Pfizer Indonesia Luncurkan Program Bantuan Pasien & Edukasi Masyarakat

·Bacaan 4 menit

VIVA – Dukungan sektor swasta dan kesadaran masyarakat berperan penting dalam pengendalian Resistensi Antimikroba (AMR) di Indonesia. Diperlukan kontribusi dari seluruh stakeholder kesehatan terkait dalam menerapkan tata laksana penggunaan antibiotik yang lebih baik di fasilitas kesehatan.

Dukungan komunitas pasien yang berjalan sinergis dan saling melengkapi juga sangat diperlukan untuk mengatasi tantangan AMR yang kian kompleks di era pandemi. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dengan rekomendasi dokter (overuse & misuse) merupakan salah satu penyumbang terbesar angka AMR di dunia kesehatan.

Berdasarkan data WHO, penggunaan antibiotik meningkat 91% secara global dan meningkat 165% di negara-negara berkembang pada periode 2000-2015 sehingga menjadikan AMR salah satu dari sepuluh ancaman kesehatan global yang paling berbahaya di dunia.

Meskipun situasi AMR di masing-masing kawasan berbeda, tetapi Asia merupakan kawasan yang memiliki prevalensi AMR yang tinggi sehingga dalam KTT Menteri Luar Negeri ASEAN plus Tiga ke21 di Vietnam beberapa waktu lalu, disepakati perlunya upaya bersama mengatasi AMR.

Dokter spesialis penyakit dalam dan Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi RSUD Dr. Soetomo, Dr. dr. Erwin Astha Triyono, Sp.PD, K-PTI pun turut mengemukakan sejumlah hal terkait hal tersebut.

“Masih perlu upaya bersama untuk mengendalikan penggunaan antibiotik. Budaya menggunakan antibiotik yang bijak perlu ditunjang sistem promosi dan edukasi yang berkelanjutan. Jumlah tenaga ahli mikrobiologi atau patologi klinik perlu ditambah dan didistribusi secara merata di seluruh wilayah Indonesia,” ujar dr. Erwin Astha Triyon .

“Kelengkapan alat-alat mikrobiologi dan standarisasi nasional serta keteraturan melakukan update pola resistensi kuman sangat diperlukan. Revisi tata laksana penggunaan antibiotik juga perlu dilakukan secara berkala,” lanjutnya.

Dokter Erwin pun menambahkan, “Dari sisi masyarakat, masih terdapat persepsi bahwa setiap penyakit harus menggunakan obat atau antibiotik, padahal banyak penyakit infeksi khususnya yang disebakan oleh virus sebenarnya bersifat self-limiting disease, sehingga lebih banyak memerlukan istirahat dan nutrisi yang baik. Banyak pasien berusaha mengobati penyakitnya sendiri dan bahkan membeli obat termasuk antibiotik di apotek dan setelah penyakitnya memburuk, baru berkonsultasi ke dokter atau layanan kesehatan,” jelasnya.

“Selain meningkatkan peran semua pihak, termasuk pemerintah (dalam hal ini lintas kementerian) serta swasta untuk mendukung program pengendalian resistensi antibiotik, peningkatan implementasi program di semua fasilitas kesehatan juga penting untuk dilakukan,” tambah dokter Erwin.

Vida Parady, mewakili Yayasan Orangtua Peduli (YOP), mengatakan, “Resistensi antibiotik merupakan krisis kesehatan dunia, bahkan disebut sebagai silent pandemic. Namun, banyak pihak belum peduli akan dampak resistensi antibiotik. Masih sering ditemukan tenaga kesehatan yang meresepkan antibiotik pada penyakit karena infeksi virus,” lanjutnya.

Di sisi lain, masyarakat berpikir antibiotik dapat mencegah sakit menjadi lebih berat. Semua pihak bertanggung jawab untuk menekan laju resistensi antimikroba. “Kami berharap pemerintah menerapkan peraturan dengan lebih tegas, misalnya melarang toko obat atau apotek menjual antibiotik tanpa resep,” ujar Vida.

Penyedia layanan kesehatan kami harap dapat menekan peresepan antibiotik broad spectrum yang tidak rasional. Pasien pun dapat meredam peresepan antibiotik yang tidak rasional dengan memahami strategi berdiskusi dengan tenaga kesehatan yang meresepkan antibiotik untuk penyakit akibat infeksi virus.

“Perusahaan farmasi juga perlu mendorong tenaga kesehatan dan konsumen untuk menggunakan antibiotik secara tepat guna sambil terus meningkatkan upaya R&D untuk mencegah kita semua kembali ke era pra-antibiotik,” ujar Vida.

Sejak 2003, YOP telah berupaya meningkatkan literasi konsumen mengenai penggunaan antibiotik yang bijak melalui berbagai strategi. Salah satunya dengan kegiatan edukasi rutin yang disebut Program Edukasi Kesehatan Anak untuk Orang Tua (PESAT). PESAT telah dilaksanakan di Jakarta maupun di banyak kota lain, dari Aceh hingga Papua.

Sejak tahun 2012, YOP bekerja sama dengan ReAct - Action on Antibiotic Resistance untuk melaksanakan program Bijak Antibiotik (Smart Use of Antibiotics/SUA) di Indonesia dengan, antara lain, meminta konsumen kesehatan tidak menggunakan antibiotik untuk 2 penyakit akibat infeksi virus, yaitu batuk pilek dan diare tanpa darah.

Respon Pfizer Handoko Santoso selaku Medical Director Pfizer Indonesia, Cluster Medical Lead – Indonesia, Singapura dan Pakistan, menjelaskan bahwa Pfizer mendukung program dan strategi One Health yang disuarakan komunitas kesehatan Indonesia dan dunia internasional.

“Pfizer secara konsisten berupaya untuk memberikan kontribusi nyata dalam upaya mengatasi Resistensi Antimikroba melalui dukungan terhadap tatalaksana pemberian antibiotik yang tepat bagi para tenaga kesehatan profesional dan manajemen rumah sakit melalui programprogram penguatan kapasitas dan aktivitas edukasi yang bersifat ilmiah dan nonpromosional,” ungkap Handoko Santoso.

Selama beberapa tahun terakhir, Pfizer menyadari peran serta sektor swasta termasuk pelaku industri farmasi diperlukan untuk menyukseskan Antibiotic Stewardship Program (ASP) di Indonesia.

Pada tahun 2018, Pfizer berkontribusi pada peluncuran Panduan Praktik Klinis tentang Complicated Intra-Abdominal Infection dari Perspektif Indonesia. Ini merupakan pedoman klinis yang dikembangkan melalui kemitraan dengan perhimpunan medis terkait.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel