Platform digital jadi kunci perkembangan profesional tenaga pendidik

Zoom Video Communications, Inc. melalui keterangannya pada Jumat, mengumumkan laporan terbaru mengenai pentingnya institusi-institusi pendidikan di wilayah Asia Pasifik memprioritaskan perkembangan profesional para tenaga pendidik, khususnya dalam hal pemanfaatan teknologi untuk mengajar.

Baca juga: Belva Devara jatuh cinta ke dunia pendidikan karena Ruangguru

Laporan ini juga menunjukkan bagaimana platform digital menjawab dua kebutuhan yang membantu meningkatkan kualitas pengalaman pelatihan bagi tenaga pendidik. Hal ini termasuk memindahkan pelatihan ke kanal-kanal online agar mudah diakses oleh tenaga pendidik yang memiliki waktu terbatas, serta membawa pelatihan ke dalam ruang kelas, di mana rekaman kelas dapat terus dipantau untuk memberikan umpan balik terhadap pengajar.

Solusi ini lahir sebagai respon terhadap gaya belajar mengajar tradisional di kelas secara offline yang semakin sulit dilakukan. Dunia pendidikan harus berkembang pesat secara luas untuk meminimalisasi gangguan belajar bagi jutaan pelajar di dunia.

Di balik layar, tenaga pendidik dan administrator perlu bekerja lebih keras untuk mendigitalisasi kurikulum dan menyesuaikan kerangka pendekatan cara mengajar dengan realita baru di dunia pendidikan. Meski kelas offline kembali berjalan, banyak sekolah di Asia Pasifik, termasuk Indonesia,kini tetap menerapkan gaya belajar hybrid.

Baca juga: HarukaEdu tawarkan pendidikan tinggi online harga terjangkau

Hal ini mengungkap bagaimana pelajaran penting yang diambil selama pandemi akan menjadi panduan kunci menuju inovasi pendidikan di wilayah ini.

Laporan yang diumumkan dalam acara tahunan Zoom APAC Education Summit, menyatukan pelajaran-pelajaran penting dari transisi ke gaya belajar online selama pandemi, serta rekomendasi yang dapat membantu tenaga pendidik dan administrator dalam membentuk masa depan pendidikan hybrid. Riset ini dilakukan oleh Intelligence Business Research Services (IBRS) dan diselenggarakan oleh Zoom.

Melalui pendekatan kualitatif, laporan ini ingin membuka wawasan mengenai dampak yang jarang didiskusikan terhadap tenaga pendidik dan administrator di wilayah ini, dengan mengambil masukan dari pemangku kepentingan seperti guru, pimpinan di bidang kurikulum, pimpinan di bidang teknologi dan inovasi, serta jajaran pimpinan universitas.

“Pandemi telah mendemonstrasikan fleksibilitas yang sangat besar dalam sektor pendidikan kita, yang meliputi betapa cepatnya institusi beralih ke perangkat digital untuk memberikan pengalaman belajar yang konsisten dan dapat diakses oleh para pelajar,” ucap IBRS Advisor Dr. Joe Sweeney.

Baca juga: Astrie Ivo: "Imunisasi Jiwa" Cegah Kecanduan Games

“Untuk membantu para tenaga pendidik dalam mengatur gaya belajar yang senantiasa berubah, penting untuk mengintegrasikan berbagai platform dan solusi digital ke dalam sebuah ekosistem kohesif yang dapat mengakomodasi pembelajaran secara langsung maupun virtual," tambah dia.

Head of APAC Zoom Ricky Kapur mengatakan bahwa Zoom percaya pendidikan harus dapat diakses oleh semua orang.

“Hal ini juga berarti mendukung tenaga pendidik dengan platform teknologi yang sesuai, sekaligus menavigasi masa depan dunia pendidikan di lingkup pasca-pandemi, yang mungkin berbeda-beda untuk setiap institusi," kata Ricky.

Ricky menjelaskan dalam laporan bersama IBRS, teknologi komunikasi sangat penting untuk memudahkan tenaga pendidik dalam memberikan instruksi jarak jauh dengan lebih efektif, bermakna dan dengan cara yang membuat para pelajar merasa lebih terlibat.

Baca juga: Kiat sukses dapat kerja untuk para lulusan baru

Poin penting laporan

Poin-poin penting dari laporan ini meliputi fokus pada screen time yang bermakna. Artinya, dari semua institusi yang diwawancarai, muncul pendapat kuat bahwa screen time perlu diatur oleh sekolah dengan jelas. Telah teridentifikasi tantangan bagi sekolah dalam memastikan keterlibatan digital memiliki tujuan dan seimbang terhadap bentuk keterlibatan lainnya.

Kemampuan perangkat kolaborasi dan video yang ada dapat dimanfaatkan untuk mengukur screen time dan mengidentifikasi area untuk pengembangan.

Kemudian materi belajar yang disampaikan dengan metode drag and drop tidak lagi efektif. Pada awal pandemi, banyak tenaga pendidik yang hanya membuat versi digital dari materi-materi belajar yang telah ada dan mengunggahnya ke dalam online learning management systems (LMS) untuk disampaikan. Namun, materi belajar yang disampaikan dengan metode "drag and drop" tersebut seringkali tidak mudah dipahami oleh para pelajar.

Baik sekolah maupun perguruan tinggi melaporkan bahwa dibutuhkan perubahan terhadap pembuatan materi belajar untuk mendukung gaya belajar hybrid, tidak hanya terhadap medium penyampaiannya saja. Tenaga pendidik juga merasa lebih mudah untuk membagikan materi belajar online dengan satu sama lain dan berkolaborasi mengenai cara terbaik untuk mengajar jarak jauh.

Baca juga: Lebih penting bakat atau kerja keras agar sukses?

Poin selanjutnya adalah kesetaraan akses masih menjadi isu penting. Seluruh institusi pendidikan yang diwawancarai menyampaikan bahwa beberapa pelajar mengalami kesulitan terhubung atau tidak memiliki perangkat yang layak untuk memperoleh keterlibatan lebih tinggi saat belajar online.

Meski hal ini menjadi persoalan investasi nasional dalam infrastruktur, beberapa sekolah melakukan perubahan terhadap bagaimana mereka menghemat kuota saat mengajar secara digital, seperti penggunaan video yang lebih pendek dan berukuran kecil, serta materi belajar yang telah dikompresi.

Lalu ada poin pembentukan norma sosial baru dalam timeshifted learning. Banyak institusi kesulitan menyeimbangkan kesediaan waktu tenaga pendidik dengan ekspektasi pelajar, mengingat para pelajar menerapkan norma sosial digital terhadap cara berkomunikasi dengan teman-teman mereka, serta interaksi dengan tenaga pendidik.

Hal ini menetapkan ekspektasi yang tidak realistis bagi tenaga pendidik untuk merespon pesan larut malam. Maka dari itu, penting untuk berinvestasi dalam solusi pendidikan yang mendukung timeshifted learning melalui berbagai medium komunikasi.

Terakhir adalah poin kebutuhan untuk memprioritaskan pengembangan profesional para tenaga pendidik. Institusi yang tertinggal dalam pemanfaatan teknologi menemukan bahwa kendala waktu untuk pengembangan profesional menjadi isu yang paling parah.

Kebiasaan suatu generasi dalam mengajar juga turut menimbulkan kekhawatiran akan kemungkinan tenaga pendidik yang berusia lanjut enggan menerima pelatihan untuk menggunakan perangkat digital. Namun, banyak tenaga pendidik yang menunjukkan bahwa mereka ingin terus menerima pengembangan profesional dari jarak jauh, yang telah mereka alami selama pandemi.

Baca juga: Pentingnya membangun komunikasi dengan anak

Metodologi

Untuk hasil riset ini, IBRS melakukan 12 wawancara case study secara detail antara bulan Januari dan Februari 2022. Wawancara dilakukan dengan sekumpulan pemangku kepentingan; curriculum leads, kepala teknologi dan inovasi, kepala belajar-mengajar, dan lain-lain.

Pada seluruh kasus, IBRS berbincang dengan setidaknya satu orang yang terlibat dalam kurikulum dan praktik belajar-mengajar dari berbagai institusi. IBRS juga memilih beberapa institusi di Asia Pasifik dengan beragam status ekonomi. Institusi ini meliputi Monash University di Australia, Mentari Intercultural School di Indonesia – yang menawarkan kurikulum International Baccalaureate dan kurikulum Cambridge – serta La Salle Green Hills, sekolah katolik swasta di Filipina.

Informasi lainnya juga tergambar dalam lebih dari 60 wawancara dan 390 responden survei sebagai bagian dari riset IBRS yang terus berlanjut di tahun 2021. IBRS merupakan perusahaan dengan spesialisasi konsultasi di bidang teknologi informasi dan teknologi dan berbasis di Australia.

Baca juga: Ahli: Kesehatan mental adalah fondasi untuk masa depan

Baca juga: Psikolog sarankan waktu makan anak tanpa gawai

Baca juga: Pentingnya pahami perkembangan sosial emosional anak di masa transisi