PM Bangladesh resmikan megaproyek tol layang yang didanai China

Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina pada Sabtu (12/11) meresmikan pembangunan proyek jalan tol layang yang didanai China, lapor Xinhua pada Senin.

Bergabung dari Ganabhaban, kediaman resminya di Dhaka, sang PM secara virtual membuka pekerjaan konstruksi Jalan Tol Layang Dhaka-Ashulia sepanjang 24 km itu.

Proyek tersebut, yang diperkirakan menelan biaya 175,53 miliar taka (1 taka = Rp147,37), telah disetujui dalam upaya untuk memudahkan keluar dan masuknya kendaraan dengan cepat dari dan ke Dhaka, serta memfasilitasi perdagangan transit dengan negara-negara regional.

Duta Besar China untuk Bangladesh Li Jiming mengatakan proyek tersebut akan meningkatkan infrastruktur transportasi Bangladesh dan mendorong peran vitalnya dalam konektivitas regional.

Proyek itu menggemakan tujuan Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI) China dalam meningkatkan konektivitas infrastruktur, serta menjadi contoh lain tentang bagaimana rencana Visi 2041 Bangladesh dan BRI berintegrasi dan menguntungkan rakyat di kedua negara.

Bridges Division, divisi pemerintah Bangladesh yang mengurusi pembangunan jembatan di negara itu, telah menandatangani nota kesepahaman dengan China National Machinery Import and Export Corporation (CMC) untuk membangun jalan tol layang dari Bandar Udara Internasional Hazrat Shahjalal di Dhaka ke Ashulia di pinggiran bagian utara ibu kota itu.

Proyek ini akan dilaksanakan dengan bantuan keuangan China melalui skema pemerintah ke pemerintah.

Rencana perbaikan jalan yang sudah ada sepanjang 14,28 km dan pembangunan stasiun tol, gerbang keluar dan masuk masuk tol, serta pekerjaan tambahan lainnya juga telah dimasukkan ke dalam proyek jalan tol layang itu, yang akan dilaksanakan dalam kurun lima tahun.

Saat selesai nanti, jalan tol layang tersebut akan memungkinkan 40 juta orang dari 30 distrik di Bangladesh untuk masuk dan keluar Dhaka dengan cepat dan mudah.

Proyek ini juga diperkirakan dapat meningkatkan produk domestik bruto (PDB) negara itu sebesar 0,21 persen, menurut dokumen proyek, demikian Xinhua Global Service.