PHK Industri Tekstil, Sri Mulyani: Ada Fenomena Pabrik Pindah ke Daerah Upah Rendah

Merdeka.com - Merdeka.com - Ancaman resesi global sudah mulai terasa di Tanah Air. Wakil Ketua Umum Apindo, Bob Azam menyampaikan, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) sudah terjadi pada industri tekstil dan sepatu. Khususnya untuk ekspor ke negara-negara di Eropa.

"Itu resesi dunia yang berdampak ke Indonesia terutama ekspor ke Eropa," ujar Bob Azam kepada Merdeka.com, Rabu (2/11) kemarin.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah akan melihat potensi dari relokasi pabrik-pabrik. Mengingat infrastruktur di Indonesia khususnya Pulau Jawa sudah saling terhubung.

Begitu juga dengan infrastruktur antar pulau Jawa yang sekarang ini makin terhubung. Selain itu, di sektor manufaktur sekarang ini muncul fenomena relokasi pabrik ke wilayah-wilayah dengan upah yang relatif lebih rendah.

"Kami akan perhatikan lebih detail relokasi dari posisi manufaktur di Indonesia. Terutama dari daerah yang relatif upahnya tinggi ke daerah yang relatif upahnya rendah," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) secara virtual, Kamis (3/11).

Sehingga ini mungkin terlihat ada PHK massal di satu daerah, tetapi muncul kesempatan daerah lain. "Kita akan teliti sectoral dan daerahnya, karena mungkin akan ada nuansa berbeda," katanya.

Kinerja Ekspor

Sri Mulyani mengatakan, kinerja ekspor produk tekstil dan alas kaki Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan yang positif pada bulan September 2022

"Kalau kita lihat buat pabrik tekstil ini dari data ekspor masih menunjukkan pertumbuhan yang tinggi," kata Sri Mulyani.

Dia membeberkan, ekspor pakaian dan aksesoris rajutan tumbuh 19,4 persen. Lalu ekspor pakaian dan aksesoris non rajutan tumbuh lebih tinggi yakni 37,5 persen. Begitu juga dengan ekspor alas kaki yang juga tumbuh 41,1 persen.

"Jadi dalam hal ini produk-produk tekstil ini masih cukup tinggi," kata dia.

Dalam situasi ekonomi yang sekarang ini, kata dia pemerintah akan mendorong para eksportir untuk mencari pasar baru dari negara-negara yang mengalami perlambatan ekonomi. Misalnya di Asia Selatan seperti India yang bisa menjadi alternatif. Namun akan tetap melihat dari sisi kemampuan risiko globalnya ketika negara-negara maju mengalami perlambatan ekonomi.

"Kita akan terus mendorong dan menggunakan instrumen vechile pii untuk mendorong diversifikasi dari destinasi ekspor juga," kata dia. [idr]