PM Ethiopia Beri Ultimatum Agar Kelompok Pemberontak Tigray Menyerah

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Jakarta - Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed memberi waktu kepada pasukan regional Tigrayan, 72 jam untuk menyerah sebelum militer memulai serangan di ibu kota regional Mekelle.

"Kami mendesak Anda untuk menyerah secara damai dalam waktu 72 jam," kata Abiy dalam pesan yang diposting di Twitter pada Minggu, 22 November malam setempat.

Pasukan Tigrayan tidak dapat segera dihubungi untuk dimintai komentar.

Seorang juru bicara militer mengatakan bahwa pasukan Ethiopia berencana akan mengepung Mekelle dengan tank dan mungkin menembaki kota itu guna memaksa pemberontak segera menyerah.

Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), yang menolak untuk menyerahkan kekuasaannya di wilayah utara, mengatakan pasukannya sedang memperkokoh kawasan kekuasaan.

Reuters tidak dapat mengkonfirmasi pernyataan terbaru tentang perang tersebut. Klaim oleh semua pihak sulit untuk diverifikasi karena komunikasi telepon dan internet terputus.

Pasukan federal Abiy telah merebut serangkaian kota selama pemboman udara dan pertempuran via darat, dan sekarang membidik Mekelle, kota dataran tinggi berpenduduk sekitar 500.000 orang tempat pemberontak bermarkas.

Konflik meletus pada 4 November 2020 dan telah menewaskan ratusan, mungkin ribuan orang, dan menyebabkan lebih dari 30.000 pengungsi ke negara tetangga, Sudan.

Roket telah ditembakkan oleh pemberontak ke wilayah tetangga Amhara dan melintasi perbatasan ke negara Eritrea.

Negara-negara asing telah mendesak perundingan, tetapi PM Ethiopia terus menekan dengan ofensif.

Tuntut Kelompok Tigray

Pengungsi Ethiopia beristirahat di wilayah Qadarif, Sudan, Rabu (18/11/2020). Badan Pengungsi PBB mengatakan konflik yang berkembang di Ethiopia telah mengakibatkan ribuan orang melarikan diri dari wilayah Tigray ke Sudan. (AP Photo/Marwan Ali)
Pengungsi Ethiopia beristirahat di wilayah Qadarif, Sudan, Rabu (18/11/2020). Badan Pengungsi PBB mengatakan konflik yang berkembang di Ethiopia telah mengakibatkan ribuan orang melarikan diri dari wilayah Tigray ke Sudan. (AP Photo/Marwan Ali)

Dalam pernyataannya pada Minggu malam, Abiy mengatakan bahwa selama apa yang dia sebut sebagai operasi penegakan hukum "semua tindakan pencegahan yang diperlukan telah diambil untuk memastikan bahwa warga sipil tidak dirugikan".

Dia mengatakan orang-orang Tigray sudah muak dengan apa yang terjadi dan mengimbau rakyat Mekelle untuk berdiri dengan pasukan federal dalam "membawa kelompok pengkhianat ini" ke pengadilan.

Abiy menuduh para pemimpin Tigrayan memberontak dan melawan otoritas pusat serta memulai konflik dengan menyerang pasukan federal di kota Dansha pada 4 November 2020.

Saksikan Video Berikut Ini: