PM Kanada Hapus Tweet Soal Iran Lantaran Berita Bohong di Medsos

Merdeka.com - Merdeka.com - Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau menghapus cuitannya yang berisi berita bohong mengenai hukuman mati massal di Iran.

Trudeau menjadi korban berita bohong yang disebarkan berbagai pengguna Instagram. Di Instagram terdapat berbagai unggahan menunjukkan seorang perempuan memegang bendera Iran dengan tulisan "Iran menghukum mati 15.000 pengunjuk rasa sebagai pelajaran keras untuk semua pemberontak".

Kejanggalan berbagai unggahan itu membuat pihak Instagram segera menandai unggahan-unggahan lain yang menunjukkan gambar perempuan itu. Pihak pemeriksa fakta independen juga menemukan unggahan-unggahan itu tidak memiliki informasi yang berdasarkan fakta.

Trudeau bukanlah satu-satunya korban berita palsu. Beberapa selebritas lain seperti Sophie Turner dan Viola Davis juga menjadi korban berita itu.

Namun sebelum memastikan fakta, Trudeau segera menulis cuitan Senin lalu yang bertuliskan "Kanada mengecam keputusan biadab rezim Iran untuk menjatuhkan hukuman mati pada hampir 15.000 pengunjuk rasa.

Tetapi selang 12 jam, kicauan itu segera dihapus.

"Unggahan tersebut diinformasikan oleh pelaporan awal yang tidak lengkap dan tidak memiliki konteks yang diperlukan. Karena itu, sejak saat itu telah dihapus," jelas seorang juru bicara pemerintah Kanada, dikutip dari CNN, Kamis (17/11).

Juru bicara itu menjelaskan cuitan yang ditulis Trudeau didasarkan pada keprihatinannya kepada para pendukung hak asasi manusia di Iran yang terancam hukuman pidana, dari hukuman tahanan hingga hukuman mati.

Meski kicauan Trudeau salah, namun kenyataannya terdapat beberapa anggota parlemen Iran yang menuntut agar pengadilan negara tidak memberikan keringanan hukum pada pengunjuk rasa.

Bahkan seorang pengunjuk rasa dijatuhi hukuman mati pengadilan Iran pekan ini karena diduga membakar gedung pemerintah. Sedangkan lima orang lainnya menerima hukuman penjara lima hingga 10 tahun dengan alasan “kejahatan terhadap keamanan nasional dan mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum”.

Pemerintah Kanada menunjukkan kekhawatiran mereka atas hak pengunjuk rasa di Iran.

“Kita tidak boleh melupakan fakta bahwa satu orang telah dijatuhi hukuman mati, dan bahwa anggota parlemen Iran tidak boleh menyerukan hukuman mati untuk dijatuhkan. Puluhan pengunjuk rasa telah dibunuh oleh pasukan keamanan rezim,” kata juru bicara pemerintah Kanada.

Javaid Rehman, Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia di Iran mengungkap pihak berwenang Iran telah menangkap 14.000 orang setelah unjuk rasa besar-besaran terjadi semenjak September lalu.

Sejumlah 2.000 orang juga telah didakwa pemerintah karena terbukti terlibat dalam unjuk rasa yang terjadi akibat kematian perempuan Iran berusia 22 tahun bernama Mahsa Amini.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]