PM Sri Lanka Mundur di Tengah Demo Anti Pemerintah dan Krisis Ekonomi

Merdeka.com - Merdeka.com - Perdana Menteri (PM) Sri Lanka, Mahinda Rajapaksa mengundurkan diri pada Senin setelah demo anti pemerintah berlangsung selama berminggu-minggu.

Sri Lanka dilanda kerusuhan sipil sejak Maret ketika demonstrasi berujung kekerasan. Warga Sri Lanka geram dengan kegagalan pemerintah mengatasi krisis ekonomi terburuk sejak negara itu merdeka dari Inggris pada 1948.

Kantor Rajapaksa merilis pernyataan terkait pengunduran diri tersebut.

"Beberapa saat yang lalu, Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa mengirim surat pengunduran dirinya ke Presiden Gotabaya Rajapaksa," jelas pernyataan tersebut, dikutip dari laman CNN, Selasa (10/5).

Dalam surat tersebut, Rajapaksa mengatakan dia mengundurkan diri untuk membantu pembentukan pemerintahan sementara.

"Sejumlah pemangku kepentingan telah menunjukkan solusi terbaik untuk krisis saat ini adalah pembentukan pemerintah sementara dari semua partai," jelasnya.

"Oleh karena itu, saya mengajukan pengunduran diri saya agar langkah-langkah selanjutnya bisa diambil sesuai dengan Konstitusi."

Pada Senin, massa pro pemerintah bentrok dengan demonstran di ibu kota Sri Lanka, Colombo. Bentrokan ini menyebabkan diberlakukannya jam malam di seluruh negeri, yang diumumkan sebelum Rajapaksa mengumumkan pengunduran dirinya.

Menurut kepolisian nasional, demonstran anti pemerintah menyerang bus yang membawa pejabat daerah yang berkunjung ke Colombo pada Senin pagi untuk menghadiri rapat dengan PM.

Sedikitnya 151 orang dilarikan ke rumah sakit setelah bentrokan tersebut, menurut Rumah Sakit Nasional Colombo. Menurut tim CNN di lapangan, tentara dikerahkan ke Colombo setelah bentrokan.

Selama beberapa bulan terakhir warga Sri Lanka harus mengantre panjang untuk membeli bahan bakar, tabung gas, makanan, dan obat-obatan yang kebanyakan berasal dari impor.

Terbatasnya mata uang tunai juga mempersulit impor bahan baku untuk sektor manufaktur dan memperburuk inflasi yang meningkat 18,7 persen Maret lalu.

Sri Lanka juga harus membayar utang luar negeri senilai USD 7 miliar tahun ini dari USD 25 miliar yang harus dilunasi pada 2026 nanti. Total utang luar negeri Sri Lanka mencapai USD 51 miliar. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel