Pledoi Habib Rizieq Singgung Kasusnya Balas Dendam Politik soal Ahok

·Bacaan 2 menit

VIVA – Eks Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab kembali menjali sidang dalam perkara kerumunan di Petamburan Jakarta dan Megamendung Bogor. Sidang kali ini agendanya pembacaan nota keberatan atau pledoi.

Membacakan pledoi, Habib Rizieq bilang kasus hukum pelanggaran protokol kesehatan yang menjeratnya adalah balas dendam politik.

Dia menyampaikan demikian karena FPI yang dipimpinnya menggelar demonstrasi yang dikenal aksi 4 November 2016 atau 411 dan 2 Desember 2016 (aksi 212). Dalam demonstrasi ini, ia menekankan adanya tuntutan terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok agar diadili dalam kasus penistaan agama.

Gerakan ini berlanjut pada perhelatan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2017 silam. Saat itu, ormas FPI yang dipimpinnya menyatakan sikap tegas untuk tidak berpihak pada Ahok yang mendapat dukungan penuh dari pemerintah.

"Ketika Ahok si penista agama menjadi salah satu Calon Gubernur DKI Jakarta dan didukung oleh para oligarki, yang saat itu sukses menggalang dukungan mulai dari Presiden, dan menterinya, Panglima TNI dan Kapolri, serta jajarannya. Juga seluruh aparatur sipil negara (ASN) di DKI Jakarta yang diwajibkan memilih Ahok," kata Habib Rizieq saat membacakan pledoi, Kamis 20 Mei 2021.

Menurut dia, sejak saat itu, ia dan rekan-rekan FPI jadi target utama kriminalisasi dengan memunculkan rekayasa kasus.

"Kami menjadi target operasi intelejen hitam berskala besar. Kami sebut intelejen hitam karena mereka tidak bekerja untuk keselematan Bangsa dan Negara, tapi hanya untuk kepentingan oligarki," jelas dia.

Pun, ia menambahkan, dalam pilkada yang baik tercermin dari sikap dan perangainya. Maka itu, komitmen untuk tidak memilih Ahok merupakan hal yang wajar karena sudah menistakan agama, terlebih masyarakat Jakarta mayoritas beragama Islam.

"Kami tidak mau seorang penista agama yang bersikap arogan dan korup, serta sering berucap kata kasar dan kotor. Jadi, pemimpin Ibu Kota sekaligus menjadi kepanjangan tangan oligarki di Ibu Kota," lanjut Habib Rizieq.

Habib Rizieq mengatakan beberapa kasus rekayasan terus muncul sejak itu. Hal ini yang berujung dirinya menjadi terdakwa dalam kasus kerumunan di PN Jakarta Timur. Belum lagi perkara lain terkait swab tes di RS Ummi, Bogor.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel