Pleidoi Bripka RR: Saya Amankan Senjata Cegah Brigadir J Ribut dengan Kuat Maruf

Merdeka.com - Merdeka.com - Terdakwa Ricky Rizal Wibowo alias Bripka RR membantah ikut merencanakan pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J. Bripka RR menyampaikan hal tersebut saat membacakan nota pembelaan atau pleidoi kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (24/1).

Bripka RR menegaskan, tujuan mengamankan kembali senjata api milik Brigadir J semata mata untuk mencegah terjadinya keributan lanjutan antara Brigadir J dengan Kuat Maruf.

Namun aksinya itu justru diasumsikan bentuk kehendak dan rencana sebagai ajudan yang sudah terlatih untuk memuluskan dan mendukung kehendak Ferdy Sambo yang berencana meminta bantuan untuk membunuh Brigadir J di Jakarta.

"Jika saya berniat untuk mengamankan kembali senjata Almarhum Nofriansyah Yosua Hutabarat akan lebih masuk akal bagi saya untuk meletakkan senjata tersebut dalam tas Tumi milik saya, sehingga senjata tersebut selalu dalam penguasaan saya," ujar Bripka RR.

Bripka RR juga mengatakan tidak pernah melarang Brigadir J mengambil senjata kembali.

"Saya tidak pernah menyampaikan kepada siapapun bahwa jangan sampai almarhum Nofriansyah Yosua Hutabarat mengambil senjatanya kembali," ujar dia.

Bripka RR Tak Bisa Menolak Perintah Putri Candrawathi

Dia menceritakan, tak bisa bisa menolak permintaan Putri Candrawathi yang memerintah untuk siap-siap dan ikut mengantar pulang ke Jakarta pada 8 Juli 2022. Sebagai seorang bawahan menurut dia, hal itu sudah menjadi wajar untuk memenuhi tugas dari seorang pimpinan dalam hal ini Putri Candrawathi sebagai istri dari Kadiv Propam Polri.

"Perintah yang disampaikan jelas dan tidak ada kaitannya dengan tuduhan yang mengatakan saya sudah mengetahui dan menghendaki kemungkinan dilakukan sesuatu terhadap almarhum Nofriansyah Yosua Hutabarat, serta tidak ada hubungannya dengan perintah back up yang Penuntut Umum ambil dari keterangan setelah tiba di Jakarta," ujar Bripka RR.

Bripka RR menerangkan, perintah mendadak tentu mengakibatkan semua dilakukan secara terburu-buru, termasuk menurunkan barang-barang dan sekaligus senjata api yang telah diamankan.

"Karena khawatir adanya keributan lanjutan antara almarhum Nofriansyah Yosua Hutabarat dengan Om Kuat pada malam sebelumnya, saya letakkan di dashboard mobil LM bersamaan dengan meletakkan senjata steyer AUG yang memang biasa diletakkan di mobil Ibu Putri," ujar dia.

Reporter: Ady Anugrahadi/Liputan6.com [gil]