PM Belanda Mark Rutte Minta Maaf Lantaran Kasus Harian COVID-19 Naik

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Amsterdam - Perdana Menteri Belanda Mark Rutte meminta maaf atas "kesalahan penilaian" dalam membatalkan sebagian besar pembatasan selama pandemi COVID-19 di negara tersebut.

Dikutip dari laman BBC, Selasa (13/7/2021), pelonggaran tiga minggu lalu menyebabkan tingkat infeksi melonjak ke level tertinggi tahun ini.

Kala itu, aktivitas hiburan malam tetap dilanjutkan untuk sejumlah besar anak muda.

Pembatasan di bar, restoran, dan klub malam diberlakukan kembali pada Jumat mendatang.

Sebelumnya Mark Rutte menolak untuk disalahkan atas pembukaan tersebut, menggambarkannya sebagai "langkah logis".

Pada Sabtu 10 Juli, lembaga kesehatan masyarakat Belanda melaporkan lebih dari 10.000 kasus COVID-19, jumlah tertinggi dalam satu hari sejak Desember 2020.

Namun sejauh ini hal ini belum diterjemahkan ke dalam peningkatan yang signifikan dalam penerimaan rumah sakit, karena sebagian besar kasus baru terjadi di kalangan anak muda.

Kasus COVID-19 di Eropa Meningkat

Polisi mengontrol sertifikasi keluar pada orang yang lewat saat jam malam dimulai di Haarlem, Belanda (23/1/2021). Belanda memasuki fase terberat dari pembatasan anti-virus Corona hingga saat ini. (AFP/ANP/Koen van Weel)
Polisi mengontrol sertifikasi keluar pada orang yang lewat saat jam malam dimulai di Haarlem, Belanda (23/1/2021). Belanda memasuki fase terberat dari pembatasan anti-virus Corona hingga saat ini. (AFP/ANP/Koen van Weel)

Lebih dari 46% populasi orang dewasa Belanda -- kebanyakan dari kelompok usia yang lebih tua -- telah divaksinasi lengkap.

Sementara itu, Lebih dari 77% telah menerima setidaknya satu dosis.

Permintaan maaf Rutte datang ketika negara-negara di seluruh Eropa menghadapi peningkatan jumlah kasus varian Delta.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel