaksinnya aman dan efektif secara lebih umum. Di AS, pembuat peraturan mewajibkan pembuat obat untuk melakukan studi keamanan pada hewan yang sedang hamil, sebelum diuji pada manusia atau wanita hamil, untuk memastikan apakah vaksin itu membahayakan janin atau menyebabkan keguguran.

Studi baru ini akan menguji wanita hamil berusia 18 tahun ke atas di Amerika Serikat, Kanada, Argentina, Brasil, Chili, Mozambik, Afrika Selatan, Inggris, dan Spanyol.

Mereka akan menerima vaksin selama minggu ke 24-34 kehamilan, mendapatkan dua suntikan dengan jarak 21 hari.

Tak lama setelah melahirkan, peserta yang mendapat plasebo dalam uji coba akan diberi kesempatan untuk mendapatkan vaksin yang sebenarnya, sambil tetap menjadi bagian dari penelitian.