Pilpres AS Beri Dampak Positif Pasar Keuangan Indonesia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) secara tak langsung telah memberikan imbas positif bagi pasar keuangan dunia, khususnya di Indonesia. Terutama berkat keunggulan sementara Joe Biden terhadap rivalnya, sang petahana Donald Trump.

Terlepas dari perkara tersebut, Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji menilai, penyelenggaraan pemilu di AS yang menjunjung asas demokrasi menjadi faktor utama yang mampu menumbuhkan kepercayaan market.

"Yang paling penting sih menurut saya market butuh kepastian. Itu sudah terpancarkan oleh pemilihan presiden di Amerika Serikat yang berjalan demokratis," kata Nafan kepada Liputan6.com, Sabtu (7/11/2020).

Jika saja Biden ternyata kalah perolehan suara, ia yakin optimisme pasar global tetap dapat terus tumbuh dan terjaga. Setidaknya sampai pengumuman pemenang dan penetapan Presiden AS terpilih keluar pada Januari 2021.

"Pelantikan Presiden Amerika masih Januari kan. Paling kalau saya pikir mudah-mudahan demokratis lah," ujar dia.

Terlebih jika orang yang diusung Partai Demokrat AS ini berhasil diangkat masuk ke Gedung Putih, maka dampak positif terhadap pasar keuangan akan semakin membesar. Nafan mengatakan, Biden merupakan antitesis Trump yang ditenggarai mampu meredam tensi perang dagang AS-China.

"Joe Biden kan lebih cenderung safe trade. Jadi kalau dengan Tiongkok jangan trade war lagi. Hilang perang dagang," tukas dia.

Joe Biden Menang Pilpres AS, Rupiah Bisa Menguat ke 13.700 per Dolar AS

Ilustrasi Pilpres AS, Donald Trump Vs Joe Biden. (Liputan6.com/Trie Yasni)
Ilustrasi Pilpres AS, Donald Trump Vs Joe Biden. (Liputan6.com/Trie Yasni)

Nilai tukar rupiah konsisten mengalami penguatan 2,84 persen dalam satu pekan terakhir. Pada Jumat (6/11/2020) kemarin, kurs rupiah ditutup perkasa di level Rp 14.210 per dolar Amerika Serikat (AS).

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji mencermati bahwa volatilitas rupiah ini masih terus akan terjadi hingga pekan depan. Menurut perhitungannya, mata uang garuda bahkan berpotensi menyentuh level 13.000 di sepanjang November 2020.

"So far sih masih bisa membuat kinerja rupiah melanjutkan penguatannya. Misalkan kita trennya bagus untuk rupiah, di sini menguatnya Rp 13.900-13.700 per dolar AS. Minimum dia 13.900," jelas Nafan kepada Liputan6.com, Sabtu (7/11/2020).

Nafan mengatakan, penguatan rupiah ini terjadi karena beberapa faktor, salah satunya euforia pasar terhadap recovery perekonomian di Tanah Air. Meski Indonesia resesi, ia mengapresiasi ekonomi yang tumbuh 5,05 persen secara kuartalan pada triwulan III 2020.

"Pemerintah juga selalu memperhatikan dalam pengembangan industri manufaktur, menciptakan iklim yang lebih kondusif," ujar dia.

Faktor yang memperngaruhi pergerakan rupiah berikutnya yang turut berpengaruh pada penguatan rupiah yakni euforia pasar terhadap pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) di Amerika Serikat (AS).

Pasar keuangan dunia saat ini tampaknya memang tengah menanti kemenangan Joe Biden atas Donald Trump. Namun, Nafan menilai, proses pilpres AS yang berjalan demokratis jadi faktor utama yang mampu menumbuhkan kepercayaan market.

"Yang paling penting sih menurut saya market butuh kepastian. Itu sudah terpancarkan oleh pemilihan presiden di Amerika Serikat yang berjalan demokratis," pungkas dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: