PLTS Komunal Siap Dibangun pada 3 Lokasi di NTT

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Deltamas Solusindo berkomitmen dengan PT PLN untuk membantu pengerjaan sekaligus memasok modul tenaga bagi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal di Nusa Tenggara Timur.

Sales Marketing PT Deltamas Solusindo Karjono mengatakan kemitraan dengan PLN tersebut mencakup pasokan PhotoVoltaic Module merk SolarQuest sebagai sumber tenaga PLTS.

"Modul tenaga surya yang dibuat secara robotik itu telah bersertifikat internasional IEC 61215 dan 61730," katanya dikutip dari Antara, Sabtu (20/2/2021).

Ia mengatakan proyek ini juga merupakan proyek Engineering, Procurement and Construction (EPC) pertama perseroan dengan PLN pada program PLTS komunal bersistem offgrid.

Menurut rencana, pengerjaan Proyek PLTS komunal ini akan berlangsung selama 8 bulan dan diperkirakan selesai 21 Agustus 2021.

Sumber energi terbarukan yang menggunakan produk pabrikan lokal ini diproyeksikan mampu menerangi desa di wilayah Sumba Timur dan Sumba Tengah.

Asisten Manager Komunikasi PLN wilayah NTT Lidya Natalya mengatakan proyek PLTS komunal ini akan berlangsung di tiga lokasi dalam dua wilayah di NTT.

"PLTS komunal ini nantinya terdapat di 27 titik yang menyebar di wilayah kota dan kabupaten provinsi Nusa Tenggara Timur," katanya.

Sebelumnya, pemerintah menyatakan kehadiran PLTS merupakan opsi terbaik untuk mengejar target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025 sekaligus mempercepat rasio elektrifikasi di Tanah Air.

Oleh karena itu, dalam strategi energi nasional untuk jangka menengah hingga 2035, PLTS akan mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan energi melalui pemberian insentif khusus.

Penjualan Listrik dari PLTS Atap ke PLN Masih Rendah

Teknisi melakukan perawatan panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atap Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (6/8/2019). PLTS atap yang dibangun sejak 8 bulan lalu ini mampu menampung daya hingga 20.000 watt. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Teknisi melakukan perawatan panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atap Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (6/8/2019). PLTS atap yang dibangun sejak 8 bulan lalu ini mampu menampung daya hingga 20.000 watt. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jateng dan DIY mencatat komposisi pembelian listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap on grid di Jawa Tengah masih minim.

Hingga tahun 2020, pembelian listrik dari PLTS Atap hanya 328 MHW atau 0,0013 persen dari total pembelian tenaga listrik PLN.

"PLTS Atap ini sudah mulai kami data tapi yang on grid-nya saja. Angkanya kecil banget, tapi semakin tahun semakin bertumbuh kembang," kata Manager Revenue Insurance dan Mekanisme Niaga, PLN UID Jawa Tengah dan DIY, Muhammad Hamzah, dalam Webinar Central Java Solar Day, Jakarta, Selasa (16/2/2021).

Hamzah merincikan, pada tahun 2016 komposisi pembelian listrik PLTS Atap hanya 10 MHW atau 0,00004 persen. Lalu naik menjadi 28 MHW atau 0,0001 persen di tahun 2017. Kemudian naik menjadi 39 MHW atau 0,0001 persen di tahun 2018.

Tahun 2019 kembali naik menjadi 67 MHW atau 0,0002 persen. Pada tahun 2020, terjadi peningkatan signifikan menjadi 382 MHW atau 0,0013 persen.

Hamzah mengatakan perkembangan PLTS Atap dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang signifikan. Sampai tahun 2020, sudah ada 138 entitas yang menjual listriknya ke PLN.

"PLTS Atap ini sungguh menggembirakan karena jumlahnya sudah 138 yang on grid atau 83 persen dari aneka listrik EBT," kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: