Pilkada Jateng, Kelas Menengah Dinilai Apatis

TEMPO.CO, Semarang - Pakar komunikasi Universitas Diponegoro Semarang, Triono Lukmantoro mengatakan, kampanye yang telah dilakukan kandidat calon gubernur Jawa Tengah mampu mempengaruhi calon pemilih yang belum menentukan pilihan (swing voters) saat menggunakan hak politiknya pada Ahad,  26 Mei mendatang.

Namun, dia tak terlalu yakin, kampanye berdampak signifikan dalam menggugah kesadaran publik, terutama kelas menengah. "Antara penilaian dan kesadaran memilih, adalah sesuatu hal beda," kata Triono kepada Tempo, Kamis, 23 Mei 2013.

Setelah memperhatikan figur kandidat dan materi kampanye,  kata Triono, seseorang bisa jadi akan menjatuhkan dukungan atau minimal simpati dengan kandidat. Salah satu pasangan kandidat dianggap lebih baik dari kandidat lain.

Tapi, belum tentu penilaian positif itu mengubah keengganan calon pemilih meluangkan waktu untuk pergi ke bilik suara. "Sebagian masyarakat terlanjur apatis dengan pemilihan gubernur," ujarnya menambahkan. Meski demikian, Triono tak berani memastikan berapa prosentase golput yang akan terjadi. "Agaknya masih cukup tinggi".

Dari sekian model kampanye yang dilakukan kandidat, yang paling efektif menyentuh pemilih, menurut dia, adalah kampanye blusukan yang menjumpai masyarakat secara langsung di tingkat akar rumput. Sedangkan kelas menengah bisa dipengaruhi dengan pemberitaan media massa dan debat kandidat.

Pengamat politik Universitas Diponegoro, Fitriyah mengatakan, sebagian besar pemilih di Jawa Tengah tinggal di pedesaan. Mereka mudah dipengaruhi dengan kampanye langsung, diarahkan oleh tokoh setempat atau dengan politik uang. "Bagi pemilih di pedesaan, figur dan janji kampanye tak terlalu mempengaruhi," ujarnya.

Sementara kelas menengah yang melek informasi menjatuhkan pilihan dengan pertimbangan rasional. "Celakanya, kelas menengah juga banyak yang cuek dengan pemilihan gubernur."

SOHIRIN

Topik Terhangat:

Kisruh Kartu Jakarta Sehat | Menkeu Baru | PKS Vs KPK | Vitalia Sesha | Ahmad Fathanah

Berita Terpopuler:

PKS: VW Caravelle Milik Luthfi, bukan DPP

Koruptor Jujur Mengaku Korupsi Karena Bupati

Kasus Blok A, Ahok Tak Gentar Hadapi Djan Faridz 

Koruptor Jujur Kasihan Pada Koruptor Kelas Kakap

Duit Fathanah Diduga Mengalir ke Mahasiswi Unhas

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.