Piala Menpora 2021: Oase Sepakbola dan Suka Cita Jurnalis Olahraga

Robbi Yanto
·Bacaan 9 menit

VIVAPiala Menpora 2021 sudah menyelesaikan episode terakhirnya. Persija Jakarta keluar sebagai juara usai mengalahkan Persib Bandung di partai final leg kedua 2-1 di Stadion Mahanan Solo, Minggu 25 April 2021.

Turnamen ini merupakan tes protokol kesehatan yang dicanangkan PSSI. Piala Menpora juga menjadi ajang pemanasan untuk pemain dan klub untuk memulai musim baru.

Pemberian nama Menpora dalam ajang ini tidak sembarangan. PSSI punya alasan tersendiri yakni Menpora selaku kementerian yang bertanggung jawab atas olahraga Tanah Air selalu memberikan dukungan penuh kepada PSSI.

Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan dalam pertemuan dengan direktur PT Liga Indonesia Baru, Akhmad Hadian Lukita, dan Menpora Zainudin Amali di Jakarta, 18 Februari 2021 mengatakan, Menpora tahu betul kesulitan mereka sehingga mau menjembatani PSSI dengan Polri untuk memberikan izin pelaksanaan.

"Kenapa kami sebut Piala Menpora 2021? Karena Kemenpora dapat melakukan pengawasan terhadap hal-hal teknis terutama penerapan protokol kesehatan," kata Iriawan.

Selain itu, penamaan ini juga sebagai bentuk apresiasi dari PSSI. "Pak Menpora sampai memberikan garansi personal agar izin dapat keluar. Terima kasih, pak Menpora," ujar Iriawan.

Piala Menpora diikuti 17 klub Liga 1 dan bergulir dari 22 Maret hingga 25 April. Hanya Persipura Jayapura yang tak ikut serta karena berbagai alasan.

Meski digelar tanpa penonton, Ide menggelar turnamen sempat mendapatkan pertentangan dari sejumlah pihak. Salah satunya datang dari Indonesia Police Watch (IPW). Ketua Presidium IPW, Neta S Pane mempertanyakan keputusan Kapolri memberikan izin.

Dia menilai kebijakan Kapolri memberikan izin Piala Menpora bukan saja bertentangan dengan instruksi Mendagri, tapi juga telah melanggar aturan yang ada yaitu Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

Tak sampai di situ, Neta juga melayangkan kritik pedas terhadap ajang pemanasan tersebut. Dia menilai Piala Menpora merupakan turnamen ecek-ecek.

Lebih keras, dia meminta Kapolri dan Menpora harus bertanggung jawab dan mundur dari jabatan masing-masing, jika Piala Menpora 2021 menjadi klaster baru penyebaran COVID-19.

Namun, pada kenyataanya, Piala Menpora sudah sangat kokoh, tak terhempas diadang kritik yang datang. Momen bersejarah itu akhirnya tiba, Piala Menpora dibuka langsung oleh Zainudin Amali.

Duel pembuka mempertemukan antara Arema FC dan Tira Persikabo di Grup A. Saat itu kondisi sekitar stadion sepi dari hiruk pikuk suporter. Polisi dan panitia pun berjaga ketat di setiap sudut stadion.

Para pelatih, pemain cadangan, asisten wasit, bahkan hingga ball boy menggunakan masker. Bola yang akan digunakan pun disemprot disinfektan.

"Ini akan jadi ujian, tapi kita yakin kita mampu menggelar sepakbola dengan protokol kesehatan yang disiplin. Saya yakin suporter sepakbola di Indonesia cerdas dan saya ingin suporter hanya dukung dari rumah saja,” kata Amali dalam sambutannya.

Sementara Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan mengatakan Piala Menpora adalah momen yang sakral, karena denyut nadi sepakbola Indonesia berdetak lagi setelah satu tahun mati suri.

"Hari ini adalah spesial bagi sepakbola Indonesia yang kurang lebih satu tahun telah berhenti. Kami ada komitmen khusus kita semua harus melakukan kegiatan dengan protokol kesehatan,” kata pria yang akrab disapa Iwan Bule tersebut.

Hari berganti, pertandingan terus berjalan. Piala Menpora 2021 mendapatkan sanjungan dari tokoh-tokoh penting negeri ini. Sebabnya, PSSI dan LIB tak cuma omong kosong, mereka menjalankan apa yang menjadi komitmen dan janji mereka yakni protokol kesehatan yang ketat.

Menpora Zainudin Amali bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Rabu 15 April 2021. Amali mengatakan, diam-diam orang nomor satu negeri ini menyaksikan perhelatan Piala Menpora.

Dan, Jokowi pun merasa puas dengan prokes yang ketat di setiap pertandingan. Selain itu, Jokowi juga mengapresiasi komitmen suporter yang tidak nekat hadir ke stadion.

"Beliau mengapresiasi bagaimana penggemar, pecinta klub, dan suporter sangat patuh terhadap himbauan tidak datang berkerumun ke stadion, tidak nonton bareng dan lain sebagainya," kata Amali dalam rilis Kemenpora.

Begitu juga dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit. Dia melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada laga kedua Grup A.

Kapolri hadir sebelum pertandingaan antara Tira Persikabo vs PSIS Semarang di Stadion Manahan, Solo, Kamis 25 Maret 2021.

Listyo mengaku puas melihat berlangsungnya Piala Menpora 2021 yang menjalankan protokol kesehatan ketat. Sebagaimana yang dipaparkan PSSI dan LIB ketika mengajukan permohonan izin.

"Hari ini sengaja saya sidak. Tanpa dikasih tahu. Kalau dikasih tahu nanti pasti akan dipersiapkan. Tapi, saya lihat Alhamdulillah pelaksanaannya sesuai dengan komitmen awal dan bagaimana pertandingan dilaksanakan dengan melaksanakan protokol kesehatan," kata Listyo.

"Bagaimana pertandingan prokes. Mulai masuk diperiksa dulu, diswab, diberikan gelang, dan di dalam saya lihat aturannya di bangku cadangan dan siap untuk menjadi pemain pengganti pakai masker," sambungnya.

Kini, sepakbola Indonesia sudah menjalankan tantangannya. Partai terakhir digelar di Stadion Manahan Solo mempertemukan Persija Jakarta dan Persib Bandung.

Persija menunjukkan tajinya dengan menumbangkan Maung Bandung 2-1. Tim besutan pelatih Sudirman membuka keunggulan melalui Osvaldo Haay.

Persib menyamakan kedudukan berkat gol tendangan bebas Ferdinand Sinaga. Macan Kemayoran memastikan kemenangan dan menjadi juara lewat aksi Riko Simanjuntak di menit-menit akhir.

Kemenangan 2-1 membuat Persija unggul agregat 4-1 karena di leg pertama menang dengan skor 2-0.

Ajang pramusim ini memang sudah berakhir, tapi tahukah anda jika Piala Menpora membawa dampak ke penjuru pihak, termasuk wartawan?.

Piala Menpora menjadi suka cita bagi wartawan olahraga yang selama setahun tidak pernah meliput langsung di lapangan.

Kepada VIVA, mereka berbagi keluh kesah dan pengalaman serta kebahagiaan ketika Piala Menpora bisa berjalan.

Berikut kami sajikan kisah wartawan bertahan hidup di masa pandemi dan menyambut Piala Menpora:

Piala Menpora Bak Oase Sepakbola di Tengah Pandemi

Hadirnya Piala Menpora bukan hanya menjadi kabar baik bagi klub, pemain, pelatih, suporter dan para pelakunya. Tapi juga untuk wartawan olahraga.

Pada Maret 2020 lalu, PSSI mengeluarkan pernyataan dengan menyetop seluruh kegiatan kompetisi. PSSI menetapkan bahwa status kompetisi adalah force major lengkap dengan pernyataan yang mestinya sudah bisa dipahami karena pandemi.

Semasa rehat kompetisi, klub-klub juga diimbau agar para pemain mereka berlatih mandiri. Tujuannya menjaga kebugaran agar tak loyo. Karena, bisa saja kompetisi bergulir dalam waktu dekat, dekat setelah penyampaian penundaan oleh federasi pada 27 Maret 2020.

Pada momen ini, cara kerja wartawan perlahan berubah. Pemberitaan memang tetap berjalan, namun isunya tak jauh dari keluhan klub, pemain hingga mengambil sisi lain dari cara mereka beraktivitas di masa pandemi.

Kebiasaan wartawan olahraga juga berubah. Dari yang biasanya datang ke lapangan, kini menjadi harus akrab dengan telepon genggam, daripada kehabisan kreativitas.

Tapi, dalam hal ini juga tidak mudah dilalui wartawan. Melakukan wawancara di lapangan secara langsung sangat berbeda dengan wawancara menggunakan telepon.

"Jujur, awalnya masih ada harapan, setidaknya beberapa bulan masih bisa mengakali isu-isu sepakbola nasional sebelum dihentikan secara total. Dan wartawan pun harus kerja di rumah. Jadi sebutannya Wartel alias wartawan telepon. Kan biasanya di lapangan, tapi ini juga banyak hambatannya, belum lagi narasumber ditelepon mugkin ada yang welcome, ada yang tidak, kreativitas sempat terhenti di momen ini," kata Ketua Koordinatoriat PSSI Pers, Zainal Hasan.

"Setahun kita hampir tidak ngapa-ngapain, Tidak ada kegiatan bola sama sekali. Ujung-ujungnya pemberitaan begitu saja. Isinya penunggakan gaji, komentar pemain kegiatan di masa pandemi," timpal Muhammad Robbani, wartawan Detik Sport.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Alan Kusuma, wartawan olahraga Kumparan. Selama awal kompetisi dihentikan, dirinya mengandalkan informasi kegiatan klub melalui laman resmi tim.

Di medianya, Alan menyebut ada penurunan jumlah berita sepakbola nasional, sedangkan berita sepakbola internasional jadi lebih banyak.

"Pertama karena pandemi, kaget otomatis mencari penyesuaian membuat berita. Sebab, kantor meminta update terus. Beruntung pas awal-awal klub rajin memberikan informasi kegiatan melalui laman resmi mereka. Tapi lama-lama bosan juga, karena tidak mungkin itu terus yang dibahas,” jelas Alan.

Sampai pada akhirnya, klub mulai lelah menunggu dan mengakhiri kegiatan mereka sepenuhnya. Para pemain dipulangkan baik yang lokal maupun yang asing.

"Pada tahap ini kami bingung mau ngapain. Kemudian setelah lebaran Idul Fitri 2020 lalu, PSSI memberikan angin segar dengan manjalin komunikasi dengan Satgas COVID dan meminta izin kepada Kepolisian,” ucap Alan

Rencana Liga 1 Dilanjutkan Oktober 2020

Tujuh bulan sejak Maret, kalender tahun 2020 berganti, PSSI berencana akan menggulirkan kompetisi pada Oktober 2020.

Segala rencana telah disusun. Jadwal yang semula menggunakan setelan lama, diganti ke yang lebih baru.

Sejumlah pihak telah diyakinkan: Sponsor dan penyedia tayangan sepakbola, ikut sibuk memperbarui layanan. Masih terngiang di benak wartawan dan tak mungkin dilupakan, bagaimana klub-klub kembali berlatih.

Pemain asing yang sempat mudik ke negara mereka kembali dipanggil. Tujuannya: Ayo kembali, kompetisi segera bergulir.

Semua seperti akan bergulir pada bulan kesepuluh. Semua seperti yakin akan baik-baik saja. Terutama klub. Peserta kian menggebu-gebu saja menggelar latihan lengkap dengan uji tanding.

Namun, persiapan yang nyaris paripurna seketika gagal. Semua karena perizinan dari kepolisian yang merupakan perpanjangan pemerintah.

Alasan tak menggelar kompetisi ada dua. Pertama karena masih kondisi corona. Kedua, ini yang cukup di luar ekspektasi: Karena pemilihan kepala daerah alias Pilkada pada 9 Desember 2020.

Muhammad Robbani menyebut, kabar itu sejatinya tidak membuat ia kaget. Ia berkaca pada penanganan COVID-19 di tanah air yang masih kurang maksimal.

Namun, pada momen ini, aktivitas kerjanya perlahan kembali sibuk. Dia lebih sering menghubungi pihak Liga Indonesia Baru selaku operator kompetisi.

"Di awal-awal sempat skeptis dengan rencana PSSI melanjutkan kompetisi, karena penanganan COVID-19 kurang bagus seperti negara lain. Kita lihat China yang penurunan angka Covid-nya tinggi, kita pada saat rencana menggulirkan kompetisi lagi naik-naiknya,” tuturnya.

"Tapi, seketika sepakbola Eropa mulai jalan, saya mulai berpikir lagi dan sepakbola harus tetap bergulir, karena ini menyangkut kehidupan pemain. Jadi sering menghubungi orang LIB," jelasnya.

Sementara Alan, pada momen ini dirinya kembali harus melakukan penyesuaian. Sebab, hampir selama setahun tak pernah liputan.

"Klub dapat angin segar kompetisi digulirkan lagi. mereka latihan, metode pencarian berita kembali sama. tapi, tidak demikian dengan praktik penulisan. Semua sudah berubah lantaran tak adanya aktivitas peliputan," jelasnya.

Piala Menpora Datang Bak Oase untuk Sepakbola Indonesia

Setelah menunggu sekian lama. angin segar akhirnya diberikan oleh PSSI dan pemerintah. Gelaran Liga 1 dijadwalkan berputar kembali per musim 2021.

Sebelum ada perhelatan itu, PSSI mengagas turnamen pramusim bernama Piala Menpora 2021 sebagai turnamen pramusim sekaligus ajang persiapan sebelum mengarungi liga.

Bagai hujan di musim kemarau, gelaran ini menjadi kabar baik bagi seluruh pelaku olahraga, tak terkecuali wartawan. Pada tahap ini, wartawan olahraga seperti hidup kembali.

Komunikasi mereka dengan para narasumber menjadi lebih intens. Memang tak sepenuhnya kembali seperti biasa, tapi setidaknya kini sudah bisa meliput dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

"Bukan senang hanya sebagai wartawan sih. Tapi sebagai penikmat sepakbola nasional. Kaya oase di gurun pasir. Tapi di satu sisi saya tidak bisa terlalu senang karena masih trauma yang Liga batal,” ucap Zainal.

“Namun, ketika Presiden kasih izin, dan Polri kasih izin, itu sayanya seperti kita lagi haus dikasih air. Jadi kerja tiba-tiba enak lagi meskipun dengan protokol kesehatan. Tapi setidaknya isu-isu kembali hidup lagi dan tidak monoton," jelasnya.

Sementara Alan menjelaskan, bergulinya Piala Menpora membuat aktivitas medianya bergairah lagi. Segala sisi dari Piala Menpora pun mereka garap dengan harapan traffic meningkat. Namun pada kenyataanya, hal itu tidak terlalu berpengaruh.

"Memang Piala Menpora mengembalikan aktivitas wartawan, tapi cuma di beberapa orang yang secara khusus ada yang mengkritik dan mendukung. Mungkin yang mengkritik sedikit 70:30. Dan saya ada di pihak yang 30 itu," jelasnya.

Tanggapan berbeda disampaikan Muhammad Robbani. Bergulirnya Piala Menpora tidak merubah aktivitasnya secara drastis. Pasalnya kebijakan media tempatnya bekerja, Piala Menpora digarap kontributor di empat lokasi pertandingan. Solo, Malang, Sleman, dan Bandung.

“Sebenarnya waktu Piala Menpora aktivitas tak banyak berubah, karena turnamennya di luar Jakarta. Jadi kebanyakan kontributor yang mengambil. Untungnya di Jakarta ada timnas, karena timnas tidak bisa dibikin kontri,," ucapnya.