PKK: Stunting problem kompleks yang harus dihadapi dari berbagai sisi

Ketua IV Bidang Kesehatan Keluarga dan Lingkungan TP PKK Provinsi DKI Jakarta Suni Sigit Wijatmoko menekankan bahwa kekerdilan pada anak (stunting) adalah suatu masalah yang kompleks dan harus dihadapi dari berbagai sisi kehidupan seorang anak.

“Permasalahan stunting perlu intervensi dari berbagai sisi baik dari kesehatan, pendidikan, ekonomi dan sebagainya,” kata Suni dalam Webinar Promosi dan KIE Pengasuhan 1000 HPK Seri III yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan guna mencegah anak terkena stunting, keluarga tak bisa hanya memaksimalkan pemenuhan gizi pada anak.

Setiap orang tua juga perlu memberikan perlindungan kesehatan pada anak, bahkan sejak ibu mengalami kehamilan. Salah satu caranya adalah dengan melakukan pemeriksaan kehamilan di fasilitas kesehatan terdekat.

Pemantauan pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) juga patut dimaksimalkan karena pada masa itu, tumbuh kembang anak baik secara fisik maupun mental berkembang dengan sangat pesat.

“Apabila di 1.000 HPK ini kita bisa tangani dengan cara yang tepat, maka anak akan dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang berkualitas baik fisik maupun mentalnya. Sebaliknya, apabila terlewatkan, maka dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, akibat gangguan nutrisi yang kurang terpenuhi,” katanya.

Menurut dia stunting mampu membuat anak mengalami gangguan untuk tumbuh dan berkembang, akibat gizi buruk, infeksi berulang dan stimulasi psiko sosial yang tidak memadai.

Dengan demikan, baik lingkungan yang layak huni ataupun genetik secara turun temurun yang diperoleh anak, harus betul-betul dipersiapkan secara layak oleh keluarga.

Terkait dengan pengetahuan keluarga Indonesia dalam pengasuhan yang masih bisa dikatakan kurang, ia menjelaskan bahwa Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE) harus terus digalakkan agar percepatan penurunan stunting yang dilakukan bersama-sama secara holistik, integratif dan kolaboratif dapat semakin maksimal.

Percepatan itu pun, kata dia, perlu dilakukan melalui pemberian pendampingan sejak periode persiapan pernikahan (calon pengantin), masa kehamilan, pasca persalinan sampai anak memasuki usia 0-59 bulan.

Sebagai upaya pendampingan pada keluarga, pihaknya terus menggaungkan Program Bagimu yakni (Ba)hagiakan anak, berikan (Gi)zi yang cukup dan berikan sti(Mu)lasi yang tepat, agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal khususnya di 1.000 HPK secara berkelanjutan.

Ia menambahkan bersama para kader di lapangan, pencegahan stunting juga disosialisasikan melalui kelas berkebun, penyusunan menu makanan sehat, memaksimalkan peran posyandu dalam melakukan pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita serta deteksi dini penyakit pada anak aga bisa segera mendapatkan penanganan melalui rujukan ke fasilitas kesehatan.

Pihaknya juga menjalankan Program Gerakan Keluarga Sehat, Tanggap dan Tangguh Bencana Peduli Stunting yang difokuskan ke enam titik lokus yang tersebar di DKI Jakarta.

“Semoga kesadaran kolektif mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan dan masyarakat kita dapat saling membantu, saling mendukung, saling menguatkan dan berkomitmen bersama untuk upaya kolaborasi multipihak sebagai ikhtiar percepatan penurunan stunting,” demikian Suni Sigit Wijatmoko.

Baca juga: Mendagri minta PKK bergerak cegah stunting dan kendalikan pandemi

Baca juga: Tim PKK DKI ajak warga aktif berkebun dengan gerakan tanam limau

Baca juga: BKKBN beri penghargaan kepala daerah dan PKK pada Harganas 2022

Baca juga: Anies sambut PKK dan Dasawisma se-DKI di JIS atas capaian rekor MURI


Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel