Pindah ke Korea, Wanita Ini Dikira Teroris Hingga Sempat Lepas Hijab

·Bacaan 3 menit

VIVA – Drama Korea yang telah menjamur sejak tahun 2000an berhasil mencuri perhatian masyarakat dunia. Sejumlah scene yang terlihat begitu menyentuh membuat sejumlah orang tertarik untuk ke Korea.

Bukan hanya sekadar untuk berlibur, sejumlah orang juga memilih untuk tinggal di Korea. Mereka memilih meninggalkan negara mereka untuk bekerja atau untuk menempuh pendidikan di sana.

Namun siapa sangka pengalaman kurang menyenangkan beberapa kali dilaporkan para imigran di Korea. Misalnya saja Hong Hana, seorang warga Uzbekistan yang telah mendapat kewarganegaraan Korea itu memutuskan pindah ke Korea pada 2007 lalu.

"Pertama kali ke korea saya sangat senang dan berpikir bahwa ini adalah negara yang aman. Kemudian saya kebetulan menyadari kenyataan itu, sedikit berbeda dari yang saya lihat di drama," kata dia dalam tayangan Hello Konsuler yang dikutip dari channel YouTube KBS Indonesian.

Diceritakan Hong Hana, saat pindah ke Korea dirinya mendapat perlakukan diskriminatif. Misalnya seperti saat dia berkunjung ke sebuah restoran di Korea.

"Aku meminta lauk pauk ke server dan diberi tahu bahwa itu swalayan. Server menyuruh saya bertanya kepada salah satu staf dapur. Kemudian saya melihat sekeliling dan menyadari bahwa server sedang menyajikan lauk pauk untuk pelanggan Korea. Saya pikir 'mengapa saya didiskriminasi'. Saya orang asing tapi semua manusia sama," kata dia.

Dijelaskan Hong Hana, salah satu penyebab utama dirinya mendapat perlakuan diskriminatif lantaran penampilannya. Dimana Hong Hana menggunakan hijab.

"Hijab saya jelas merupakan salah satu alasan utama. Suatu hari saya sedang berjalan di jalan. Seorang pria menuding saya dan berkata, 'hei apa yang ada di kepalamu? Apa yang kamu kenakan?'," kata dia bercerita.

Tidak hanya mendapat cacian karena penampilannya saja. Hong Hana juga diketahui mendapat perlakuan kasar dimana hijabnya ditarik saat berbelanja di sebuah toko.

"Saya sedang membeli bahan makanan di toko seorang wanita mendatangi saya dan mengambil hijab saya seperti ini, dia menariknya. Saya berkata 'ini hijab saya ada apa?' Lalu dia berkata 'Kamu di Korea kamu harus melepasnya'. Dia mengatakan pada saya untuk tidak menggunakannya," jelas dia.

Hong Hana juga selalu mendapat sorotan saat melakukan pekerjaan sebagai penerjemah di Korea. Sejumlah pelanggan sering memandanginya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Saat bekerja sebagai penerjemah biasanya orang memindai saya dari ujung kaki sampai ujung kepala dan bahkan bertanya kepada rekan kerja tentang saya apakah dia memenuhi syarat untuk bekerja di sini? Apa yang dia lakukan di sini darimana asalnya? Orang sering menanyakan hal ini. Itu benar-benar membuatku kesal dan melukai perasaanku," kata dia.

Tidak sampai di situ, dia yang menggunakan hijab juga sempat disebut sebagai seorang teroris. Hal ini terjadi saat Hong Hana pergi ke kantor pemerintah daerah untuk mendapatkan beberapa dokumen.

"Ketika saya sampai ke sana, seorang karyawan wanita melihat saya dan bertanya apakah saya teroris, saya tidak dapat berkata-kata. Dia bertanya apakah saya seorang teroris dan apa yang ada di dompet saya, dia ingin memeriksa dompet saya. Saya mengatakan kepadanya kamu keluar jalur, saya berkata bahwa dia tidak punya hak untuk mengatakan atau melakukan hal-hal itu," kata dia.

Karena insiden itu, diakui Hong Hana membuatnya stres. Bahkan dia sempat tidak keluar rumah selama satu bulan karena insiden itu.

"Kejadian itu membuat saya kesal saya tidak bisa keluar sama sekali selama sebulan setelah itu. Saya tidak ingin keluar, saya tidak ingin melihat siapapun. Tapi saya punya anak jadi saya harus hidup. Itulah mengapa saya menanggung segalanya dan mencoba mengatasinya," kata dia.

Karena sejumlah diskriminasi yang diterimanya, Hong Hana sempat melepaskan hijabnya selama empat bulan. Namun, dirinya kembali menggunakan hijab karena tetap mendapat sorotan lantaran rambutnya yang keriting

"Aku melepas hijabku saat itu, tapi saya orang asing dan saya memiliki rambut keriting beberapa orang mendatangi dan menyentuh rambut saya beberapa menunjuk ke arahku, saya tidak percaya ini. Saya mengalami diskriminasi walaupun saya memakai ini atau tidak, jadi saya pikir saya harus memakai hijab saja," kata dia.

Meski mendapat diskriminasi, dirinya tetap bersyukur lantaran putrinya Jimin yang selalu melindunginya. Misalnya saja saat Hong Hana dan Jimin pergi, sang putri kecilnya membelanya ketika mendapat diskriminasi di jalan.

"Suatu hari saya dan Jimin keluar bersama kami bisa mendengar orang berbisik tentang hijab saya. Mereka menatap dan menyebut saya orang asing. Lalu Jimin berkata 'Jangan lakukan itu, ibuku orang Korea'. Saya tersentuh putriku mengatakan itu untuk melindungiku," kata Hong Hana.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel