PM Inggris Johnson Terima Dosis Pertama Vaksin AstraZeneca

Mohammad Arief Hidayat
·Bacaan 2 menit

VIVA – Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, pada Jumat, 19 Maret 2021, menerima dosis pertama vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca dan mendesak masyarakat untuk melakukan hal yang sama.

Setelah disuntik vaksin tersebut, Johnson mengatakan "tidak merasakan apa-apa."

Johnson, 56 tahun, menerima vaksin di rumah sakit yang sama tempat ia hampir setahun lalu dimasukkan ke unit perawatan intensif dan diberi oksigen melalui selang di hidungnya karena tertular virus corona dan jatuh sakit parah.

"Saya benar-benar tidak merasakan apa-apa. Itu sangat baik, sangat cepat," kata Johnson setelah menerima suntikan di Rumah Sakit St Thomas di London.

"Saya sangat merekomendasikannya. Kalau Anda mendapat pemberitahuan untuk menerima vaksin, pergilah untuk disuntik, itu yang terbaik bagi Anda, terbaik untuk keluarga Anda dan untuk semua orang."

Boris Johnson mengenakan masker hitam, kemeja dan dasi—dengan lengan baju digulung—ketika seorang perawat menyutikkan vaksin padanya.

Inggris, pada Jumat, memecahkan rekor pemberian terbanyak suntikan virus corona dalam satu hari.

Hampir setengah dari semua penduduk usia dewasa telah menerima satu dosis sehingga menjadikan Inggris sebagai salah satu negara tercepat di dunia yang melancarkan program vaksin.

Keberhasilan itu telah membantu Partai Konservatif yang berkuasa kembali unggul dari oposisi utama Partai Buruh dalam jajak pendapat, setelah perdana menteri tahun lalu dituduh bertindak terlalu lambat untuk menghentikan penyebaran virus.

Johnson menerima vaksin AstraZeneca ketika negara-negara Eropa pada Jumat kembali menggunakan vaksin AstraZeneca setelah badan-badan pengawas obatan mengatakan manfaat vaksin tersebut lebih besar daripada risikonya. Sebelum itu, laporan bermunculan baru-baru ini soal kasus pembekuan darah pada sejumlah orang yang menerima vaksin AstraZeneca.

Beberapa negara, termasuk Jerman dan Prancis, membatalkan keputusan mereka untuk sementara waktu menghentikan penggunaan vaksin AstraZeneca setelah laporan sekitar 30 kasus langka soal pembekuan darah di otak membuat para ilmuwan dan pemerintah bergulat untuk memastikan kemungkinan kaitan kasus itu.

Vaksin AstraZeneca, yang dikembangkan oleh para ilmuwan di Universitas Oxford, juga menjadi pusat ketegangan antara Inggris dan Uni Eropa, setelah Brussels menyatakan kemarahannya atas kurangnya pengiriman vaksin yang berasal dari Inggris itu. (ant)