Pilu Keluarga di Bekasi Kehilangan Ibu Saat Isolasi Mandiri Karena Covid-19 di Rumah

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Neng bersama anggota keluarga lainnya langsung memisahkan diri saat kakak iparnya dinyatakan positif Covid-19. Dia dan yang lainnya langsung beraktivitas di lantai dua sedangkan iparnya di lantai bawah.

Keesokan harinya, Neng dan tujuh anggota keluarga langsung menuju Puskesmas Seroja, Bekasi Utara untuk melakukan swab antigen Covid-19. Karena enam lainnya dinyatakan positif, pihak Puskesmas langsung melakukan tes PCR.

Jumat, 18 Juni 2020 satu keluarga dengan sembilan orang tersebut langsung melakukan isolasi mandiri bersama. Sembilan orang itu terdiri dari tiga orang dewasa, satu lansia, dan lima anak-anak.

Gejala Covid-19 yang dirasakan pun berbeda-beda. Mulai dari demam, batuk, flu hingga sakit di bagian perut. Sejumlah vitamin dan obat langsung diberikan oleh pihak puskesmas untuk bekal isolasi.

"Hari pertama isolasi nenek (ibunya) masih keliatan baik-baik saja. Kita sekeluarga memang kebanyakan batuk, flu," kata Neng kepada Liputan6.com, Senin (19/7/2021).

Namun, keesokan harinya sang ibu, sebut saja Nur mulai terlihat kelelahan dan lemas jika selesai dari kamar mandi. Aktivitasnya pun jadi lebih banyak dilakukan di atas tempat tidur.

Saat dilakukan pengecekan menggunakan oximeter secara berkala, saturasi oksigen Nur hanya 70 sampai 80 persen saja. Padahal dalam keadaan normal atau kondisi sehat, angka batas minimal saturasi oksigen adalah kisaran 95-100 persen.

Mencari Oksigen

Pihak keluarga langsung meminta pertolongan untuk dicarikan bantuan oksigen. Kakaknya yang rumahnya terpisah langsung meminjam tabung oksigen kepada para tetangga dan kenalan.

Setelah mendapatkan pinjaman tabung, sang kakak langsung melakukan isi ulang oksigen di lokasi terdekat. Saturasi oksigen Nur pun langsung naik ke angka 90 persen.

"Waktu itu oksigen belum selangka sekarang. Masih bisa ngantre di Alexindo (nama lokasi isi ulang oksigen di Kota Bekasi)," ucapnya.

Neng dan keluarganya terus berkoordinasi dengan sejumlah dokter di Puskesmas terkait pelaksanaan isolasi mandiri di rumah. Keadaan ibunya pun selalu dilaporkan kepada pihak Puskesmas.

Melihat kondisi sang ibu, Neng dan saudara lainnya terus berupaya menghubungi sejumlah Rumah Sakit (RS). Dia mengharapkan Nur yang sudah berusia 74 tahun segera mendapatkan penanganan serius.

Namun pihak RS belum dapat menerima pasien Covid-19. Sebab saat itu antrean untuk masuk IGD RS terus bertambah, seperti halnya di RSUD Kota Bekasi.

"Itu tetangga yang isolasi mandiri juga sudah coba ke dua RS (juga) ditolak, pulang lagi ke rumah. RS pada penuh," ujar Neng.

Ibu Meninggal

Pada 21 Juni 2021, kondisi Nur semakin melemah. Saturasi oksigen mulai turun drastis hingga angka 58 persen. Akhirnya pada pukul 18.30 WIB Nur dinyatakan meninggal dunia saat isolasi mandiri bersama anak dan cucunya.

Puskesmas langsung berkoordinasi dengan RS agar segera dilakukan pemulasaraan jenazah Nur dengan prokes Covid-19.

"Pukul 21.00 WIB ambulans datang dan bawa jenazah ke RSUD Bekasi. Lalu dilakukan pemakaman besoknya pukul 15.00 WIB di TPU Pedurenan (khusus Covid-19)," papar Neng.

Selang beberapa hari kemudian, pada awal Juli 2021 Neng bersama keluarganya pun selesai isolasi mandiri dan dapat beraktivitas kembali.

"Tanggal 1 Juli kita dapat surat dinyatakan selesai karantina mandiri dari puskesmas," tandas Neng.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel