PM Jepang Tak Percaya Virus Corona COVID-19 Tidak Kuat Cuaca Panas

Liputan6.com, Tokyo - Jepang sudah mencabut status darurat Virus Corona COVID-19. Kasus baru harian di Negeri Sakura juga sudah di bawah 100.

Saat ini, Jepang juga sudah masuk musim panas, dan sempat ada anggapan bahwa virus ini tidak kuat cuaca panas. Akan tetapi, pemimpin Jepang tidak percaya akan hal itu.

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mencontohkan Virus Corona masih menyebar di Timur Tengah.

"Kita tidak bisa lengah hanya karena musim panas, sebab infeksinya masih menyebar di Timur Tengah," ujar PM Abe seperti dikutip Kyodo, Senin (15/6/2020).

Bila melihat data Johns Hopkins University, kasus corona di Arab Saudi totalnya mencapai 127 ribu dan di Qatar hampir mencapai 80 ribu.

Di India, kasus juga terus meningkat hingga 332 ribu.

Indonesia pun yang iklimnya tropis juga sedang mengalami lonjakan kasus hingga tembus seribu kasus sehari. Padahal, sebelumnya kabinet Jokowi berkata virus corona tak kuat di Indonesia.

"Dari hasil modelling, cuaca Indonesia yang panas dan humidity tinggi maka untuk OOVID-19, itu nggak kuat," ujar Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada April lalu.

Target Vaksin COVID-19

Pejalan kaki terlihat di langit-langit cermin di pusat perbelanjaan di Tokyo (11/6/2020). Cuaca panas terus berlanjut di wilayah metropolitan karena suhunya diperkirakan akan naik menjadi 31 derajat Celsius (87,8 derajat Fahrenheit), menurut biro meteorologi Jepang. (AP Photo/Eugene Hoshiko)

Menteri Kesehatan Jepang mengatakan pada Jumat 5 Juni 2020 bahwa Jepang bertujuan menargetkan untuk penggunaan vaksin Corona COVID-19 pada Juni 2021. Ketika negara tersebut berusaha untuk sepenuhnya siap menjadi tuan rumah Olimpiade Tokyo, yang awalnya direncanakan untuk musim panas tahun ini tetapi harus ditunda selama satu tahun akibat pandemi SARS-CoV-2.

Penyakit pernapasan dipicu Virus Corona COVID-19, yang sejauh ini telah menelan hampir 400.000 jiwa di seluruh dunia, membuat para pembuat obat di seluruh dunia berjuang mengembangkan pengobatan atau vaksin untuk virus tersebut. 

"Kami akan mengamankan fasilitas produksi secara paralel dengan pengembangan vaksin yang dipercepat," ujar Menteri Kesehatan Jepang, Katsunobu Kato, kepada wartawan saat ia menguraikan rencana untuk membuat vaksin mulai digunakan pada akhir paruh pertama 2021.

Padahal biasanya, rencana untuk produksi vaksin sebenarnya disusun setelah keberhasilan pengembangan obat selesai. Demikian seperti dikutip dari Channel News Asia. 

Bulan lalu, Kabinet Perdana Menteri Shinzo Abe menyetujui anggaran tambahan kedua di mana Pemerintah Jepang telah mengalokasikan 146 miliar yen (Sekitar Rp 18 triliun) untuk produksi dan distribusi vaksin. 

Shionogi dan AnGes merupakan salah satu perusahaan farmasi Jepang yang mengembangkan vaksin untuk Virus Corona.

Selain itu, Amerika Serikat juga dilaporkan sedang merencanakan uji klinis besar-besaran yang melibatkan 100.000 hingga 150.000 sukarelawan secara total, dengan tujuan memberikan vaksin yang efektif pada akhir tahun ini.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: