PKS Sebenarnya Partai Islam Mazhab Gado-Gado

TEMPO.CO, Jakarta - Sejak berdirinya pada 1998, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah partai Islam gado-gado. Orang-orang dengan latar belakang aliran Islam berbeda berkumpul menjadi satu di partai ini. Tak ada aliran yang dominan.

Menurut dosen Universitas Indonesia yang juga pengamat PKS, Arief Munandar, orang dengan pemahaman agama seperti apapun bisa masuk PKS. Di partai ini, ada orang berlatarbelakang Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan aliran lainnya.

"Kalau mau tahu komposisi PKS dari aliran apa saja, bisa lihat di Dewan Syariah PKS. Itu bisa kelihatan," kata Arief dalam sebuah diskusi di kantor Tempo, Selasa 5 Februari 2013.

Arief lalu menunjuk beberapa nama yang bisa menunjukan beragamnya aliran Islam dalam PKS. Hidayat Nur Wahid, misalnya. Mantan Presiden PKS yang kini menjadi Ketua Fraksi PKS di Dewan Perwakilan Rakyat ini berlatar belakang Muhammadiyah. Adapun Tifatul Sembiring, Presiden PKS setelah Hidayat, berlatar belakang Persis. Tifatul kini menjadi Menteri Informasi dan Komunikasi.

Bahkan, kata Arief, tak banyak yang tahu kalau Ketua Majelis Syuro PKS, KH Hilmi Aminuddin, punya latar belakang keluarga DI/TII. Ayah Hilmi, Danu Muhammad Hasan, adalah salah seorang komandan gerakan separatis yang digagas Kartosoewirjo itu.

"Jadi PKS benar-benar merupakan melting pot (wadah peleburan)," kata Arief yang menulis disertasi mengenai PKS untuk menyelesaikan kuliah S3 di FISIP UI pada 2004 silam.

Meski mempunyai latar belakang aliran yang berbeda, sulit untuk menentukan aliran apa yang dominan di PKS. Sebab dalam kenyataannya corak pemikiran aktivis PKS lebih banyak dipengaruhi Hasan Al-Banna, pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir.

Al-Banna, kata Arief, pernah mengatakan siapapun ulama atau mazhab yang dalilnya paling kuat, itulah yang digunakan. "Jadi tidak heran jika kader PKS berhaji pakai mazhab Syafi'i. Tapi ibadah lain dia pakai mazhab lain yang dia yakini lebih kuat dalilnya," ujar Arief lagi.  

AMIRULLAH

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.