Pohon Terbesar di Dunia Dibungkus Aluminium demi Terlindung dari Kebakaran Hutan California

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pohon terbesar di dunia dibungkus aluminium tahan api untuk melindunginya dari kebakaran hutan di California, Amerika Serikat (AS). Melansir The Sun, Senin (20/9/2021), spesies pohon General Sherman setinggi 84 meter ini adalah yang terbesar berdasarkan volume dan berusia sekitar 2,5 ribu tahun.

Kebakaran yang melanda Taman Nasional Sequoia di California berjarak hanya 1,6 kilometer (km) dari Giant Forest, sebuah area berisi dua ribu sequoia raksasa. Rebecca Paterson dari dinas pemadam kebakaran setempat mengatakan, "Kami mengantisipasi kebakaran akan terus meluas, semoga tidak terlalu cepat."

Sequoia sejatinya beradaptasi dengan api saat mereka melepaskan biji dari kerucutnya ke tempat terbuka yang terbakar untuk pohon baru. Tapi kekeringan, yang terkait perubahan iklim, membuat kobaran api begitu dahsyat hingga melahap habis pepohonan.

Kebakaran hutan ini telah berlangsung sejak Juli 2021. Kebakaran hutan di lima wilayah di California Utara telah berkembang jadi yang terbesar sepanjang tahun ini di AS, dan yang terbesar kedua dalam sejarah California, lapor SCMP.

Saat ini ada lebih dari 24 titik kebakaran di hutan California. Hampir 4,2 ribu personel dan lebih dari 24 helikopter penjatuh air telah ditugaskan menangani kebakaran yang penyebabnya masih diselidiki tersebut.

Tak ada korban jiwa yang dilaporkan, tapi beberapa petugas pemadam kebakaran dan warga sipil terluka dalam beberapa hari terakhir. Tim petugas keselamatan setempat memperingatkan bahwa kelelahan bisa saja terjadi, mendorong petugas agar bergerak cepat untuk pertempuran panjang dan memakan banyak tenaga.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Kebakaran Hutan di California

Petugas pemadam kebakaran membakar bahan bakar di Grass Valley, California, Rabu (25/8/2021). Kebakaran hutan California Utara yang telah membakar ratusan rumah bergabung dengan api di timur Los Angeles yang juga menghancurkan bangunan. (Elias Funez/The Union via AP)
Petugas pemadam kebakaran membakar bahan bakar di Grass Valley, California, Rabu (25/8/2021). Kebakaran hutan California Utara yang telah membakar ratusan rumah bergabung dengan api di timur Los Angeles yang juga menghancurkan bangunan. (Elias Funez/The Union via AP)

Kebakaran besar lain di California Utara, Caldor Fire, telah menghanguskan sekitar 877 km persegi wilayah hutan tersebut. Kobaran api mulai terjadi pada 14 Agustus 2021, dan telah menghancurkan hampir seribu bangunan di dekat Danau Tahoe, serta mendorong evakuasi massal di kota South Lake Tahoe, pekan lalu.

Presiden AS Joe Biden sudah melakukan survei terkait peristiwa kebakaran hutan di California. Biden mengatakan, kebakaran sepanjang tahun dan cuaca ekstrem lain merupakan realita krisis iklim yang tidak lagi dapat diabaikan. Ia menggarisbawahi perlunya tindakan tegas, serta mendesak untuk memerangi pemanasan global.

Biden juga melihat langsung kerusakan yang terjadi di California. Saat itu, helikopter yang dinaikinya, Marine One, terbang di atas lanskap kering yang berkabut akibat asap dari kebakaran hutan.

Desakan Mengatasi Perubahan Iklim

Dalam foto eksposur panjang ini menunjukkan bara api menyala pada lereng bukit saat Dixie Fire membakar dekat Milford di Lassen County, California, Amerika Serikat, Selasa (17/8/2021). Kebakaran hutan mengancam untuk menyebarkan ke beberapa wilayah di California utara. (AP Photo/Noah Berger)
Dalam foto eksposur panjang ini menunjukkan bara api menyala pada lereng bukit saat Dixie Fire membakar dekat Milford di Lassen County, California, Amerika Serikat, Selasa (17/8/2021). Kebakaran hutan mengancam untuk menyebarkan ke beberapa wilayah di California utara. (AP Photo/Noah Berger)

Topik memerangi perubahan iklim global disebut jadi agenda utama di Sidang Umum PBB ke-76 yang telah resmi dibuka pekan lalu, mengutip Al Jazeera. Para pemimpin dunia akan mendengar permohonan untuk mengurangi emisi secara besar-besaran.

Selain itu, memberi negara-negara miskin lebih banyak uang untuk mengembangkan energi bersih dan beradaptasi dengan dampak buruk perubahan iklim yang terus meningkat. "Saya tidak putus asa, tapi saya sangat khawatir," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Associated Press. "Kita berada di ambang jurang dan tidak dapat mengambil langkah yang salah."

Baru-baru ini, Guterres dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson jadi tuan rumah sesi tertutup dengan 35 hingga 40 pemimpin dunia untuk membuat negara-negara berbuat lebih banyak menjelang negosiasi iklim COP26. Negosiasi tersebut dirancang untuk jadi langkah selanjutnya setelah kesepakatan iklim Paris 2015.

Infografis Timbulan Sampah Sebelum dan Sesudah Pandemi

Infografis Timbulan Sampah Sebelum dan Sesudah Pandemi. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Timbulan Sampah Sebelum dan Sesudah Pandemi. (Liputan6.com/Trieyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel