Pilkada DKI: Menerka Berkah Calon Perseorangan

VISTA – Dua pasang calon Gubernur DKI Jakarta dari jalur perseorangan, Faisal Basri - Biem Benyamin serta Hendardji Soepandji - Riza Patria, akan terpampang fotonya dalam bilik Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2012 ini, pada 11 Juli. Bagaimana peluangnya?

Dua pasang itu akan bertarung melawan empat pasang dari utusan partai politik: Fauzi Bowo - Nachrowi Ramli yang diusung Partai Demokrat, Joko Widodo -  Basuki Tjahaja Purnama (PDI Perjuangan), Hidayat Nur Wahid - Didik J Rachbini (PKS), dan Alex Noerdin - Nono Sampono (Golkar), untuk menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017.

Tak ada calon yang ragu untuk menang. Semuanya yakin, setidaknya itulah dagangan mereka. Termasuk dua pasang calon perseorangan tadi. Bahkan Hendardji yang mengusung Jakarta tidak Berkumis (Berantakan, Kumuh dan Miskin), optimistis lantaran masyarakat dianggap sudah tidak percaya dengan partai politik.

Momentum ini dirasakan oleh mantan Komandan Pusat Polisi Militer TNI Angkatan Darat  yang berpasangan dengan funsionaris Partai Gerindra, Ahmad Riza Patria, sebagai berkah. Karena itu, Hendardji yakin bakal masuk putaran kedua. “Jadi menurut saya Pilkada tidak akan satu putaran, melainkan dua putaran,” kata Hendardji.

Faisal Basri tak kalah semangatnya jika bicara soal menang. Dasar ekonom, salah satu pendiri lembaga penelitian ekonomi Institute for Development of Economic and Finance (Indef) ini punya hitungan matematis. Modal dasarnya adalah 850 ribu kartu tanda penduduk warga Jakarta.

Tahap awal, dia menuturkan, sebanyak 450 ribu KTP diperoleh dengan penuh perjuangan selama hampir setahun. Namun pada perkembangannya sungguh tak disangka. Sebanyak 400 ribu dukungan melalui KTP tambahan datang hanya dalam waktu satu bulan.

Dengan estimasi ini, dia optimistis bisa mengantongi suara jutaan pemilih. “Kalau setiap pendukung kita mengajak 2 orang lagi untuk mendukung, kami bisa menang,” hitungnya, saat berbincang dengan Vista.
 
Faisal menjelaskan, dukungan KTP tersebut awalnya berasal dari keluarga sendiri, sanak famili, dan kawan-kawan sejawatnya. Dengan sistem “getok tular”, saudara dan sanak famili tersebut kemudian mendapatkan dukungan dari keluarga mereka juga yang merupakan warga Jakarta. Akhirnya terkumpullah ratusan ribu KTP yang mendukung pencalonannya.

“Ada keluarga bang Biem (Benyamin), tante saya, om saya, nenek saya. Masing-masing juga ke saudara-saudaranya. Sebulan terakhir itu yang kita dapat 400 ribu KTP, ya Allah, nggak nyangka,” paparnya.
 
Biem yang mantan anggota Dewan Perwaklan Daerah dari pemilihan DKI Jakarta ini menambahkan, awal pengumpulan KTP dukungan memang sulit. Namun kemudian ibarat bola salju, dukungan KTP semakin bertambah seiring berjalannya waktu.

“Lama-lama membesar, masyarakat tambah percaya dan tambah percaya kepada kami,” ungkap putra legenda seniman Betawi, Benyamin Sueb yang bernama lengkap Biem Triani Benyamin itu.

Kandidat dari calon perseorangan ini, bersama empat pasang calon dari partai, akan memperebutkan pemilih yang berjumlah 6.983.692 orang. Untuk menang satu putaran, diperlukan suara 50 persen plus satu suara.

Keyakinan yang dimiliki oleh para calon perorangan itu tentu bukan sesumbar. Pada beberapa pemilihan kepala daerah tingkat dua, calon perseorangan ada juga yang menang. Contoh paling anyar ada di Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Pada bulan ini, ditetapkan pasangan Jonas Selaen dan Hermanus Man sebagai Walikota dan Wakil Walikota Kupang periode 2012-2017. Keduanya bertarung dari jalur perorangan, seperti halnya Faisal Basri dan Hendardji Soepandji. Pasangan Jonas dan Hermanus menang telak dengan perolehan suara di atas 57 persen.

Sebelumnya, ada juga pasangan Ceng Fikri – Raden Dicky Chandra. Pasangan ini maju dari jalur perseorangan, kemudian menang dan terpilih sebagai Bupati-Wakil Bupati Garut, Jawa Barat, pada Pilkada 2009. Namun dua tahun kemudian, Dicky yang juga seorang artis itu, mengundurkan diri dari jabatannya.

Selain dua pasang tersebut, sebenarnya pasangan dari jalur perorangan yang pertama kali menang adalah O.K. Arya Zulkarnain dan Gong Martua Siregar untuk Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Keduanya mencatatkan sejarah pada Pilkada langsung pada Oktober 2008.

Selanjutnya, di tahun yang sama adalah kemenangan pasangan Christian N Dillak- Zacharias P Manafe. Mereka berhasil menjadi Bupati dan Wakil Bupati Rote Ndou, Nusa Tenggara Timur.

Pasangan jalur perseorangan lain yang sukses adalah Muda Mahendrawan - Andreas Muhrotien untuk Pilkada di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Pada Desember 2008, keduanya berhasil ditetapkan sebagai Kepala Daerah.

Untuk tingkat Gubernur, contohnya ditunjukan oleh pasangan Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar.  Pasangan dari jalur perseorangan ini berhasil memenangkan Pilkada Gubernur Aceh pada 2006 silam.

Enam contoh kemenangan kandidat dari jalur perseorangan ini bisa jadi alasan pasangan Faisal Basri-Biem Benyamin serta Hendardji Soepandji–Riza Patria boleh optimistis bisa menang dalam Pilkada DKI Jakarta.

Ray Rangkuti, pengamat politik dari Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA), juga meyakini bahwa calon dari perseorangan berpeluang besar untuk menang. Terutama didorong oleh merosotnya tingkat kepercayaan publik terhadap partai politik. Namun dia berharap, jangan sampai setelah menang dalam Pemilihan Kepala Daerah, “Malah masuk partai politik seperti yang terjadi di Garut itu.”

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.