PM Jepang Pertimbangkan Status Darurat Tokyo Akibat Kasus Tinggi COVID-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Tokyo - Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga mengatakan pada Senin, 4 Januari 2021 bahwa pemerintah akan mempertimbangkan untuk pengumuman keadaan darurat bagi wilayah metropolitan Tokyo. Alasannya karena kasus Virus Corona COVID-19 meningkat dan membebani sistem medis negara itu.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Senin (4/1/2021), jika kemungkinan deklarasi darurat itu disetujui maka akan jadi momen pembalikan PM Suga. Sebab, ia sebelumnya menolak langkah drastis seperti demikian, dengan dalih mempertahankan aktivitas ekonomi.

Jepang mengalami rekor 4.520 kasus baru pada 31 Desember. Tingginya infeksi COVID-19 itulah yang mendorong ibu kota, Tokyo, dan tiga prefektur tetangga meminta deklarasi darurat dari pemerintah nasional.

Wilayah ini sekarang menyumbang sekitar setengah dari kasus nasional baru.

"Bahkan selama tiga hari liburan Tahun Baru, kasus tidak turun di greater Tokyo area," kata Suga pada konferensi pers untuk menandai dimulainya tahun 2021. "Kami merasa bahwa pesan yang lebih kuat diperlukan."

Dia tidak mengatakan kapan pemerintah akan membuat keputusan, atau pembatasan apa yang akan ditetapkan.

Keadaan darurat pertama akibat Corona COVID-19, diumumkan musim semi lalu, berlangsung lebih dari sebulan. Saat itu, sekolah dan bisnis yang tidak terlalu penting ditutup.

Toshihiro Nagahama, seorang ekonom di Dai-ichi Life Research Institute, memperkirakan bahwa penangguhan selama sebulan akan mengurangi produk domestik bruto sebesar 2,8 triliun yen (US $ 27 miliar), atau tahunan 0,5 persen.

"Hilangnya PDB bisa membuat 147.000 orang kehilangan pekerjaan," tulisnya dalam sebuah catatan.

Saham Jepang jatuh pada hari pertama perdagangan tahun ini, bereaksi terhadap berita tentang potensi keadaan darurat.

Tantangan Bagi Olimpiade Tokyo, Jepang

Kapal tongkang membawa Cincin Olimpiade di Distrik Odaiba, Tokyo, Jepang, Jumat (17/1/2020). Cincin Olimpiade dengan tinggi 15,3 meter dan panjang 32,6 meter tersebut akan berada di sana hingga Olimpiade 2020 berakhir. (AP Photo/Jae C. Hong)
Kapal tongkang membawa Cincin Olimpiade di Distrik Odaiba, Tokyo, Jepang, Jumat (17/1/2020). Cincin Olimpiade dengan tinggi 15,3 meter dan panjang 32,6 meter tersebut akan berada di sana hingga Olimpiade 2020 berakhir. (AP Photo/Jae C. Hong)

Meskipun Jepang mengandalkan penutupan sukarela daripada jenis tindakan penguncian yang kaku yang terlihat di tempat lain di dunia, Suga mengatakan RUU akan diajukan ke sesi parlemen berikutnya untuk memberi lebih banyak batasan keadaan darurat, termasuk sanksi.

Meskipun jumlah kasus di Jepang lebih sedikit dibandingkan dengan banyak bagian Eropa dan Amerika, Suga memiliki tantangan untuk menjadi tuan rumah Olimpiade di Tokyo musim panas ini, sebab pandemi menyebabkan penundaan pertama Olimpiade pada tahun 2020.

Jepang bulan lalu mengatakan akan melarang sementara warga negara asing non-residen memasuki negara itu setelah deteksi Corona varian baru dari Inggris yang konon sangat menular.

Suga mengulangi pernyataannya terkait janji pemerintah untuk menjadi tuan rumah Olimpiade, dan mengatakan akan mulai memvaksinasi warga pada akhir Februari 2021.

Saksikan Video Berikut Ini: