Piala Dunia U-20 1979, Saat Pelatih Argentina Sebut Pemain Timnas Indonesia Ngebut tapi Tak Berirama

·Bacaan 3 menit

Bola.com, Jakarta - Stadion Omiya, Tokyo, 29 Agustus 1979 dipenuhi 15 ribu penonton saat Timnas Indonesia bertanding melawan Argentina pada pertandingan kedua Grup B Piala Dunia U-20 1979.

Argentina mendapat banyak sorotan. Tak lain karena membawa Diego Maradona dalam ajang untuk pemain muda itu.

Kebintangan Maradona waktu itu sudah tercium. Media-media di Jepang telah memberi label “Keajaiban dalam Sepak Bola”, “Pele Berikutnya”, “Si Ajaib Maradona”, dan “Bintang Baru Argentina”.

“Di Tokyo membuat cerita, di Buenos Aires berpesta. Maradona akan menjadi sejarah Argentina,” demikian editorial Goles edisi September 1979.

Indonesia pun ketularan tenar. Skuad Merah Putih tiba-tiba menjadi perbincangan. Namun, Timnas Indonesia kebobolan 16 gol tanpa balas dari tiga pertandingan di Tokyo. Melawan Argentina, Indonesia kalah 0-5. Maradona mencetak dua gol dalam duel itu.

Pelatih Timnas Argentina kala itu, Cesar Luis Menotti, memberikan sebuah catatan dari permainan Timnas Indonesia.

"Indonesia memiliki kecepatan yang menjadi satu di antara basic permainan sepak bola," kata Menotti kepada wartawan Kompas, TD Asmadi, dikutip dari Tabloid BOLA.

Menurut Menotti, hanya kecepatan saja yang unggul dari Timnas Indonesia. Bambang Nurdiansyah dkk. masih kalah dalam ritme permainan, sehingga kecepatan itu menjadi sia-sia.

Woi, Cing! Jangan Lihat Maradona Terus!

Timnas Indonesia - Piala Dunia U-20 1979 (Bola.com/Adreanus Titus)
Timnas Indonesia - Piala Dunia U-20 1979 (Bola.com/Adreanus Titus)

Seperti dilansir Kompas edisi 9 Agustus 1979, di markas besar FIFA, Zurich, Swiss, Havelange melalui siaran pers yang disebarkan ke 16 negara peserta, mengatakan bahwa Indonesia akan mendapat pengalaman luar biasa berlaga di Piala Dunia U-20 1979 di Jepang.

Havelange tidak menyebutkan posisi Indonesia sebagai pengganti Korea Utara yang mengundurkan diri. Indonesia disebut telah mengalahkan Yordania dan Malaysia di Piala Asia Junior 1978 di Dhaka, Bangladesh.

“Pengalaman luar biasa itu amat berharga untuk menghadapi turnamen-turnamen lainnya di masa mendatang,” ujar Havelange.

Bagi pemain Indonesia, pengalaman itu memang luar biasa. Pemain masih sangat mengenangnya hingga sekarang. Satu di antara cerita yang berkesan ialah dari Bambang Nurdiansyah.

Saat hari H pertandingan melawan Argentina. Timnas Indonesia masuk terlebih dahulu ke lapangan dan melakukan pemanasan. Saat pemanasan tim Indonesia sedang berlangsung, tim Argentina mulai masuk lapangan. Sang mega bintang, Maradona berlari lebih dahulu masuk lapangan sambil membawa bola.

"Maradona dan tim Argentina masuk, saat kami sedang pemanasan. Maradona masuk terlebih dahulu. Setelah memberikan hormat kepada penonton, Maradona menendang bola ke atas dan saat bola ke bawah dia sambut dengan kakinya dan bola itu memutar saja di kakinya. Kami yang sedang pemanasan langsung terhenti dan menonton aksi Maradona itu," ujar Bambang.

"Kami baru sadar saat pelatih Almarhum Sutjipto Suntoro berteriak mengingatkan kami. Woi cing! kalian ngapain malah lihatin orang, ayo teruskan pemanasan, begitu kata pelatih dan kami pun melanjutkan pemanasan," kata Banur.

Diskusi Sutjipto Suntoro dan Menotti

Timnas Indonesia 1970-an bersama Presiden RI Kedua Soeharto, Sucipto Suntoro (nomor dua dari kanan setengah membungkuk). (Repro dokumen pribadi)
Timnas Indonesia 1970-an bersama Presiden RI Kedua Soeharto, Sucipto Suntoro (nomor dua dari kanan setengah membungkuk). (Repro dokumen pribadi)

Meski sangat menakuti Argentina, Indonesia cukup dekat dengan negara itu. Sutjipto Suntoro, pelatih Indonesia, seperti dilansir Kompas edisi 28 Agustus 1979, juga berdiskusi dengan Menotti.

Ia bahkan meminta nasehat Menotti untuk melawan Polandia. Strategi kontra Polandia tersebut dikenal dengan strategi angin puyuh. Sayangnya, Indonesia harus kebobolan 11 gol lagi di tangan Polandia (6-0) dan Yugoslavia (5-0). Meski demikian, bagi seluruh pelaku saat itu, melawan Maradona adalah salah satu momen terindah sepanjang karier.

Setelah perhelatan itu, mayoritas pemain naik level ke Timnas Indonesia senior, di antaranya Bambang Nurdiansyah, Subangkit, Budhi Tanoto, Arief Hidayat, dan Endang Tirtana.

“Saya minder ketika diminta mengawal Maradona, tapi sempat bingung juga karena wajah pemain Argentina itu mirip-mirip. Cerita lucu lagi, waktu pemanasan, kami-kami ini malah berebut minta berfoto bareng,” demikian kenang Mundari Karya.

Video