Pintu Penerbangan Internasional ke Bali Dibuka Jadi Peluang Dongkrak Okupansi Hotel

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pelaku usaha Hotel dan restoran menyambut baik kebijakan Pemerintah pembukaan pintu akses bagi wisatawan internasional ke Bali pada 14 Oktober 2021.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, mengatakan bahwa pembukaan akses bagi wisatawan mancanegara (wisman) tersebut diprediksi akan meningkatkan okupansi hotel di Bali.

“Tentu kami menanggapi positif karena memang pembukaan Bali ini adalah harapan sudah sejak lama yang sudah kita harapkan, seperti Bali dan Bintan yang memang destinasinya sangat mengandalkan wisata mancanegara untuk memenuhi tumbuhnya okupansi hotel di wilayah tersebut,” kata Maulana kepada Liputan6.com, Kamis (7/10/2021).

Maulana menegaskan bahwa pengusaha hotel dan restoran di Bali sudah siap menyambut kedatangan wisman. Lantaran, sudah menerapkan protokol kesehatan dengan ketat sebagaimana anjuran Pemerintah, seperti menerapkan penggunaan Aplikasi PeduliLindungi, social distancing, himbauan penggunaan masker, tempat cuci tangan, dan lainnya.

“Pengusaha hotel dan restoran tentu sudah siap dengan persyaratan Pemerintah, pertama masalah vaksin kita tidak ada masalah, kedua protokol kesehatan, memang hotel dan restoran itu berusaha selalu memberikan pelayanan prima,” ujarnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Sumbangan Sangat Besar

Vendor menyiapkan tempat duduk untuk wisatawan di pantai Kuta di pulau resor Bali (4/10/2021). Kasus konfirmasi Jawa Bali menunjukkan penurunan hingga 98,7 persen dari puncaknya pada 15 juli lalu. (AFP/Sony Tumbelaka)
Vendor menyiapkan tempat duduk untuk wisatawan di pantai Kuta di pulau resor Bali (4/10/2021). Kasus konfirmasi Jawa Bali menunjukkan penurunan hingga 98,7 persen dari puncaknya pada 15 juli lalu. (AFP/Sony Tumbelaka)

Lebih lanjut, Maulana menyebut kontribusi okupansi hotel memang disumbang besar dari wisman sebesar 70 persen. Dengan demikian, tanpa ada wisman maka tingkat okupansi hotel pun tidak akan terpenuhi, jika mengandalkan wisatawan domestik saja.

“Kontribusi okupansi dari wisman itu cukup besar misalnya untuk Bali 70 persen, jadi kalau tanpa wisman okupansi itu bahkan tidak bisa terdongkrak sampai 30 persen,” ujarnya.

Misalnya, sebelum pandemi covid-19 tingkat kunjungan wisman ke Bali mencapai 60 juta orang. Dengan demikian, banyaknya wisman ke Bali secara langsung akan berdampak positif bagi perekonomian di Bali.

“Seperti di Bali ini kan setiap tahun sebelum pandemi covid-19 penyumbang paling tidak 60 juta wisman. Tentu dampaknya cukup besar terhadap ekonomi Bali khususnya untuk Perhotelan dan restoran,” pungkasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel