Plus Minus Penundaan Shopee Liga 1 2020 ke Awal 2021: Lebih Banyak Mudaratnya

·Bacaan 5 menit

Bola.com, Jakarta - PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) sepakat untuk kembali menunda lanjutan Shopee Liga 1 2020 dan Liga 2 2020. Tak tanggung-tanggung, penundaan dilakukan hingga empat bulan ke Februari 2021.

Keputusan itu diambil dalam rapat Komite Eksekutif (Exco) yang digelar Rabu (28/10/2020). Penundaan Shopee Liga 1 2020 dan Liga 2 2020 dianggap sudah tepat karena terkendala izin dari Kepolisian Republik Indonesia.

Seperti diketahui, medio November-Desember 2020 merupakan masa-masa yang krusial buat Polri. Selain dibebankan dengan strategi penekanan angka COVID-19, Polri juga akan fokus dalam pengamanan Pilkada serentak di Indonesia.

"Kami sebelumnya rapat dengan PSSI dan melihat perkembangan. November tahun ini izin dari kepolisian belum keluar. Jadi, kemungkinan tidak bisa jalan," Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (PT LIB), Akhmad Hadian Lukita.

"Izin untuk Desember 2021 juga kemungkinan lebih berat karena ada Pilkada dan tahun baru. Untuk Januari 2021, masih dilihat perkembangannya. Namun, paling aman itu pada Februari 2021," jelas Lukita.

Keputusan penundaan dengan durasi yang panjang sudah tepat ketimbang memberikan harapan tanpa dibarengi kepastian. Namun, tetap saja PT LIB tak sepenuhnya bisa menggaransi apakah Shopee Liga 1 2020 dan Liga 2 2020 digelar tepat waktu pada Februari 2021.

"Kami sedang merumuskan ini dulu. Untuk sementara, kami undur dulu sampai Februari 2020. Soal itu, kami juga menunggu masukan dari klub," ucap Lukita.

Artinya, keputusan ini tak sepenuhnya melegakan pihak-pihak yang terlibat dalam Shopee Liga 1 2020 dan Liga 2 2020. Lantas, apa saja plus minus yang akan muncul dari keputusan penundaan kompetisi ke 2021?

Plus: Menjamin Kesehatan

Pemain Bhayangkara FC saat mengikuti latihan jelang melawan Persija Jakarta pada laga Shopee Liga 1 di Stadion PTIK, Jakarta, Jumat (13/3). Bhayangkara gelar latihan jelang hadapi Persija. (Bola.com/Yoppy Renato)
Pemain Bhayangkara FC saat mengikuti latihan jelang melawan Persija Jakarta pada laga Shopee Liga 1 di Stadion PTIK, Jakarta, Jumat (13/3). Bhayangkara gelar latihan jelang hadapi Persija. (Bola.com/Yoppy Renato)

Penundaan Shopee Liga 1 2020 dan Liga 2 2020 ke awal 2021 merupakan keputusan bijak. Selain terkendala izin Kepolisian Republik Indonesia, angka penyebaran COVID-19 di Indonesia sampai saat ini masih tinggi.

Statistik mencatat, sampai Jumat (30/10/2020), masih terjadi rataan kasus baru mencapai lebih dari 3 ribuan di Indonesia. Artinya, menggelar kompetisi sepak bola belum sepenuhnya aman.

Sepak bola sebagai olahraga yang berpotensi melakukan kontak fisik tentu saja tidak sepenuhnya aman. Apalagi PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) belum betul-betul mampu menyiapkan protokol kesehatan yang baik untuk lanjutan kompetisi.

Situasi ini membuat kesehatan dan keselamatan pemain yang menjadi taruhan. Kompetisi sepak bola juga berpeluang menambah beban tenaga medis jika menimbulkan klaster baru penyebaran COVID-19.

Persebaya Surabaya menjadi klub yang konsisten tidak mendukung lanjutan Shopee Liga 1 2020. Presiden Persebaya, Azrul Ananda, berpendapat situasi Indonesia belum layak untuk melanjutkan kompetisi.

"Dalam situasi ini, sangat berisiko ada aktivitas sepak bola di semua tingkatan," tegas Azrul.

Indonesia memang tidak bisa dibandingkan dengan negara tetangga yang berani melanjutkan kompetisi. Secara geografis dan kultur masyarakat yang berbeda dari negara lain membuat Indonesia saat ini atau dalam beberapa bulan ke depan belum aman dari pandemi COVID-19.

