Pilkada Surabaya, Djarot Tuding Rival Pakai Taktik Pecah Belah

Bayu Nugraha, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kaderisasi, Djarot Saiful Hidayat, menyebut kubu lawan di Pilkada Surabaya telah melakukan taktik memecah belah. Menurut Djarot, salah satu taktik rival mereka, yakni Machfud Arifin dan tim suksesnya dengan mendekati Jagat Hari Seno. Seno merupakan kakak sulung, Whisnu Sakti Buana, yang juga putra sulung kader senior PDIP mendiang almarhum Soetjipto.

Wisnu sendiri adalah Wakil Wali Kota Surabaya, dan juga kader banteng. “MA telah melakukan politik devide et empire ala kolonialisme Belanda. Politik pemecah belah selama masa kolonial selalu dilawan oleh seluruh anak bangsa, termasuk NU, Muhammadiyah, dan PNI saat itu. Jadi rasanya kurang elok kalau tim MA menjalankan politik adu domba,” kata Djarot, Kamis, 19 November 2020.

“Termasuk apa yang dilakukan oleh Mat Mochtar. Sebab itu cara kolonial yang ditentang arek-arek Surabaya,” ujarnya.

Menurut Djarot, partainya solid dan terus menyatu dengan seluruh elemen masyarakat Surabaya untuk memenangkan jagoan mereka Eri Cahyadi yang berpasangan dengan Armuji.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu, juga menyinggung performa debat Eri Cahyadi. Eri, mantan birokrat di kota Pahlawan tersebut telah menunjukkan kualitasnya sebagai seorang pemimpin dan penerus sang Wali Kota Tri Rismaharini. Pemahaman Eri di pemerintahan dan Armuji di DPRD Jawa Timur dijabarkan dalam forum debat, kemarin.

“Debat tadi malam menunjukkan kualifikasi kepemimpinan Eri-Armudji, berhadapan dengan Mahfud Arifin yang lebih kedepankan retorika, namun tidak memahami persoalan tata kota, investasi dan juga manajemen pemerintahan yang baik,” ujar Djarot yang juga mantan Wali Kota Blitar dua periode ini.

Djarot jadi paham alasan kubu Machfud Arifin menggunakan strategi pecah belah. Ini menunjukkan ketidakmampuan Machfud Arifin menampilkan gagasan tentang tata kelola pemerintahan daerah yang baik.

PDIP juga disebut telah memecat Mat Mochtar karena perilakunya yang tidak terpuji. Politik pecah belah dan koalisi gemuk rival justru tak membuat gentar Eri Cahyadi dan tim pemenangan.

“Eri semakin kuat justru karena gemblengan dan kepungan. Apa yang terjadi justru membuktikan bagaimana masyarakat Surabaya memiliki keberanian untuk memilih pemimpin muda yang jujur, berpengalaman, dan visioner. Jadi ketika Surabaya dikepung, seperti halnya ketika Sekutu mengepung Surabaya, perlawanan rakyat untuk mendukung pemimpin yang baik akan semakin kuat,” kata Djarot.

Baca juga: Debat Kedua Pilkada Surabaya, Eri-Armudji Janjikan Ini ke Lansia