PLN raih dukungan finansial ADB untuk tekan emisi karbon

·Bacaan 3 menit

PT PLN (Persero) menggandeng Asian Development Bank atau ADB untuk memperoleh dukungan finansial dalam menekan emisi karbon di sektor kelistrikan, sekaligus mendukung target pemerintah Indonesia mewujudkan karbon netral pada 2060.

Dukungan ini direalisasikan dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini dan Director General Southeast Asia Department ADB Ramesh Subramaniam di sela rangkaian COP 26, di Glasgow, Skotlandia, Senin (1/11/2021) waktu setempat.

"Kami sangat optimistis target dekarbonisasi bisa tercapai dengan adanya kerja sama yang baik antara PLN dan ADB. Ini merupakan langkah yang agresif dalam PLN mencapai net zero emission," kata Wakil Menteri BUMN Pahala Mansury dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Selasa.

Lingkup kerja sama PLN dan ADB meliputi studi kelayakan penuh yang mencakup aspek teknis dan finansial dari pengurangan pembangkit listrik tenaga batu bara.

Selanjutnya evaluasi struktur Energy Transition Mechanism (ETM), mencari program atau mekanisme lain yang sesuai, dan merancang program bantuan teknis transisi yang adil.

Kerja sama ini akan berlaku tiga tahun dan bisa ditindak lanjuti kemudian. Ke depan, kedua belah pihak akan membahas lebih spesifik terkait rencana PLN dalam mengurangi porsi PLTU dan beralih ke energi bersih.

Pahala mengatakan kerja sama dengan ADB menjadi amunisi tambahan bagi PLN untuk bisa mempercepat target penurunan emisi karbon di sektor kelistrikan.

Sementara itu, Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini menyampaikan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam mengelola perubahan iklim, seperti yang tertuang dalam skenario business as usual (BAU) emisi Indonesia akan meningkat di atas 4 miliar ton karbon dioksida per tahun pada 2060.

Sektor transportasi dan kelistrikan adalah dua sektor penyumbang emisi dalam skenario tersebut.

"Pada 2060, emisi sektor listrik bisa mencapai 0,92 miliar ton karbon dioksida per tahun dan emisi sektor transportasi bisa mencapai 0,86 miliar ton karbon dioksida per tahun," jelas Zulkifli.

Indonesia telah berkomitmen dalam menekan emisi karbon dengan menetapkan target netralitas karbon pada 2060 dan mewujudkan komitmen Nationally Determined Contribution (NDC) pada 2030.

Vice President ADB Ahmed Saeed mengatakan pihaknya sudah bekerja sama dengan Indonesia lebih dari 50 tahun, sehingga kerja sama dengan PLN kali ini merupakan kesempatan baik untuk bisa bersama-sama mencapai transisi energi menuju energi bersih.

"Kesempatan ini sangat baik bagi kami dan PLN dalam mendukung Indonesia menuju transisi energi dari energi yang tinggi karbon menjadi energi bersih," ucap Saeed.

Dia juga mengatakan Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara yang menjadi mitra ADB dalam proyek percontohan Energy Transition Mechanism.

Program ini merupakan program dukungan ADB dalam pengurangan karbon yang bertujuan untuk menggunakan pembiayaan publik-swasta untuk mempercepat pensiun pembangkit listrik tenaga batu bara dan menggantinya dengan yang bersih dan terbarukan sumber energi.

"ADB baru-baru ini menyelesaikan studi pra-kelayakan ETM dan sekarang mengerjakan studi kelayakan penuh," ujar Saeed.

Setelah penandatanganan nota kesepahaman tersebut PLN dan ADB akan mengembangkan program kerja sama tahunan.

Pada 2022 dan seterusnya, PLN dan ADB bakal merancang peta jalan dalam rangka menghentikan penggunaan batu bara guna mencapai netralitas karbon pada 2060 atau lebih cepat.

Baca juga: Dirut PLN paparkan program dekarbonisasi di COP-26 Skotlandia
Baca juga: Pemerintah: nuklir direncanakan masuk strategi energi karbon netral
Baca juga: PLN dukung netral karbon dengan mempensiunkan PLTU batu bara
Baca juga: Luhut optimis Indonesia akan capai target "net zero emission" 2060

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel