Pilihan Obat Induksi Ovulasi Saat Pasangan Sulit Mendapatkan Buah Hati

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah pilihan obat dalam menjalani induksi ovulasi akan diberikan dokter kepada pasangan untuk membantu meningkatkan kesuburan. Tentunya, obat diberikan setelah dilakukan beberapa tes dan konfirmasi kesuburan.

dr Shanty Olivia Jasirwan, SpOG-KFER, seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan konsultan fertilitas, endokrinologi dan reproduksi di Rumah Sakit Pondok Indah memberikan pilihan obat kesuburan seperti:

1. Klomifen Sitrat, merupakan obat oral (tablet) dengan dosis (50-150mg/hari) diberikan selama 5 hari (hari ke- 2/3 sd 6/7) merupakan selectiveestrogen receptor modulator (SERM) bertujuan meningkatkan produksihormon FSH (Follicle Stimulating Hormone)

2. Letrozole, merupakan obat oral (tablet) dengan dosis (2,5-7,5 mg/hari)diberikan selama 5 hari (hari ke- 2/3 sd 6/7) merupakan anti estrogen yangjuga meningkatkan produksi hormon FSH

3. Gonadotropin:

- rFSH (recombinant Follicle Stimulating Hormone)

- HMG (Human Menopausal Gonadotropin)

- HCG (Human Chorionic Gonadotropin), untuk pematangan sel telur dan pemecah folikel

"Pada induksi ovulasi, kita ingin mendapatkan 2-3 sel telur semaksimal mungkin. Seperti obat suntik gonadotropin itu juga digunakan pada terapi infertilitas lain, seperti bayi tabung," kata Shanty dalam acara temu media virtual, ditulis Sabtu (13/3/2021).

Menurut Shanty, keberhasilan mendapatkan sel telur ini juga tergantung juga pada senggama terjadwal. "(Pada siklus haid normal) Setelah pemeriksaan, pasangan akan diberikan obat-obatan induksi ovulasi, nanti di hari 10-12 akan dilakukan pemeriksaan USG transvaginal untuk memantau folikel, ketebalan dinding rahim. Selanjutnya hari 13-16 senggama bisa dilakuakn setiap hari atau setiap 2 hari sekali hingga akhirnya menunggu hingga dua minggu untuk tes kehamilan."

Tingkat keberhasilan induksi ovulasi

Shanty menuturkan metode induksi ovulasi ini memiliki tingkat keberhasilan hingga 80 persen. Namun kembali lagi tergantung pada usia, penyebab fertilitas dan lamanya pernikahan.

Sementara, lanjut Shanty, sejumlah efek samping induksi ovulasi juga bisa terjadi seperti:

-Keluhan terkait perubahan hormon,seperti hot flashes, sakit kepala, mood swings, nyeriperut bawah, dan payudara nyeri

- Kehamilan kembar (multipel), 7-10% padaCC/LTZ, 20% pada Gonadotropin

- Sindroma hiperstimulasi ovarium (<1%), jarang terjadi, keluhan berupa nyeri hebat panggulatau perut, napas berat, mual, muntah, kembung,dan berat badan bertambah.

"Pada kasus tidak ada ovulasi dan sudah diberikan dosis maksimal, maka dokter akan reevauasi. Kemungkinan resistensi jadi jika tidak ada respons terapi induksi ovulasi maka lebih baik ditangani dengan program IVF/bayi tabung," pungkasnya.

Infografis Benarkah Sudah Divaksin Masih Bisa Kena Covid-19

Infografis Benarkah Sudah Divaksin Masih Bisa Kena Covid-19? (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Benarkah Sudah Divaksin Masih Bisa Kena Covid-19? (Liputan6.com/Abdillah)

Simak Video Berikut Ini: