PKS bantah penolakan kenaikan BBM bentuk balas dendam kasus sapi

MERDEKA.COM. Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta membantah penolakan PKS atas rencana kenaikan harga BBM sebagai bentuk balas dendam terhadap kasus dugaan korupsi impor daging sapi yang menjerat Luthfi Hasan Ishaaq.

Buktinya, kata dia, tahun lalu mereka tetap menolak kebijakan itu walaupun tidak ada kader yang ditahan.

Selain itu, Anis Matta juga menyangkal tudingan bahwa PKS melakukan politik pencitraan dengan menolak kenaikan harga BBM. Menurutnya, penolakan ini lebih merupakan bentuk ijtihad PKS melihat banyaknya persoalan yang belum diselesaikan.

"Tahun ini terlalu sederhana. Pemerintah ingin menaikkan harga BBM tapi tidak melakukan penyelesaian di hulu. Kalau pada 2005, zamannya Pak JK, waktu itu ada kebijakan komprehensif berupa pengalihan penggunaan minyak tanah ke gas. Tahun ini kan tidak ada, hanya memindahkan subsidi BBM menjadi subsidi sosial," papar Anis Matta di Medan, Senin (17/6).

Menurut Anis, pemerintah masih belum  percaya diri untuk menaikkan harga BBM seperti tahun lalu. Meski sudah mendapat lampu hijau dari legislatif, pemerintah tetap mengembalikan keputusan itu ke DPR.

"Itu kan bentuk ketidak-pede-an," ucapnya.

Soal adanya kader PKS di daerah yang mendukung kenaikan harga BBM, Anis mengatakan  partai membebaskan sikap mereka. Alasannya, perdebatan soal kebijakan ini hanya terjadi di tingkat pusat.

"Kalau kita lihat perdebatannya ada di pusat. Saya rasa ya (terserah pada masing-masing kepala daerah), karena kebijakannya ada di pusat," ujar dia.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.