Plan Indonesia Dorong Mekanisme Perlindungan Anak

Jakarta (ANTARA) - Country Director Plan Indonesia Peter la Raus mendorong dibangunnya mekanisme perlindungan anak di tingkat akar rumput dengan memperhatikan aspek pencegahan yang melibatkan warga dan anak-anak.

"Kasus dugaan kekerasan seksual yang menimpa RI, yang akhirnya meninggal dunia, harus dijadikan pelajaran serius. Semua pihak, termasuk pemerintah di tingkat lokal harus memperkuat aspek pencegahan kekerasan agar kejadian serupa tidak menimpa anak-anak lainnya," kata Peter la Raus melalui pesan elektronik diterima di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, selama ini, peraturan dan kebijakan tentang perlindungan anak yang ada di tingkat kabupaten dan kota cenderung berfokus pada penanganan kasus dan rehabilitasi korban saja, sedangkan aspek pencegahan kurang mendapatkan perhatian.

Namun, Plan Indonesia tetap mengapresiasi keseriusan aparat kepolisian dalam menuntaskan kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa RI.

"Sebagai organisasi yang fokus pada pemenuhan hak dan perlindungan anak, Plan Indonesia berharap orang yang terlibat dalam kasus itu segera ditemukan dan diberikan hukuman maksimal," katanya.

Menurut dia, sejak 2009, Plan Indonesia bersama warga dan pemerintah lokal di sembilan kabupaten telah membangun mekanisme perlindungan anak berbasis masyarakat, yang dinamakan Komisi Perlindungan Anak tingkat Desa (KPAD). Sejauh ini, 167 KPAD terbentuk di sembilan kabupaten di Jawa dan Nusa Tenggara.

"Melalui KPAD, masyarakat di tingkat desa diberikan pelatihan tentang perlindungan anak sehingga orang tua dan aparat pemerintahan lokal lebih sensitif mendeteksi adanya potensi kekerasan di lingkungannya," katanya.

Menurut data Plan Indonesia, sepanjang 2012, tercatat 63 kasus kekerasan terhadap anak. Dari jumlah itu, 17 kasus dirujuk ke kepolisian atau rumah sakit.

"Mekanisme perlindungan anak berbasis warga itu telah diadopsi oleh beberapa pemerintah kabupaten di luar wilayah pendampingan Plan Indonesia," pungkasnya.(ar)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.