Pilpres AS 2020, 91,6 Juta Warga Amerika Telah Gunakan Hak Pilih

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Washington D.C- Lebih dari 91,6 juta warga di AS telah memberikan suara mereka sejauh ini, dengan mayoritas negara bagian tersebut yang melaporkan rekor jumlah pemungutan suara awal (early voting) untuk pemilu presiden 2020.

Dikutip dari CNN, Senin (2/11/2020) jumlah pemungutan suara yang besar itu pun menandai antusias tinggi warga AS dalam menggunakan hak pilih mereka, meski pandemi Virus Corona COVID-19 belum berakhir.

Menurut survei pejabat pemilihan di semua 50 negara bagian dan Washington, DC, oleh CNN, Edison Research, dan Catalist, suara ini mewakili sekitar 43% dari pemilih yang terdaftar secara nasional.

16 negara bagian mencatat lebih dari setengah pemilih yang terdaftar yang telah memberikan suara mereka jelang pemilu pada 3 November mendatang. Sementara secara nasional, lebih dari 91,6 juta surat suara telah diraih.

Angka tersebut mewakili sekitar 67% dari 136,5 juta lebih surat suara dalam pilpres AS 2016.

Jumlah pemilih yang melakukan pemungutan suara awal (early voting) telah melonjak di seluruh AS. Hal itu dilakukan guna menghindari keramaian di TPS saat hari-H untuk mencegah penularan COVID-19.

Pada 30 Oktober 2020, total jumlah pemilih yang melakukan pemungutan suara awal di Negara Bagian Texas dan Hawaii telah melampaui jumlah total pada pemilu 2016.

Perpanjang Jadwal Pemungutan Suara Awal

Warga memberikan suara mereka di tempat pemungutan suara di Washington DC, Amerika Serikat (AS), pada 27 Oktober 2020. Pemungutan suara awal (early voting) secara langsung dimulai di Washington DC pada Selasa (27/10) di 32 tempat pemungutan suara. (Xinhua/Ting Shen)
Warga memberikan suara mereka di tempat pemungutan suara di Washington DC, Amerika Serikat (AS), pada 27 Oktober 2020. Pemungutan suara awal (early voting) secara langsung dimulai di Washington DC pada Selasa (27/10) di 32 tempat pemungutan suara. (Xinhua/Ting Shen)

35 negara bagian dan Washington, DC, telah melampaui jumlah untuk total pemberian suara pada 2016 lalu, termasuk 13 dari 16 negara bagian dengan peringkat paling kompetitif menurut CNN - yakni Texas, Georgia, North Carolina, Nevada, Florida, Arizona, Colorado, Wisconsin, Maine, Iowa, Michigan, Minnesota dan Nebraska.

Selain itu, sekitar setengah dari suara yang sudah melakukan pemberian suara itu berasal dari 16 negara bagian kunci tersebut, yang akan memainkan peran penting dalam menentukan siapa yang memenangkan kursi kepresidenan pada 2020.

Di tengah pandemi COVID-19, jumlah pemungutan suara awal yang datang menyebabkan banyak negara bagian memperpanjang jadwal early voting mereka atau memperluas akses ke pemungutan suara melalui pos.

Pendukung calon dari Partai Demokrat Joe Biden, telah menunjukkan pilihan yang kuat untuk memberikan suara mereka via pos, sementara sebagian besar pendukung Presiden Donald Trump mengatakan mereka ingin memberikan suara pada Hari Pemilihan.

Dilansir CBS, beberapa ahli memprediksi bahwa jumlah pemilih dalam tahap akhir pada 2020 akan melampaui 150 juta, yang akan menjadi persentase partisipasi tertinggi dalam sejarah Amerika modern.

10 negara bagian AS telah melewati 80% dari jumlah pemilih pada tahun 2016, termasuk Nevada (+ 88%), Georgia (+ 87%), Arizona (+ 86%), North Carolina (+ 85%) dan Florida (+ 81%).

Dengan lonjakan dari jumlah pemungutan suara awal, disebutkan sangat mungkin pada Hari Pemilu bisa menjadi jumlah suara yang terendah karena begitu banyak warga yang telah menggunakan hak pilihnya melalui pos atau secara langsung.

Adapun 20 negara bagian AS yang melaporkan total pemungutan suara awal bersama dengan data pendaftaran partai.

Dari negara bagian tersebut, termasuk Arizona, Iowa, North Carolina, Nevada, dan Pennsylvania, CBS menyebutkan bahwa Partai Demokrat telah menghasilkan 45,9% dari jumlah suara awal, sementara suara untuk Partai Republik sedikit di atas 30% dan Independen sebanyak 23,3%.

Ragam Prediksi Ahli

Debat capres antara Donald Trump dan Joe Biden pada Selasa 29 September 2020 yang berlangsung dengan kacau. (AFP / JIM WATSON, SAUL LOEB)
Debat capres antara Donald Trump dan Joe Biden pada Selasa 29 September 2020 yang berlangsung dengan kacau. (AFP / JIM WATSON, SAUL LOEB)

Disebutkan dalam laporan CNN pada Agustus 2020, bahwa seorang profesor sejarah, yakni Allan Lichtman memprediksi Presiden Donald Trump akan kalah dalam pilpres AS 2020.

Prediksi Lichtman, diketahui selalu tepat sejak tahun 1984.

Profesor sejarah tersebut menggunakan metode "13 kunci" yang menimbang faktor termasuk ekonomi, keadaan sosial, berita miring, dan kharisma pribadi.

Lichtman menjelaskan, "Rahasianya adalah tetap memperhatikan gambaran besar dari kekuatan dan performa petahana. Dan jangan memperhatikan jajak pendapat, pakar, pasang surut kampanye tiap harinya. Dan itulah kuncinya. Gambaran Besar".

Pada tahun 2000, Lichtman memprediksi bahwa Al Gore akan memenangkan pemlu AS.

Tetapi akhirnya, prediksinya meleset ketika Al Gore kalah dari George W. Bush, meski ia telah memenangkan suara suara populer.

Hal itu terjadi setelah Mahkamah Agung AS memutuskan untuk menghentikan penghitungan ulang suara elektoral di Florida.

Meskipun itu, Lichtman tetap optimis sistem prediksi pilpres AS yang digunakannya tetap bisa efektif di tengah pandemi COVID-19.

"Perhatikan, secara retrospektif dan prospektif, kuncinya sudah ada sejak tahun 1860. Itulah yang kita sebut sistem yang kuat. Jadi, saya tidak mengotak-atiknya. Mereka telah bertahan melalui perubahan besar dalam politik kita, dalam ekonomi kita, dalam demokrasi kita, " jelasnya.

Dikutip dari VOA News, Allan Lichtman adalah profesor sejarah di American University, Washington D.C.

Prediksi Lainnya

Debat capres AS yang terakhir antara Donald Trump dan Joe Biden. Dok: C-SPAN
Debat capres AS yang terakhir antara Donald Trump dan Joe Biden. Dok: C-SPAN

Selain Lichtman, adapun profesor ilmu politik di State Univesity of New York di Stony Brook, yakni Helmut Norpoth.

Berbeda dari Lichtman, model Utama Norpoth menggunakan representasi statistik dari pemilihan presiden AS dengan satu metrik utama — pentingnya pemilihan pendahuluan presiden awal.

Dalam pemilihan tingkat negara bagian, pendahuluan biasanya diadakan pada bulan Februari di tahun digelarnya pilpres, di mana para pemilih bisa memilih siapa yang akan menjadi calon dari masing-masing partai politik.

Negara Bagian New Hampshire dan South Carolina pun pernah mengadakan pemilihan pendahuluan pertama mereka untuk kandidat dari partai Demokrat dan Republik.

Model ini menggunakan data dari tahun 1912 ketika pemilihan pendahuluan presiden pertama kali diluncurkan dan menyimpulkan bahwa kandidat dengan suara utama yang lebih baik cenderung memenangkan pemilihan umum.

Disebutkan bahwa Joe Biden memenangkan 8,4 persen suara di pemilihan pendahuluan di New Hampshire dan 48,4 persen di Carolina Selatan.

Sedangkan Donald Trump memenangkan pendahuluan Partai Republik di New Hampshire dengan 85,6 persen suara.

Dalam prediksinya, Norpoth mengatakan bahwa Trump memiliki peluang 91 persen untuk terpilih kembali dan Biden memiliki peluang 9 persen untuk menang.

Namun, prediksi Norpoth tidak tidak secara langsung menyebutkan apakah Trump akan menang atau kalah dalam pemilihan umum 2020, tetapi memproyeksikan bahwa petahana dari Republik tersebut akan memperoleh 363 suara elektoral sementara Biden akan memperoleh 175 suara elektoral.

Meskipun sebagian besar jajak pendapat menunjukkan bahwa Biden unggul dari Trump, Norpoth menyatakan bahwa prediksinya adalah "tak bersyarat dan final".

"Mungkin beberapa orang enggan untuk mengakui bahkan ke jajak pendapat bahwa mereka mendukung Donald Trump karena kedengarannya tidak benar, itu tidak cocok dengan banyak orang," ujarnya.

Saksikan Video Berikut Ini: