PLTN Bisa Bantu Indonesia Kejar Target Net Zero Emission

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko menyampaikan pentingnya energi nuklir dalam mendukung net zero emission di Indonesia.

"Karena target net zero emission itu tidak hanya target kita sebagai bagian dari dunia, tetapi juga target dari seluruh masyarakat. Jadi kita semua menyadari net zero emission itu tentu suatu target yang penting dalam konteks untuk menyelamatkan lingkungan dan menjamin kualitas hidup yang lebih baik," kata Laksana, dalam acara diskusi virtual 'Siapkah Energi Nuklir Mendukung Net Zero Emission di Indonesia?,' pada Selasa (16/11/2021).

Namun menurut dia, ketika bicara tentang teknologi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), maka harus ditentukan apa yang harus diadopsi.

"Apakah kita akan masuk ke PLTN generasi ketiga yang sudah terbukti secara teknologi dengan segala kekurangannya dibandingkan misalnya dengan generasi keempat. Tentu ini menjadi sesuatu yang perlu kita pikirkan bersama," lanjut Laksana.

Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya melihat langkah apa saja yang bisa dilakukan BRIN untuk berkontribusi dalam pembangunan PLTN di Indonesia.

Menurut Laksana, PLTN kini menjadi komoditas karena Indonesia dengan populasinya yang besar, perkembangan ekonomi yang semakin membaik, maka dibutuhkan pasokan energi yang dapat diandalkan.

"Dan tentu kita tidak bisa melakukan pembangunan PLTN yang basisnya dari riset yang baru kita mulai," Laksana memperingatkan.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Nuklir Bisa Dimanfaatkan untuk Pertanian

Selain berbahan baku fosil, Indonesia juga melirik untuk membangun Pembangkit Listrik Negara Nuklir (PLTN), terutama yang berbasis Thorium.
Selain berbahan baku fosil, Indonesia juga melirik untuk membangun Pembangkit Listrik Negara Nuklir (PLTN), terutama yang berbasis Thorium.

Nuklir ternyata tak melulu soal senjata. Nuklir bisa juga dimanfaatkan untuk pengembangans ektor pertanian dan industri. Oleh sebab perlu adanya pembelajaran kepada masyarakat mengenai untung rugi penggunakan nuklir.

Dalam konferensi pers virtual Seminar Keselamatan dan Keamanan Nuklir pada 26 Oktober 2020, Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Jazi Eko Istiyanto menjelaskan, selama ini persepsi masyarakat terkait nuklir hanya mengenai senjata pemusnah. Padahal kenyataannya tidak demikian.

"Tantangan pertama, persepsi masyarakat tentang nuklir ini diasosiasikan dengan senjata nuklir," kata Jazi.

Jazi mengatakan pemanfaat tenaga nuklir kini tidak hanya untuk persenjataan. Di Indonesia, tenaga nuklir dengan memanfaatkan radiasinya telah dimanfaatkan untuk pertanian.

Salah satunya pada benih padi beras Sidenuk karya Badan Tenaga Nuklir (Batan). Benih padi ini kata Jazi diberi radiasi nuklir untuk menghasilkan bibit yang masa tanamnya lebih cepat dan hasil yang maksimal. Bibit ini juga jadi lebih berdaya tahan saat mendapat serangan dari hama.

"Benih beras yang diradiasi nuklir, masa tanamnya jadi lebih singkat, lebih unggul, lebih tahan hama dan lain-lain," kata Jazi.

Selain itu, radiasi nuklir juga bisa dikembangkan pada dunia perikanan. Ikan-ikan yang akan diekspor sebaiknya diberikan sinar radiasi nuklir untuk meningkatkan kualitasnya.

Dia menjamin, ikan yang melalui tahapan radiasi sebelum dikirim tidak akan dikembalikan oleh negara tujuan ekspor. Sebab, radiasi dengan tenaga nuklir memungkinkan perlambatan dari pembusukan ikan.

"Kalau diradiasi jadi akan terlihat tambah lebih sehat. Kalau diekspor pasti tidak akan dikembalikan, karena banyak negara yang melakukan radiasi semacam ini," kata dia.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel