PLN Sulap 5.200 PLTD Jadi Pembangkit Energi Baru Terbarukan

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT PLN (Persero) akan menyulap 5.200 Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi pembangkit berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT). Langkah Konversi ini merupakan upaya perusahaan untuk mengurangi emisi karbon dan porsi EBT dalam bauran energi yang ditargetkan 23 persen pada 2025.

Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan, ada sekitar 5.200 unit mesin PLTD PLN yang terpasang di wilayah Indonesia, tersebar di 2.130 lokasi dengan potensi untuk dikonversi ke pembangkit berbasis EBT sebesar ±2 GW. Program Konversi PLTD menuju pembangkit EBT akan dilakukan secara bertahap.

“Ini merupakan upaya strategis PLN untuk mendorong bauran energi baru terbarukan guna meningkatkan penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan,” kata Zulkifli, di Jakarta, Senin (2/11/2020).

Selain, meningkatkan bauran EBT, konversi PLTD ke EBT ini juga akan meningkatkan ketahanan energi nasional, karena tidak lagi mengandalkan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sebagian besar masih diimpor.

“Bukan hanya dari sudut pandang operasi bisnis PLN yang lebih efisien, tetapi juga akan mengurangi belanja negara di sektor Bahan Bakar Minyak (BBM) yang sebagian besar diimpor. Demikian pula sejalan dengan program Pemerintah untuk membangun Indonesia sentris maka listrik akan hadir merata sampai ke pelosok tanah air,” papar Zulkifli.

Manfaat besar yang didapat daerah terpencil setelah beralih ke EBT adalah ramah lingkungan, selain itu pasokan listrik tersedia 24 jam sehingga akan membuka peluang pembangunan ekonomi baru dalam skala lokal. Sejumlah potensi sumber daya alam yang menjadi komoditas andalan daerah juga dapat tumbuh karena ketersediaan listrik yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Industri wisata, perikanan, agrobisnis, terbukanya jaringan telekomunikasi akan hadir sampai ke pelosok

Pada tahap pertama, PLN akan melakukan konversi terhadap PLTD di 200 lokasi dengan kapasitas 225 Megawatt (MW). Konversi tahap awal ini dilakukan dengan memilih mesin PLTD yang telah berusia lebih dari 15 tahun dengan mempertimbangkan kajian studi yang telah dilakukan oleh PLN. Sementara, pada tahap kedua dan ketiga masing-masing 500 MW dan 1.300 MW.

“Konversi PLTD ini merupakan bagian dari upaya PLN mengeksplorasi sumber energi ramah lingkungan dan menggali potensi energi setempat, serta memperhitungkan potensi pengembangan dan konsumsi listrik di masa mendatang di wilayah tersebut,” tambah Zulkifli.

Metode Pelaksanaan

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Bandung, Jawa Barat (dok: PLN)
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Bandung, Jawa Barat (dok: PLN)

Metode pelaksanaannya menggunakan analisis geospasial, mulai dari pemetaan titik-titik sebaran PLTD eksisting, pemetaan potensi sumber energi terbarukan di wilayah tersebut, yang dikombinasikan dengan potensi pertumbuhan ekonomi regional di titik yang telah diidentifikasi tersebut.

Konversi dari pembangkit PLTD menjadi pembangkit EBT mempunyai beragam tantangan, karena melibatkan pembangkit dalam jumlah yang sangat besar, dan titik-titiknya berada di wilayah yang relatif paling sulit, yakni wilayah terluar, terdepan dan tertinggal (3T) tadi. Masing-masing PLTD yang sekarang masih digunakan memiliki pola operasi yang berbeda-beda tergantung jam nyala, termasuk keterbatasan infrastruktur dan telekomunikasi menjadi tantangan yang juga harus diselesaikan.

Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM RI, Ego Syahrial memberikan apresiasi atas berbagai program PLN yang dilakukan guna meningkatkan pemanfaatan energi ramah lingkungan.

“Saya berterima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PLN yang selalu mendukung pemerintah dalam mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi di Indonesia dengan terus berpartisipasi meningkatkan penggunaan EBT,” tutup Ego.

Saksikan video pilihan berikut ini: