PM Australia dukung inisiatif Indonesia kembangkan energi bersih

Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mendukung inisiatif Indonesia untuk pengembangan energi bersih, yang merupakan salah satu isu prioritas yang diangkat dalam KTT G20 di Bali kali ini.

“Berinvestasi dalam pengembangan energi bersih akan meningkatkan ketahanan energi dan memperkuat upaya bersama terhadap perubahan iklim,” kata Albanese, dalam penutupan KTT B20 di Nusa Dua, Bali, Senin.

Baca juga: Presiden Jokowi apresiasi dukungan Australia untuk G20 Indonesia

Sebagai negara yang kaya sumber energi terbarukan, dia mengatakan, Australia bekerja untuk menumbuhkan industri ekspor energi bersih.

Kerja sama energi bersih dengan Indonesia maupun negara lain, kata dia, akan dapat menumbuhkan ekonomi dan meningkatkan standar hidup masyarakat, dengan tetap memperhatikan pengurangan emisi CO2.

“Tidak ada yang kebal dari tantangan global perubahan iklim, karena itu kita semua memiliki peran untuk mencari solusi,” tutur dia.

Baca juga: Presiden Jokowi undang Australia berinvestasi di industri baterai

Lebih lanjut, Albanese memuji kepemimpinan Indonesia dalam mengembangkan peta jalan transisi energi G20 yang dinilainya bisa mengirimkan pesan kuat ke pasar global dan memberi investor kepercayaan diri untuk meningkatkan ambisi mereka, dengan mengetahui bahwa negara anggota G20 berkomitmen untuk mempercepat transisi menuju energi bersih.

“Itulah yang dibutuhkan di masa yang penuh ketidakpastian ini… bukan hanya tekad untuk menghadapi badai tetapi juga ambisi dan visi untuk berlayar melampauinya,” tutur Albanese.

Dalam KTT B20, Presiden Indonesia Joko Widodo mengundang Albanese untuk berinvestasi di industri baterai kendaraan listrik. Jokowi mengatakan telah menawarkan potensi kerja sama industri baterai kendaraan listrik mengingat Indonesia memiliki cadangan nikel dan Australia sebagai salah satu produsen litium terbesar di dunia.

Baca juga: Australia sumbang 50 juta dolar AS untuk Dana Pandemi

Namun, dia menggarisbawahi bahwa hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah harus dilakukan di Indonesia.

Sebagai pemilik 23 persen cadangan nikel dunia, Indonesia telah mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik dari hulu ke hilir dengan target produksi mobil listrik mencapai 600 ribu unit dan 2,45 juta sepeda motor listrik pada 2030.

Indonesia diperkirakan bisa mengurangi 3,8 juta ton emisi CO2 dengan pengembangan ekosistem kendaraan listrik.