PLN Listriki 2 Desa di Sulawesi Selatan

Liputan6.com, Jakarta - PLN berupaya mencapai target pemerataan kelistrikan (rasio elektrifikasi) 100 persen hingga 2020. Salah satunya dengan menjalankan program Listrik Desa (Lisa).

General Manager PLN UIW Sulawesi Selatan Tenggara Barat (Sulselrabar) Ismail Deu mengatakan, Program Lisa tersebut menyasar warga Desa Dappana, Kelurahan Lalabata Rilau, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Dia optimistis seluruh desa di wilayah kerja PLN UIW Sulselrabar akan teraliri listrik hingga akhir 2019. Dengan demikian, target rasio elektrifikasi 100 persen pada 2020 tercapai.

“Semoga dari daerah ini akan muncul generasi yang bisa menjadi penerus pemimpin bangsa. PLN menargetkan di HUT RI ke-75 seluruh desa di Sulselabar berlistrik,” kata Ismail, di Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Untuk melistriki warga Desa Dappana dengan potensi 46 pelanggan, PLN memancang 42 tiang TM dan 11 tiang TR sekaligus memasang 1 trafo dengan total daya 50 kVA.

Tidak hanya itu, PLN juga menarik Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 2.60 kms dan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 2.95 kms.

 

Kendala

PLN unit induk distribusi Jawa Timur memiliki beberapa program percepatan, salah satunya listrik desa atau biasa disebut Lissa. (Foto: Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Untuk mengalirkan listrik di wilayah tersebut, PLN menghadapi kendala akses jalan yang rusak dan medan yang terjal. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai desa tersebut adalah 45 menit dari Kota Soppeng.

Menurut dia, hadirnya listrik ke desa akan berdampak positif dalam meningkatkan taraf ekonomi daerah. Untuk itu, PLN berharap agar warga setempat membantu dalam menjaga pasokan listrik agar tidak mengalami gangguan.

“Kami mohon bantuan kepada masyarakat untuk turut memelihara listrik, terutama jika ada pohon yang mendekati jaringan kiranya dapat merelakan pohonnya untuk dipotong. Karena jika tidak akan dapat mengganggu kelangsungan pasokan listrik,” ucapnya.

PLN Perkuat Listrik Papua dengan PLTS

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang tersebar di Nusa Tenggara Timur. (Liputan6.com/Ola Keda)

PLN meningkatkan pemerataan kelistrikan (rasio elektrifikasi) di Papua dan Papua Barat. Caranya dengan memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang tersebar di 151 lokasi.

Direktur Regional Maluku dan Papua, Ahmad Rofik, mengatakan pembangunan PLTS ditandai dengan kontrak antara PLN dengan KOS Sky-Tritama, dan Konsorsium Telkominfra - Pracom - Canadian Solar. Kontrak ini menunjukkan keseriusan PLN dalam meningkatkan rasio elektrifikasi Papua.

“Konsentrasi kami adalah bagaimana agar masyarakat di pedalaman Papua bisa segera menikmati listrik dengan cepat," kata Rofik, di Jakarta Selasa (26/11/2019).

Penandatanganan kontrak antara PLN dengan beberapa perusahaan tersebut menggunakan kontrak Kesepakatan Harga Satuan (KHS), di mana pengadaan dan pemasangan PLTS tersebar di 151 lokasi.

Sementara itu range kapasitas PLTS sebesar 10 Kilo Watt Peak (KWP) – 150 KWP yang tersebar menjadi beberapa zonasi, yakni Zona Timika, Zona Merauke, Zona Sorong dan Zona Jayapura.

"Mengingat kondisi geografis Papua yang cukup ekstrem, sehingga dibutuhkan ketepatan dalam pemilihan jenis pembangkit. Untuk itu kami memilih PLTS yang dibangun secara komunal sesuai dengan kebutuhan zonasi masing-masing," ungkap Rofik.

Direktur Utama Telkominfra Bob Apriawan mengungkapkan, PLN cukup serius dalam mengembangkan EBT. Pihaknya yakin dengan arah energi yang bersih, maka kami juga berusaha mengembangkan kemampuan di area EBT.

“Ini adalah salah satu wujud sumbangsih kami bersama PLN untuk warga Papua agar bisa menikmati listrik dengan cepat," katanya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: