Pilah-pilih sepatu sesuai karakter kaki

·Bacaan 3 menit

Memilih gaya hidup sehat pasca pandemi COVID-19 tampaknya menjadi kebutuhan dan salah satu unsur gaya hidup sehat yang direkomendasikan adalah bergerak secara teratur.

Pilihan aktivitas gerak yang mudah dilakukan adalah berjalan kaki dan selanjutnya tentu saja berlari. Namun untuk memilih sepatu lari (atau untuk aktivitas lainnya) ternyata bukan semata melihat model terkini.

Langkah terpenting untuk memilih sepatu untuk berjalan, berlari atau olahraga lainnya menurut Marketing Manager PT. ASICS Indonesia Trading Fajar Nugraha adalah memahami karakteristik kaki sendiri dan selanjutnya menentukan kebutuhan penggunaan sepatu.

"ASICS Indonesia memiliki misi untuk mengajak masyarakat bergerak dan berolahraga demi kesehatan tubuh dan mental. Pemilihan sepatu yang tepat menjadi penting agar olahraga dapat berkelanjutan sekaligus mencegah cedera," kata Fajar di Jakarta, Kamis (22/4).

Pemilihan sepatu yang tepat, menurut Fajar, juga membantu untuk meningkatkan performa dari orang tersebut.

Salah satu layanan yang diberikan oleh ASICS di gerai-gerainya adalah dengan menggunakan "3D Foot ID Scanner" dan "Running Analyzer".

Baca juga: Jangan lakukan hal ini sebelum ikut lari marathon

Baca juga: Tanda Anda sebaiknya beli sepatu lari baru

Seperti namanya, alat "3D Foot ID Scanner" berguna untuk memindai panjang kaki, pronasi (bentuk telapak kaki ketika menyentuh tanah), lebar tumit, ketinggian punggung kaki, lebar telapak, sudut tumit dan lainnya.

Hasil pindai "3D Foot ID Scanner" menggunakan aplikasi milik Asics. (ANTARA/Desca Lidya Natalia)
Hasil pindai "3D Foot ID Scanner" menggunakan aplikasi milik Asics. (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

"Dengan menggunakan 'sport science' seperti ini maka masyarakat dapat memilih sepatu yang sesuai dengan karakteristik kakinya," ungkap Fajar.

Menurut Fajar, bila bentuk kaki berbeda, maka sebaiknya masyarakat juga memilih sepatu dengan jenis sol yang berbeda juga untuk melindungi dan memberikan kenyamanan bagi kakinya.

Selanjutnya alat "Running Analayzer" terdiri dari "treadmill" yang sudah disambungkan dengan aplikasi khusus sehingga langsung dapat mengecek jenis sepatu ASICS apa yang cocok digunakan oleh dia dari cara berlarinya.

Hasil pindai "Running Analayzer" milik Asics. (ANTARA/Desca Lidya Natalia)
Hasil pindai "Running Analayzer" milik Asics. (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Calon pembeli diminta untuk berlari selama beberapa detik di mesin "treadmill" lalu direkam dalam video dan video tersebut yang digunakan untuk mencocokkan jenis sepatu.

"Dengan cara ini kami juga dapat membantu meningkatkan performa lari karena konsumen dapat memilih sepatu sesuai dengan sementasi sekaligus kebutuhannya, dan terhindar dari cedera," ungkap Fajar.

Fajar menyebut setiap sepatu punya tiga komponen penting yaitu "insole", "midsole", dan "outsole". Setiap komponen memiliki kegunaan untuk menunjang kenyamanan dan juga keamanan sebagai pelindung kaki.

"Insole" adalah bagian yang terletak pada bagian dalam sepatu yang menjadi alas atau pijakan kaki. "Insole" pada umumnya memiliki bentuk mengikuti lekukan sepatu dan disesuaikan dengan kaki penggunanya sehingga menambah kenyamanan pemakai karena teksturnya yang lembut dan empuk.

Sementara "midsole" terletak di antara "outsole" dan "insole". "Midsole" berfungsi sebagai peredam antara kaki dengan permukaan bidang yang akan dilalui serta menambah kenyamanan saat digunakan.

Selanjutnya "Outsole" merupakan sol yang berada pada bagian bawah sepatu yang menapak ke tanah. Bagian ini biasanya terbuat dari kulit sintetis, karet, plastik hingga kayu. "Outsole" merupakan bagian terkuat pada sepatu dan berfungsi untuk menopang berat badan pemakai dan selalu bersentuhan dengan berbagai medan.

Berdasarkan riset yang diadakan oleh klinik perawatan atlet di Amerika Serikat, "midsole" menjadi bagian terpenting sepatu untuk olahraga lari karena "midsole" bekerja untuk membaca tentang respons bantalan, daya tanggap, kontrol gerakan, hingga stabilitas kaki.

Asics saat ini sudah meluncurkan tiga tipe "midsole" yaitu "Flytefoam blast", "Flytefoam Blast+" dan "Flytefoam turbo". Teknologi "Flytefoam" (FF) pertama diluncurkan pada Maret 2020 lewat seri sepatu Novablast.

Pada tipe FF blast memberikan sensansi ringan (lightness), melambung (bounciness), dan kelembutan (softness) sehingga cocok untuk dipakai lari sehari-hari.

Sedangkan tipe FFBlast+ lebih menekankan kelembutan (43 persen lebih lebih dari tipe FF blast) dan ringan (19 persen lebih ringan dibanding FF blast) yang cocok untuk lari jarak jauh.

Selanjutnya FFblast turbo unggul dalam daya lambung (36 persen lebih melambung dibanding FFblast) dan ringan (33 persen lebih ringan dibanding FFblast) yang cocok bagi mereka yang mengejar perbaikan performa atau kecepatan berlari.

"Ketiga 'midsole' yang dihadirkan ASICS memiliki fungsi yang menyesuaikan kebutuhan produk yang sesuai dengan level berlari mulai dari 'entry runners', 'fitness runners' hingga 'elite runners'," kata Fajar.

Baca juga: PTM mulai dihelat, Wilio hadirkan koleksi baru Asics dan Saucony

Baca juga: ASICS luncurkan sepatu "running" GEL-NIMBUS 23 Sunrise Red Pack

Baca juga: ASICS perkenalkan sepatu GEL-NIMBUS 24 dengan fitur baru

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel