Pfizer optimistis vaksin COVID-19 masih mungkin pada 2020

·Bacaan 2 menit

New York (AFP) - Eksekutif Pfizer pada Selasa menyatakan optimisme terukur atas prospek penyediaan vaksin COVID-19 pada 2020 bahkan ketika mereka mengisyaratkan data penting vaksin tersebut tidak akan dirilis sebelum pemilu AS.

Kepala Eksekutif Pfizer, Albert Bourla, mengatakan raksasa obat itu mampu memasok sekitar 40 juta dosis di Amerika Serikat pada 2020 jika uji klinis berjalan seperti yang diharapkan dan regulator menyetujui vaksin tersebut.

"Jika semua berjalan mulus, kami akan siap menyalurkan jumlah dosis awal," kata Bourla, yang mengacu pada kontrak pemerintah AS untuk Pfizer terkait penyediaan 40 juta dosis pada akhir tahun ini dan 100 juta dosis pada Maret 2021.

Namun, Bourla mengatakan perusahaan masih belum mencapai tolok ukur utama dalam menilai keampuhan vaksin.

Pfizer sebelumnya mengatakan akan mengantongi data pada Oktober, yang mungkin telah memajukan proses menjelang pilpres 3 November.

"Kami mencapai mil terakhir di sini," kata Bourla. "Jadi mari kita semua bersabar demi sesuatu yang sangat penting bagi kesehatan masyarakat dan ekonomi global."

Menurutnya, perusahaan berharap dapat mengajukan izin penggunaan darurat vaksin COVID-19 pada minggu ketiga November, kurang lebih sejalan dengan jadwal sebelumnya.

Saat ditanya apakah ia "optimistis" bahwa vaksin tersebut akan efektif, Bourla menjawab: "Saya sangat optimistis bahwa vaksin itu akan berhasil."

Pfizer melaporkan penurunan laba 71 persen menjadi 2,2 miliar dolar AS pada kuartal terakhir. Namun, periode yang sama tahun lalu mencakup keuntungan besar yang terkait dengan transaksi.

Pendapatan juga anjlok empat persen menjadi 12,1 miliar dolar AS, meleset dari perkiraan analis.

Pfizer memperkirakan pendapatan akan mencapai 500 juta dolar AS sehubungan dengan COVID-19, sebab rendahnya permintaan obat di China dan lebih sedikit kunjungan pasien rumah sakit di negara tersebut.

Perusahaan mengalami penurunan 11 persen dalam bisnis rumah sakit di pasar negara berkembang, terutama karena lebih sedikit operasi elektif di China dan lebih singkat durasi rawat inap rumah sakit di negara tersebut.

Efek ini sebagian diimbangi oleh peningkatan permintaan vaksin Prevnar-13 untuk pneumonia "yang muncul dari kesadaran vaksin yang lebih besar untuk penyakit pernapasan," menurut perusahaan.

Pfizer juga mengutip performa yang kuat dalam bisnis biofarma karena meningkatnya penjualan untuk obat kanker Ibrance, antikoagulan Eliquis serta obat-obatan lainnya.

Produsen obat saingannya, Merck, juga sedang mengembangkan vaksin COVID-19, namun masih dalam tahap lebih awal dibandingkan dengan Pfizer.

Merck mengklaim salah satu calon vaksin COVID-19 telah memasuki pengembangan tahap 1 dan calon vaksin kedua akan mencapai tahapan yang sama dalam waktu dekat.

Merck melaporkan lonjakan pendapatan kuartal 55 persen menjadi 2,9 miliar dolar AS, dengan kenaikan pendapatan satu persen menjadi 12,6 miliar dolar AS.

Saham Pfizer turun 1,3 persen menjadi 37,43 dolar AS, sementara Merck turun 1,1 persen menjadi 77,99 dolar AS.