Minus: Merugikan Banyak Pihak

1. Riko Simanjuntak - Gelandang berusia 28 tahun ini  dipastikan akan memanjakan Marko Simic melalui umpan-umpannya dari sisi sayap kanan. Bahkan pada musim lalu, Simic cenderung hanya dilayani oleh Riko Simanjuntak. (Bola.com/Yoppy Renato)
1. Riko Simanjuntak - Gelandang berusia 28 tahun ini dipastikan akan memanjakan Marko Simic melalui umpan-umpannya dari sisi sayap kanan. Bahkan pada musim lalu, Simic cenderung hanya dilayani oleh Riko Simanjuntak. (Bola.com/Yoppy Renato)

Di sisi lainnya, penundaan Shopee Liga 1 2020 dan Liga 2 2020 ke awal 2021 ternyata lebih banyak mudaratnya (merugikan). Persiapan klub yang sudah maksimal dalam dua bulan terakhir otomatis berantakan.

Faktor ekonomi menjadi yang paling terpukul dari penundaan Shopee Liga 1 2020 dan Liga 2. Klub tentu harus menyelesaikan kewajibannya berupa membayar gaji pemain sampai durasi kontrak yang tertera.

Padahal, pemasukan klub sudah terhenti sejak kompetisi dihentikan. Aliran dana yang masuk dari sponsor mulai menipis untuk biaya operasional klub seperti menjalankan SK PSSI nomor SKEP/48/III/2020 berupa kewajiban membayar gaji pemain sebesar 25 persen

Dalam hitungan bulan ke depan klub yang tak punya fondasi finansial bakal mengalami kebangkrutan. Jika hal itu terjadi, maka akan sulit kembali untuk membangun skuat untuk lanjutan kompetisi.

"Untuk gaji bulan depan kami tidak tahu mau bayarnya bagaimana. Habis kami, bangkrut. Kalau merujuk pada SK PSSI yang kembali ke 25 persen itu," kata Sekretaris Umum Persiraja, Rahmat Djailani.

"Bayar yang 25 persen itu juga kami bingung. Mau mengambil uangnya dari mana? Sebab, tidak ada pemasukan sama sekali," tegas Rahmat.

Pemain juga bakal dirugikan dengan penundaan kompetisi ke 2021. Program yang sudah mulai disesuaikan dengan latihan di luar ruangan, kembali harus melakukan sesi latihan mandiri.

Hal ini tentu saja bakal memengaruhi kualitas dan performa sang pemain. Selain itu, pemain terancam akan kehilangan satu-satunya mata pencaharian dalam hidupnya.

Klub bisa saja membatalkan kontrak secara sepihak atau atas dasar kesepakatan bersama karena terkendala masalah finansial. Situasi ini membuat para pemain berkualitas, khususnya pemain asing, mencari penghidupan yang lebih layak di luar Indonesia.

Citra Indonesia sebagai negara yang akan menggelar Piala Dunia U-20 2021 juga bakal rusak. Penundaan demi penundaan kompetisi bakal membuat negara peserta dan FIFA ragu akan keamanan dan kesiapan Indonesia.

Solusi Terbaik

Striker Persija Jakarta, Marko Simic, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Mitra Kukar pada laga Liga 1 di SUGBK, Jakarta, Minggu (9/12). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)
Striker Persija Jakarta, Marko Simic, merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Mitra Kukar pada laga Liga 1 di SUGBK, Jakarta, Minggu (9/12). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Solusi terbaik yang bisa diambil PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) adalah menghentikan Shopee Liga 1 2020 dan Liga 2 2020 dengan status Keadaan kahar (Force majeure). Keputusan ini tentu bisa membuat klub-klub peserta mengambil sikap.

Klub bisa memutuskan nasib pemain sehingga tak dibayangi kerugian finansial yang bisa berdampak pada masa depan klub. Selain itu, klub juga bisa menyelesaikan kewajiban kepada pihak ketiga terkait kerja sama.

"Liga 1 2020 dihentikan saja dengan catatan force majeur dan membebaskan klub dari kewajiban terhadap pemain, ofisial, dan pihak ketiga," kata Sekretaris Umum Persiraja, Rahmat Djailani, kepada Bola.com, Kamis (29/10/2020).

Pelatih Madura United, Rahmad Darmawan, juga menyebut penghentian kompetisi 2020 bisa memudahkan PSSI dan PT LIB untuk fokus ke persiapan musim baru. Menggelar musim baru pada awal 2021 dianggap masih relevan dan tidak akan mengganggu persiapan Piala Dunia U-20 2021.

"Sebelum Piala Dunia U-20 2021 hitunglah putaran pertama selesai. Menjelang putaran kedua ada jeda untuk Piala Dunia U-20 2021. Pemain tetap latihan dan evaluasi terus dilakukan untuk putaran kedua," tegas Rahmad Darmawan.

Selain itu, memulai musim baru juga akan meringankan beban PSSI dan PT LIB. Keduanya tak akan lagi dibebani tanggung jawab untuk menyelesaikan musim 2020 karena berpotensi mengganggu event-event yang melibatkan Timnas Indonesia sepanjang 2021.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini