Planet Sembilan Cuma Ilusi

Lazuardhi Utama, Misrohatun Hasanah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sebuah planet yang disebut Planet Sembilan baru saja mengalami pukulan telak karena tim analisis objek yang sangat jauh, menyatakan bahwa bukti keberadaan Planet Sembilan tidak ada. Astronom menganggap adanya orbit aneh di luar tata surya sebagai bias seleksi dalam pengamatan.

Sebelumnya pengamat melihat planet yang dianggap bertanggung jawab sebagai pemilik orbit aneh di tata surya bagian luar, mengutip dari situs Science Alert, Rabu, 17 Februari 2021.

Baca: Cari Alien, NASA Bakal Menghadapi Teror 7 Menit

Planet Sembilan muncul pada tahun 2016, ketika astronom Konstantin Batygin dan Michael Brown dari Caltech menerbitkan sebuah makalah di The Astronomical Journal, membahas sebuah kasus planet yang belum ditemukan di bagian luar Tata Surya.

Mereka menemukan adanya objek lain yang jauh di luar orbit Neptunus. Objek-objek ini disebut Extreme Trans-Neptunian Objects (ETNO). Mereka memiliki orbit elips yang sangat besar, tidak pernah melintas lebih dekat ke Matahari dan berayun lebih jauh dari 150 unit astronomi.

Planet Sembilan menurut perhitungan mereka seharusnya berukuran sekitar lima hingga 10 kali massa Bumi, mengorbit pada jarak antara 400 hingga 800 unit astronomi.

Karena letak planet yang sangat jauh, ditambah langit yang sangat besar, tidak akan mudah untuk menemukan Planet Sembilan. Jadi pencariannya masih berlangsung.

ETNO juga sulit diketahui keberadaannya karena benda-benda ini lebih kecil dari sebuah planet dan lebih redup. Ketika mereka menjauh dari Matahari, kita tidak memiliki peluang untuk melihat mereka. Berangkat dari sini beberapa astronom percaya bahwa ada bias seleksi.

"Karena ETNO mengikuti orbit yang sangat elips, dan kecerahannya menurun seperti 1/r4, mereka hampir selalu ditemukan dalam beberapa dekade perihelion," tulis para peneliti dalam makalah mereka.

Selain itu, survei teleskopik mengamati area langit yang terbatas, pada waktu tertentu dalam setahun, hingga kedalaman yang terbatas. Efek ini menghasilkan bias seleksi yang signifikan.

Simulasi awal yang dijalankan oleh Batygin dan Brown didasarkan hanya pada enam ETNO, yang dikumpulkan dari bermacam-macam survei dengan fungsi seleksi yang tidak dipublikasikan, dengan kata lain setiap bias seleksi tidak jelas.

Survei yang lebih baru telah dilakukan dengan cermat tentang fungsi seleksi mereka. Meskipun tidak ada satu survei pun yang menemukan cukup ETNO untuk membentuk populasi statistik yang komprehensif, menggabungkan survei dapat mengarahkan para ilmuwan ke kesimpulan yang lebih kuat.