Pilpres Amerika Sudah Digelar, Perang China-Taiwan Segera Dimulai?

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Prediksi eks Wakil Direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA), Laksamana (Purn.) James Winnfeld, terkait agresi Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) ke Republik China (Taiwan), tinggal menunggu pembuktian. Sebab, Pemilu Presiden Amerika Serikat (AS) sudah digelar Selasa 3 November 2020.

Dalam berita VIVA Militer Selasa 25 Agustus 2020, diketahui bahwa Winnfeld pernah memberikan prediksinya dalam sebuah essai yang diterbitkan oleh US Naval Institut (USNI). Mantan Wakil Panglima Angkatan Bersenjata AS (US Armed Forces) ini menyebut, pasukan China akan memanfaatkan momen Pemilu Presiden AS untuk melancarkan serangannya ke Taiwan.

Winnfeld menyatakan jika agresi pasukan China ke daratan Taiwan dinamakan "Operasi Provinsi Merah", yang akan secara besar-besaran pada 18 Januari 2021.

Pasca Pemilu Presiden AS, pasukan Angkatan Bersenjata AS diyakini Winnfeld akan berfokus pada keamanan nasional hingga Presiden AS terpilih dilantik pada 20 Januari 2021. Saat itu lah, pasukan China diyakini akan mulai memobilisasi personel dan kendaraan tempurnya ke sejumlah wilayah di dekat Taiwan.

Skenario dijelaskan Winnfeld, pada hari pertama militer China akan menggunakan serangan siber untuk mengambil alih fasilitas utama Taiwan. Militer China bakal melumpuhkan jaringan listrik, termasuk mematikan media publik Taiwan.

Selain itu, pasukan China juga akan secara paksa mengambil alih beberapa pulau di Taiwan, yakni Kinmen, Matsu, dan Penghus. Winnfeld meyakini militer China akan bisa merebut pulau-pulau itu setelah mengalahkan pasukan Taiwan.

Di sisi lainnya, armada laut Angkatan Laut China (PLAN) akan memblokir pintu masuk intervensi asing dari Selat Taiwan. Itu berarti, militer China juga telah mempersiapkan dan memperhitungkan potensi konflik dengan Angkatan Laut AS, yang juga ada di wilayah Laut China Selatan.

Kemudian pada hari kedua, Winnfeld yakin bahwa serangan China di hari pertama akan membuat ekonomi Taiwan ambruk. Dengan situasi itu, pemerintah Tsai Ing-wen akan kebingungan. Meskipun AS menyerukan tindakan dari Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa, upaya itu takkan berhasil.

Pasalnya, China juga adalah salah satu anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Dan, China juga dipastikan akan didukung oleh anggota tetap lain yang merupakan sekutunya, Rusia. Dengan hak veto yang dimiliki kedua negara, maka Dewan Keamanan PBB takkan bisa berbuat apa-apa.

Menyadari banyaknya korban jiwa dan luka-luka akibat peperangan, China yakin bahwa Tsai Ing-wen akan memberi instruksi pengibaran bendera putih tanda menyerah. Winnfeld meyakini bahwa hal ini akan terjadi di hari ketiga. Di mana, China akan memproklamirkan kemenangan dan kembalinya Taiwan ke dalam wilayah kedaulatannya.