Pimpinan MPR Wanti-Wanti Pemerintah Antisipasi Ancaman Krisis Pangan Dunia

Merdeka.com - Merdeka.com - Partai Nasional Demokrasi (NasDem) bakal menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Tahun 2022 pada 15-17 Juni 2022. Salah satu pembahasan menyoal efek domino dari ketidakstabilan kondisi geopolitik dunia selama dihantam Pandemi Covid-19.

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengatakan sudah bisa dilihat bahwa perjalanan sejarah menunjukkan 70 tahun lalu, saat peletakan batu pertama pendirian fakultas pertanian yang kini menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB), Presiden pertama RI Soekarno mengingatkan bahwa persoalan pangan adalah tentang hidup dan matinya suatu bangsa.

Kondisi tersebut menurut dia menuntut semua pihak agar tidak sekadar berbicara dalam berjuang mewujudkan tantangan tetapi penting untuk mewujudkan kedaulatan pangan yang tercermin dari adanya ketersediaan bahan pangan yang cukup dengan berbagai cara bagi masyarakat.

"Kita juga berbicara lahan pertanian produktif yang terus menyusut kemudian bagaimana berkurangnya jumlah tanah persawahan, alih fungsinya tanah persawahan dan masih banyak lagi hal-hal yang perlu menjadi perhatian kita semua," katanya, seperti dikutip Antara.

Sementara itu, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI Andi Widjajanto meminta masyarakat Indonesia harus siap dalam menghadapi berbagai ancaman krisis, termasuk krisis pangan.

"Kita sekarang belum menuju krisis pangan, tapi kuadrannya bukan kuadran yang ideal dari skenario yang ada; dan kalau kita belajar tentang pengelolaan krisis yang pertama, masalah terbesar pada saat kita bersiap menghadapi krisis adalah kita tidak sadar kita menuju krisis masalah terbesar pada saat kita pengelolaan krisis," katanya.

Diskusi terfokus suatu grup yang digelar DPP Partai NasDem itu digelar dalam rangka menyambut Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Partai NasDem Tahun 2022 yang akan berlangsung pada 15-17 Juni 2022.

Andi menambahkan arahan Presiden Joko Widodo sudah jelas bahwa seluruh pemangku kepentingan harus dapat meningkatkan rasa krisis, sehingga diharapkan bangsa Indonesia akan lebih siap menghadapi krisis apa pun.

"Jadi, yang sering diungkapkan oleh Bapak Presiden, sense of crisis-nya ditingkatkan sehingga kita memiliki sensitivitas-sensitivitas ketika indikator-indikator yang ada bergerak ke arah sana, pada saat kita bergerak ke arah krisis. Nah, tone-nya itu sudah tone survival," katanya. [rhm]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel