Piala Dunia U-20 2021 Batal, Kasus Jual Beli Manajer Timnas Apa Kabar?

Robbi Yanto
·Bacaan 4 menit

VIVA – Piala Dunia U-20 2021 resmi dibatalkan. FIFA mengumumkannya pada Kamis 24 Desember 2020 bersamaan dengan pembatalan Piala Dunia U-17 2021 yang rencananya akan digelar di Peru.

Biro Dewan FIFA dalam pernyataanya, sekaligus menunjuk Indonesia dan Peru sebagai tuan rumah edisi 2023. Ya, sebelum FIFA memutuskan demikian, isu-isu pembatalan itu memang sudah kencang berhembus.

Hal ini tak lepas dari situasi pandemi virus Corona COVID-19 yang tak kunjung mereda. Dan itu berdampak pada pembatasan perjalanan internasional.

Keputusan pembatalan Piala Dunia U-20 menambah kabar buruk bagi sepakbola Indonesia. Beberapa hari sebelum pengumuman FIFA, sepakbola Indonesia digoyang isu tak sedap.

Diduga ada praktik jual beli jabatan manajer Timnas Indonesia U-19 yang nantinya bakal manggung di Piala Dunia U-20. Kabar tersebut pertama kali berhembus dalam tulisan wartawan sepakbola senior Joseph Erwiyantoro di media sosial.

Bagai api yang melalap kayu bakar, isu itu dengan cepat meluas dan menghebohkan. Erwiyantoro mengklaim tidak asal dan mengaku punya semua bukti-bukti atas apa yang ia tulis.

Ya, dia memang sering mengkritisi kebijakan-kebijakan PSSI lewat tulisan-tulisannya. Hingga kemudian tersebar luas di media sosial.

Ada juga kwitansi yang dia sebut sebagai bukti penyetoran kepada perwakilan PSSI. Dalam bukti penyetoran itu tertera nama Achmad Haris, dan yang menerima Djoko Purwoko.

Usut punya usut, Achmad Haris merupakan mantan sekertaris Sriwijaya FC. Sedangkan Djoko Purwoko disebut orang kepercayaan Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan.

Erwiyantoro mengklaim dalam tulisannya bahwa Achmad Haris menyetorkan uang 100 ribu dolar Singapura atau setara Rp1 miliar kepada Joko Purwoko sebagai dana komitmen dari Dodi Reza Alex Noerdin, yang juga tokoh sepakbola asal Palembang, Sumatera Selatan sekaligus Bupati Musi Banyuasin periode 2017-2022.

Disebutkan Erwiyantoro pihak PSSI dan Dodi bertemu sampai empat kali. Pertemuan pertama terjadi di Hotel Fairmont, Jakarta. Saat itu Dodi yang ditemani Haris membuka pembicaraan dengan Rudy Kangdra dan Djoko Purwoko.

Rudy Kangdra adalah Direktur Bisnis PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan juga merupakan Direktur Bisnis PSSI. Pertemuan kedua kembali terjadi di tempat yang sama dengan formasi yang juga sama.

Namun masih belum ada kesepakatan untuk menunjuk Dodi sebagai Manajer Timnas. Baru pada pertemuan ketiga akhirnya Dodi dipertemukan dengan Mochamad Iriawan. Pertemuan berlangsung di Restoran Hurricane's Grill, Jakarta.

Pada pertemuan ketiga ini lah disebut Erwiyantoro, disepakati dana sekitar Rp1 miliar ke PSSI. Nilai itu merupakan hasil tawar-menawar antara pihak Dodi dan PSSI. Akan ada penyerahan dana lagi saat Dodi nanti ditunjuk menjadi Manajer Timnas Indonesia U-21.

Pertemuan keempat berlangsung di Kantor PSSI, di Mall FX, Sudirman, Jakarta. Pada kesempatan ini, kata Erwiyantoro, transaksi penyerahan dana Rp1 miliar itu terjadi.

Keriuhan soal adanya suap jual beli jabatan tersebut ditanggapi beragam oleh netizen. Salah satunya oleh akun Yon Moeis, yang tak lain adalah wartawan senior seperti Erwiyantoro.

Dia menyoroti keterangan tertulis dalam kwitansi itu yang berbunyi 'Pemesanan tiket masuk Piala Dunia 2021'. Yon Moeis juga menyindir lewat postingan dengan menyebut bahwa alasan bisnis tiket hanyalah pembelokan opini atas jual beli jabatan di PSSI.

"Skandal "jual-beli" jabatan manajer tim U-20/Piala Dunia 2021 dibelokkan jadi bisnis beli tiket. "Jenderal, mari kita ngopi di Pangkalan Ojek Pasar Kranji". Tulis akun Yon Moeis.

VIVA sempat mencoba mengonfirmasi isu tersebut kepada Haris. Namun, dia membantah terlibat jual-beli jabatan manajer Timnas Indonesia U-19. "Itu kan isu saja," kata Haris, singkat, Sabtu 19 Desember 2020

Sementara Plt Sekjen PSSI, Yunus Nusi terkesan santai dan tak terkejut. Bahkan, dia menyebut Rp1 miliar itu sangat kecil dan jauh berbeda dari isu sebelumnya.

"Hahahaha. Biasanya isunya sampai puluhan miliiar, tumben ini hanya Rp1 miliar. Sudah puluhan tulisan tentang masalah itu seperti ini beredar. Tapi kami tidak pernah menanggapinya," kata Yunus, saat dihubungi wartawan.

Setelah isu itu berkembang semakin luas, PSSI melalui keterangan persnya memastikan Badan Yudisial PSSI akan memanggil dua nama tersebut yakni Achmad Haris dan Djoko Purwoko.

Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi mengatakan, sejatinya pihaknya sudah mendapat laporan dari Haris dan Djoko soal kasus ini.

Namun, secara lembaga, PSSI perlu mengklarifikasi secara resmi agar semua pernyataannya bisa dipertanggung jawabkan. Yunus juga mengatakan apapun keputusan Badan Yudisial harus dihormati oleh semua pihak.

"Asas praduga tidak bersalah (presumption of innocence) tetap harus dikedepankan. Anda tidak bisa menuduh seseorang dengan asumsi liar di media sosial. Itu sebabnya Badan Yudisial akan memanggil keduanya guna dimintai keterangan,’’ ucap Yunus.