PKS Khawatir Kenaikan Harga BBM Berdampak Maraknya Praktik Perdukunan

Merdeka.com - Merdeka.com - Anggota Fraksi PKS DPRD Depok Supariyono mengaku khawatir kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bisa berdampak pada maraknya praktik perdukunan di masyarakat. Hal itu terjadi karena masyarakat ingin menyelesaikan permasalahan terutama soal ekonomi dengan cara cepat.

"Nanti akan banyak warga yang miskin dan pengangguran, banyak kejahatan. Dan juga perlu dicatat, biasanya dalam suasana ini praktik perdukunan akan marak. Banyak warga yang ingin cepat selesai solusinya dengan cara yang instan, ini perlu diantisipasi," katanya, Mingggu (11/9).

Supariyono menuturkan apa yang diungkapkan bukan omong kosong. Karena hal itu terungkap ketika dirinya berinteraksi dengan masyarakat dan mendapatkan fakta demikian. "Ya di lapangan begitu, di kampung. Jadi saya banyak interaksi dengan masyarakat," ungkapnya.

Ditegaskan, hal itu terjadi di kalangan masyarakat Kota Depok kendati tidak semua. Menurutnya, masih adanya masyarakat Depok yang percaya dengan perdukunan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan.

"Biasanya, ini terkait dengan tingkat pendidikan masyarakat," ujarnya.

Masyarakat dengan tingkat pendidikan yang bagus dan maju kata dia tidak menggunakan praktik perdukunan sebagai jalan keluar masalah. Namun, diakui dia di kalangan masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah, masih ditemui yang menggunakan praktik perdukunan.

“Mereka ingin cari solusi yang instan. Nah saya kira ini lebih berbahaya karena kemusyrikan itu dosanya tidak diampuni,” tegasnya.

Supariyono mengatakan, masyarakat yang masih percaya praktik perdukunan di Depok cukup banyak. Namun dia enggan menyebutkan wilayah pastinya.

“Dan saya bisa mengatakan itu cukup banyak, di Depok. Dan itu berbanding lurus dengan tingkat pendidikan masyarakat. Kalau yang tingkat pendidikan rendah biasanya itu banyak,” katanya.

Dia juga menyoroti dampak sosial dari kenaikan BBM terhadap ketahanan keluarga. Dimana akan banyak kepala keluarga kehilangan pekerjaan dan berdampak pada emosi sehingga bisa terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Kemudian juga akan terjadi daya beli masyarakat rendah sehingga memunculkan potensi masyarakat miskin.

“Satu dan dua bulan kedepan baru terasa daya beli masyarakat berkurang,” katanya.

Di tempat yang sama, Bendahara Umum DPD PKS Depok, Ade Supriatna menambahkan, pihaknya ikut merasakan kegelisahan warga akan potensi kenaikan harga kebutuhan pokok yang dipicu kenaikan ongkos produksi dan sektor transportasi, dan ada acaman tumbuhnya warga miskin baru. Yang dikhawatirkan juga adalah ancaman terjadinya stunting akibat keluarga yang tidak mampu memenuhi gizi karena rendahnya daya beli masyarakat.

“Ancaman bertumbuhnya warga miskin baru dengan daya beli yang rendah, balita yang mengalami stunting, mengiringi kebijakan yang sangat tidak pro rakyat kecil ini,” katanya. [ded]