Pilkada Surabaya, Risma Diminta Netral Sebagai Kepala Daerah

Hardani Triyoga
·Bacaan 1 menit

VIVA – Tiga pekan tahapan kampanye berjalan, tensi Pilkada Kota Surabaya makin menghangat dengan isu yang jadi sorotan. Kali ini, figur Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini yang dinilai tak netral sebagai kepala daerah.

Koordinator Surabaya Coruption Watch Indonesia (SCWI) Hari Cipto Wiyono mengkritisi Risma yang cenderung aktif untuk memenangkan Eri Cahyadi-Armuji dalam Pilkada Surabaya 2020.

"Bu Risma tidak netral dan menggunakan kekuasaannya agar Eri menang, dan juga menghalalkan semuanya untuk memenangkan Eri," ujar Hari kepada wartawan, Selasa, 20 Oktober 2020.

Baca Juga: SCWI Minta Risma Jangan Politisasi Bantuan Beras untuk Eri-Armuji

Hari menduga ada cara memenangkan Eri-Armuji Risma menggerakkan RT/RW untuk memenangkan Eri Cahyadi. Dugaan ini lantaran adanya dana yang digelontorkan ke pengurus RW dengan dalih program pembangunan dari Musrembang.

"Di tempat saya dan tempat sekretaris saya di Keputih digelontor, Tapi, peruntukannya untuk apa enggak jelas, tapi katanya itu program musrembang," jelasnya.

Dia mengingatkan agar Risma bisa netral dan tak berpihak dalam Pilkada Surabaya. Meskipun, ia dekat dengan Eri yang merupakan calon Wali Kota Surabaya.

Sementara itu, Anggota Komisi A DPRD Surabaya Arif Fathoni menyampaikan sikap politik Risma dalam pilkada kali ini terkesan tidak netral. Menurutnya, Risma seperti sudah larut dalam kontestasi pilkada.

Menurut dia, masyarakat akan menilai sikap politik Risma. Sebagai wali kota yang sudah sembilan tahun memimpin Surabaya, politikus PDIP itu akan jadi perhatian.

"Dari awal berharap Bu Risma bersikap sebagai negarawan, tidak terlalu larut dalam kontestasi, tapi sudah berpihak dari awal. Sejak awal kami mengingatkan Bu Risma mau meninggalkan legacy apa," ujar Toni, sapaan akrabnya.

Seperti diketahui, Pilkada Surabaya 2020 terdapat dua pasangan calon yang bersaing untuk memperebutkan posisi menggantikan Tri Rismaharini dan Wisnu Sakti Buana. Pun, dua paslon itu adalah Eri Cahyadi-Armuji serta duet Machfud Arifin-Mujiaman Sukirno.