PM Inggris melakukan isolasi mandiri saat AS berjuang atasi kenaikan kasus COVID-19

·Bacaan 3 menit

London (AFP) - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson melakukan isolasi mandiri setelah salah seorang kontaknya dinyatakan positif mengidap virus corona.

Hal itu terjadi ketika imbauan tinggal di rumah mulai berlaku untuk kota terbesar ketiga di Amerika Serikat pada Senin.

Infeksi global telah melonjak melewati angka 54 juta dengan lebih dari 1,3 juta kematian, dan lonjakan yang mengkhawatirkan telah memaksa pemerintah untuk memberlakukan kembali pembatasan pergerakan dan pertemuan yang sangat tidak populer dan secara ekonomi menghancurkan.

Eropa telah terpukul sangat keras oleh gelombang kedua pandemi, dengan pembatasan diberlakukan kembali - seringkali di tengah aksi protes - dari Yunani ke Inggris, di mana PM dan penyintas COVID-19 Johnson mengisolasi diri setelah melakukan kontak dengan seorang anggota parlemen yang kemudian dites positif terkena virus.

"Dia akan terus bekerja dari Downing Street," kata seorang juru bicara, seraya menambahkan bahwa perdana menteri, yang menghabiskan tiga malam dalam perawatan intensif selama serangan COVID-19 pada April, tidak memiliki gejala apa pun.

Di tempat lain di benua itu, Jerman memperingatkan bahwa tindakan anti-virus kemungkinan akan tetap berlaku selama beberapa bulan.

Di Prancis yang terpukul paling parah, Menteri Kesehatan Olivier Veran memperingatkan bahwa sementara tindakan pembatasan yang ketat telah membantu memperlambat virus, "kita belum menang melawan virus".

Kekhawatiran akan kebangkitan kembali virus juga tetap ada di beberapa bagian dunia yang sebagian besar telah mengendalikan beban kasus mereka, seperti di Australia, di mana sebuah klaster baru tiba-tiba muncul di kota yang telah berjalan tujuh bulan tanpa wabah besar.

Dan di Hong Kong, pemerintah semakin memperketat pembatasan mulai Senin atas jumlah orang di bar dan restoran, untuk menjaga agar tidak terjadi lonjakan.

Amerika Serikat, negara yang paling parah terkena dampak di dunia, melaporkan angka melampaui 11 juta kasus pada hari Minggu, menambahkan satu juta infeksi baru dalam waktu kurang dari seminggu.

Lonjakan mengejutkan telah memaksa kota dan negara bagian di seluruh penjuru negara untuk menerapkan pembatasan baru untuk mencoba dan menghentikan penyebaran penyakit, dengan peringatan tinggal di rumah mulai berlaku pada hari Senin di Chicago - kota terbesar ketiga di AS.

Kota New York, pusat wabah musim semi di AS, juga bergegas untuk menangkis gelombang kedua dengan pembatasan baru pada bar dan restoran.

Presiden Donald Trump, yang dikecam karena respons pandemi dari pemerintahannya, telah dipersalahkan atas upayanya yang semakin memperumit permasalahan dengan menolak untuk mengaku kalah dan bekerja sama dengan tim transisi Joe Biden. Ia menolak melakukan pengarahan penting bagi Presiden terpilih.

Mereka bahkan tidak diizinkan untuk berkonsultasi dengan ahli imunologi pemerintah terkemuka Anthony Fauci.

"Tentu saja, akan lebih baik" jika pembicaraan semacam itu bisa dimulai, Fauci mengatakan kepada CNN pada hari Minggu, mencatat bahwa virus tersebut dapat membunuh puluhan ribu lebih orang Amerika pada saat Biden menjabat pada 20 Januari.

Harapan untuk diakhirinya pandemi didorong oleh hasil uji coba kandidat vaksin oleh raksasa farmasi Pfizer dan mitranya dari Jerman, BioNTech, yang menunjukkan 90 persen efektif.

Ugur Sahin, salah satu pendiri BioNTech, mengatakan kepada BBC bahwa dia yakin dapat kembali ke kehidupan normal musim dingin mendatang jika penyerapan vaksinnya kuat.

"Musim dingin ini akan sulit" tanpa dampak besar dari vaksinasi, ia memperkirakan. Tetapi dikombinasikan dengan sejumlah perusahaan yang bekerja untuk meningkatkan pasokan, "kita dapat mengalami musim dingin normal (tahun) berikutnya".

Namun vaksin Pfizer dan BioNTech perlu disimpan pada suhu -70 derajat Celcius (-94 Fahrenheit), yang menghadirkan tantangan penyimpanan dan distribusi yang besar bahkan untuk negara-negara terkaya di dunia.

Vaksin saingan mereka Sanofi, namun, tidak akan membutuhkan suhu ekstrim seperti itu, kata kepala pembuat obat Prancis Olivier Bogillot, Minggu.

"Vaksin kami akan seperti 'vaksin flu," katanya kepada CNews. "Anda bisa menyimpannya di lemari es Anda."

Kandidat vaksin Sanofi dapat segera memulai uji coba Tahap 3, tambahnya. Sebelas kandidat sudah berada pada tahap itu, dan Bogillot mengatakan "satu laboratorium tidak akan mampu menyediakan dosis untuk seluruh planet".

"Kami membutuhkan beberapa pemenang di akhir persaingan ini."