PKS: Kandungan Babi di Vaksin AstraZaneca Turunkan Kepercayaan Publik

Dedy Priatmojo, Anwar Sadat
·Bacaan 2 menit

VIVA – Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher menyoroti keputusan Majelis Ulama Indonesia yang membolehkan penggunaan vaksin AstraZeneca meski mengandung unsur Babi. Netty mengaku khawatir akan adanya temuan ini yang bisa berdampak pada turunnya kepercayaan masyarakat terhadap vaksin.

"Sebelum adanya temuan ini, sudah banyak masyarakat yang tidak percaya dengan vaksin. Pernyataan MUI bahwa vaksin AstraZeneca tetap dapat digunakan meski mengandung babi, tetap saja akan mempengaruhi kepercayaan sebagian besar masyarakat " kata Netty, kepada wartawan Selasa 23 Maret 2021

Selain soal kandungan babi ini, menurut Netty pemerintah juga masih punya pekerjaan rumah untuk meyakinkan masyarakat soal kepastian aman atau tidaknya vaksin AstraZeneca. Masyarakat saat ini masih bertanya-tanya mengenai keamanan vaksin ini.

"Beberapa negara sudah menunda untuk menggunakan vaksin AstraZeneca karena khawatir adanya dugaan soal keamanan dan efek samping yang ditimbulkan," ujar Netty.

Dia menambahkan, "Ini juga akan jadi PR besar bagi pemerintah untuk meyakinkan masyarakat agar masyarakat percaya dan mau divaksinasi. Sangat penting bagi pemerintah untuk mengedepankan transparansi agar masyarakat bisa benar-benar percaya" jelas Netty.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera atau PKS ini juga meminta agar pemerintah kembali mengedukasi masyarakat mengenai program vaksinasi ini. Pemerintah harus bisa melawan informasi yang tidak benar mengenai COVID-19.

"Pemerintah harus terus menggalakkan edukasi di tengah masyarakat. Pemerintah memiliki tugas untuk menangkis segala informasi yang tidak akurat dengan data dan penjelasan yang lengkap. Cara-cara persuasi juga harus dikedepankan agar masyarakat bersedia divaksinasi tanpa ada paksaan" ujar Netty

Sebelumnya, Vaksin AstraZeneca yang didatangkan dari Inggris, sempat menuai polemik. Di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat mengeluarkan fatwa bahwa vaksin merek AstraZeneca haram karena mengandung tripsin babi pada proses pembuatannya. Kendati haram, namun boleh alias mubah digunakan jika dalam kondisi darurat.

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak ragu menggunakan vaksin AstraZeneca.

Selain dari MUI, juga izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EAU) terhadap penggunaan vaksin AstraZeneca di Indonesia dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Masyarakat luas diminta untuk tidak menjadikan polemik masalah adanya perbedaan pendapat fatwa tentang kehalalan vaksin AstraZaneca.

Sementara itu, Perusahaan biofarmasi AstraZeneca menyatakan bahwa vaksin COVID-19 buatannya tidak mengandung produk turunan babi maupun produk hewani lainnya.

Siaran pers AstraZeneca yang diterima di Jakarta, Selasa, juga menyebutkan bahwa semua tahapan produksi vaksin vektor virus tersebut tidak bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya.