Pimpin Kemendikbud-Ristek, Nadiem Diminta Fokus Tingkatkan Daya Saing di Bidang Ristek

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Presiden Jokowi resmi melantik Nadiem Anwar Makarim sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud-Ristek), Rabu (28/4/2021). Jokowi menaruh kepercayaan kepada Nadiem untuk mengepalai kementerian yang cukup gemuk tersebut.

Dengan tanggung jawab bertambah, Nadiem disebut semakin memiliki pekerjaan rumah yang seabrek. Baik di dunia pendidikan maupun riset dan teknologi.

Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad), Yogi Suprayogi menyebut bahwa segudang persoalan menunggu untuk segera diselesaikan oleh mantan Bos Gojek Indonesia itu.

Untuk itu, sejumlah terobosan dari Nadiem amat dinanti guna memecahkan sejumlah persoalan tersebut.

"PR-nya cukup banyak ya, terutama di pendidikan, riset juga. Ini pendidikan kita belum merata, satu dari sisi guru, yang kedua dari kompetensi, daya saing kita masih lemah. Nah ini harus ditingkatkan oleh Pak Nadiem," ujar Yogi saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (28/4/2021).

Belum lagi di era perdagangan bebas ini, menurut Yogi sumber daya manusia (SDM) Indonesia dituntut juga untuk bisa memiliki daya saing. Di sinilah peran kementerian baru yang dipimpin Nadiem berperan untuk mencetak SDM-SDM unggul.

"Dengan perdagangan bebas inikan orang yang dari luar negeri bisa bekerja di Indonesia. Bagaimana dengan orang Indonesia apakah menonton ataukah sama juga bekerja di luar negeri. Kita baru sedikit nih," ujar dia.

Nadiem, kata Yogi harus mengembangkan pendidikan berbasis daya saing. Yogi sendiri mengaku cukup puas dengan kinerja pria kelahiran 4 Juli 1984 itu.

Pasalnya selama ini kiprah Nadiem dalam dunia pendidikan terbaca mempunyai semangat untuk meningkatkan kompetensi anak.

"Programnya Pak Nadiem itu ke arah sana. Saya di perguruan tinggi sekarang terasa sekali anak-anak itu diharuskan untuk magang, cuman memang akan banyak tantangan," papar dia.

Sosialisaikan Inovasi dan Gagasan Baru

Yogi mengatakan, tantangan yang dimaksud muncul terkadang dari dalam dunia pendidikan itu sendiri. Menurut Yogi mereka yang terbiasa dengan pendidikan konvensional dituntut untuk beradaptasi dengan sejumlah terobosan yang dibuat Nadiem.

"Misalnya kuliah dulu hanya beberapa SKS sekarang jadi cuman berapa SKS karena ada program magang. Nah itu memang Pak Nadiem harus bekerja keras untuk mensosialisasikan ini ke masyarakat, nah apalagi ditambah Ristek," ujar Yogi.

Dalam dunia riset dan teknologi, Yogi melihat Indonesia begitu ketinggalan. Ia bilang bahwa peringkat soal Sains di negeri ini berada di urutan ke-71 dari 76 negara.

"Nah ini tugas-tugas Pak Nadiem untuk meningkatkan kompetensi-kompetensi pendidikan. Bukan hanya daerah perkotaan, tapi desa juga ini tugas beliau ya," pungkasnya.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: